Tersesat di Tshechu? Rahasia Wangdue yang Bikin Merinding

Liburan | 0 comments

Gue hampir nangis pas pertama kali nyampe di Wangdue. Angin dingin nembus jaket, tiket kertas nyaris terbang, dan crowds kayak pasar malam kecil.

Jujur, foto Instagram bohong banget. Warna kostum lebih terang, tapi bau dupa dan suara lonceng itu beda levelnya.

Masuk ke dalam kekacauan yang magis

Gue berdiri di antara barisan warga local yang nyanyi pelan. Suara mereka dalem, bergetar sampai tulang rusuk (ya, sampai merinding beneran).

Perjalanan dari Thimphu sekitar 72 km memakan waktu 3 jam. Jalanan melintas sungai dan jurang, pemandangan kadang kabut, kadang matahari terang.

Suasana saat mask dance dimulai itu kacau serunya. Kain sutra berbisik, topeng kayu berdentum, dan lantai tanah bergetar di bawah kaki.

Rahasia kecil dari orang lokal

Rahasia yang gue dapet: kue kukus di warung dekat dzong itu paling top. Mereka jual sepotong 20 ngultrum, dan rasanya meleleh di mulut.

Salah satu kesalahan konyol gue: gue pikir festival cuma nonton tari. Gue dateng tanpa termos. Teh panas abis dalam 10 menit, dan gue menggigil karena suhu turun ke 6°C.

Kalau gue bisa bilang ke diri sendiri, bawa termos, sepatu anti-lumpur, dan respek waktu. Biarpun jalan-jalan itu spontan, jangan lupa persiapan.

  • Jaket tebal dan lapisan thermal
  • Termos isi teh panas
  • Sepatu tahan air
  • Uang tunai kecil, dan kamera

Waktu acara biasanya 2-3 hari, dimulai pagi dan selesai sore. Kadang ada prosesi dini hari yang bikin suasana jadi sakral.

Aroma dupa, asap kemenyan, dan rempah dari makanan jalanan campur jadi simfoni. Lidah gue kebanjiran rasa pedas, gurih, dan sedikit manis.

Gue juga sempat nyasar ke gang kecil dekat dzong. Di situ ada nenek-nenek yang jual teh almond buatan rumahan. Cuma 30 ngultrum, dan rasanya kayak pelukan hangat.

Festival ini berada di dataran kira-kira 1.200 meter di atas laut. Koordinat kasar sekitar 27.47°N dan 89.75°E kalau mau pinjem GPS.

Suasana orang saling sapa, anak kecil lari-lari, dan mesti hati-hati kalau bawa tas. Gue hampir kehilangan dompet karena terbawa arus manusia.

Itu juga alasan kenapa gue rekomen pakai asuransi perjalanan. Asli, ketika dompet hampir hilang, klaim kecil bikin kepala gue tetap dingin.

Kalau lo mau plan trip pendek, cek referensi liburan buat ide rute. Dan jangan lupa, asuransi perjalanan itu worth it buat ketenangan.

Tiap langkah di festival ini berasa nonton sejarah hidup. Gerakan tari itu punya arti, dan kadang gue ikut nangis sendiri karena keindahannya.

Kalau lo serius mau datang, rencanakan 2-3 hari di kota ini. Jalan kaki sambil nyamperin warung, dan simpan momen di kamera.

Oh ya, satu lagi: link liburan bisa bantu lo cari destinasi lain setelah sini.

Akhirnya, festival ini bukan sekadar tontonan. Dia jadi memori panjang yang nempel di kulit.

Nanti kita ngopi, gue ceritain lagi detail anekdot konyol itu, sambil ketawa kecil.