Sat-Set! Cara Ngitung OEE Per Shift Kerja yang Gak Bikin Overthinking

Uncategorized | 0 comments

Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah pusing pas mau tahu bagaimana menghitung OEE per shift kerja waktu produksi lagi chaos?

Gini faktanya: data numpuk, mesin seliweran error, dan lo cuma punya satu sheet Excel doang.

Sat-set TL;DR: OEE = Availability x Performance x Quality.

Hitung tiap komponen per shift, kalikan, beres.

Quick win: catat waktu downtime dan reject satu shift, langsung dapet insight.

1) Siapkan bahan dulu, biar nggak kebakar otak

Catetin tiga hal ini tiap shift: Total Time (waktu shift), Planned Downtime, Actual Output, Ideal Cycle Time, dan Rejects.

Contoh simpel: shift 1 = 8 jam (480 menit). Catet juga waktu breakdown dan setup.

2) Gini nih, bagaimana menghitung OEE per shift kerja

Intinya lo perlu hitung tiga metrik: Availability, Performance, Quality.

– Availability = (Planned Production Time – Downtime) / Planned Production Time

– Performance = (Actual Output × Ideal Cycle Time) / Run Time

– Quality = Good Units / Total Produced Units

Kabar baiknya: semua angka itu biasanya ada di MES atau manual log operator.

3) Contoh hitung cepet — biar relate

Bayangin deh: shift 1, Planned Time = 480 menit. Downtime = 60 menit. Jadi Availability = (480-60)/480 = 0.875 (87.5%).

Actual Output = 700 unit. Ideal Cycle Time = 0.6 menit/unit. Run Time = 420 menit. Performance = (700×0.6)/420 = 1.0 (100%).

Quality: Total Produced 700, Reject 35. Quality = (700-35)/700 = 0.95 (95%).

OEE = 0.875 × 1.0 × 0.95 = 0.83125 → 83.13%.

4) Tools yang beneran ngebantu (pakai jangan cuma pamer)

Pakai kalkulator OEE online buat double-check. Contoh: Wikipedia OEE buat konsep, atau langsung cobain tool seperti OEE Calculator buat ngecek angka.

Nah, kalo perusahaan lo pake MES/SCADA, banyak data bakal auto keluar. Kalau nggak, pakai sheet sederhana terus upgrade perlahan.

5) Tips nyata biar datanya gak ngawur

– Standarisasi pencatatan. Satu template, satu cara ngitung.

– Ajari operator buat input downtime reason.

– Validasi data tiap akhir shift.

Menarik, kan? Kalau lo mau aman dari masalah klaim karyawan pas kecelakaan kerja, cek juga soal asuransi kesehatan dan konsultasi ke agen asuransi murni biar safety-netnya oke.

6) Common mistake yang sering bikin lo nangis

Banyak tim ngambil data kasar: nggak pisahin planned vs unplanned downtime.

Akibatnya OEE jadi meleset. Jangan sampe lo optimis tapi datanya bohong.

7) Quick Win — tugas 2 menit yang ngefek

Langsung catat waktu downtime terakhir shift.

Isi form singkat: start, end, reason. Itu aja. Dalam 2 menit lo udah punya data buat analisis.

8) Scaling: dari shift ke plant level

Untuk gabungin beberapa shift, rata-rata OEE harus dibobot pake Planned Production Time tiap shift.

Jangan cuma ambil mean simpel kalau shift punya durasi beda-beda.

9) Action plan singkat kalo OEE jeblok

– Cek availability dulu: ada pattern waktu tertentu breakdown?

– Kalau performance rendah: tracking cycle time per operator.

– Kalau quality drop: inspeksi bahan dan proses.

Gini rahasianya: fokus satu penyebab dulu, perbaiki, lalu iterasi.

FAQ

Tanya: OEE 90% itu mustahil ya?

Jawab: Bisa banget buat mesin top notch. Tapi buat pabrik yang standard, 60-80% itu udah cakep. Intinya, benchmark sama kondisi lo sendiri.

Tanya: Harus pakai sistem otomatis nggak?

Jawab: Nggak wajib. Mulai dari spreadsheet dulu boleh. Tapi otomatisasi bantu cepat deteksi pola dan hemat waktu.

Tanya: Berapa sering ngitung OEE per shift?

Jawab: Hitung tiap shift. Simpel. Baru olah mingguan buat insight lebih tajam.