Getana Tshechu: Festival Bhutan yang Bikin Jiwa Pecah

Liburan | 0 comments

Gue kira bakal dapat pura-pura tenang. Ternyata kerumunan menari malah bikin jantung ikut joget.

Bendera doa melayang, bau dupa menusuk, dan suara dram tiba-tiba seperti ledakan kecil di dada. (Jangan tanya kenapa gue hampir kehilangan paspor karena terlalu asyik nonton.)

Aku datang dengan ekspektasi foto yang rapi. Realitanya, pakaian penari penuh cat, keringat, dan tawa yang bikin merinding.

Kenapa Getana Tshechu itu beda

Getana Tshechu bukan sekadar tarian topeng. Ia adalah ritual yang hidup selama berabad-abad di lembah pegunungan.

Di sana, suhu pagi bisa 6°C dan siang bisa 18°C. Ketinggian tempat sekitar 2.300 meter bikin napas ngos-ngosan.

Suara alat musik tradisional seperti dram dan longsong beresonansi di udara. Bau dupa bercampur dengan wangi teh lokal yang manis.

Aku pegang kamera lawas. Gue salah besar saat menaruh kameraku di tas belakang. Dalam 10 menit, tas itu hampir jatuh dari bukit.

Kalau mau aman saat jalan-jalan, mending siapin asuransi perjalanan. Itu yang nyelametin gue dari panik ekstra.

Ritual, warna, dan bau yang bikin baper

Penari mengenakan topeng berwarna emas dan biru tua. Mereka bergerak lambat seperti cerita lama yang bergerak.

Tiap topeng punya suara sendiri di kepala gue. Kadang terdengar seperti tawa kakek, kadang seperti ketukan gong di hati.

Aku sempat ngobrol dengan seorang tetua lokal. Dia bilang festival itu memperingati dewa pelindung desa selama 3 hari.

Dia memberi rahasia kecil. Kalau mau lihat tarian paling privat, duduk sedikit ke kiri tribun utama. (Orang lokal jarang kasih tahu ini.)

Barang wajib yang harus dibawa saat ikut festival:

  • Jaket hangat karena angin seperti pisau.
  • Botol air 1 liter, karena jalan bisa 5 km bolak-balik.
  • Kamera dengan tali leher, bukan tas punggung.
  • Uang tunai kecil untuk makanan jalanan.

Gue juga rekomendasi cek jadwal sebelum berangkat. Festival biasanya di musim gugur, sekitar Oktober, dan berlangsung beberapa hari.

Kalau rencana liburan, keep it flexible. Dan pertimbangkan beli asuransi perjalanan untuk tenang.

Di akhir hari, lampu minyak berkedip seperti mata kecil di lembah. Gue pulang dengan jaket penuh bau dupa, dan kepala penuh cerita.

Satu hal lagi, rahasia lokal itu menyelamatkan gue dari crowd. Tempatnya kecil, tersembunyi, dan cuma ada dua meja teh.

Kita pulang sambil makan roti goreng hangat yang rasanya manis asin. (Masih ngidam sampai sekarang.)

Tutupnya? Gue tidak pulang dengan jawaban lengkap. Hanya sebuah undangan tak sengaja untuk ngopi dan cerita lagi besok.