Nine Evils Sunday di Bhutan: Ritual yang Bikin Merinding

Liburan | 0 comments

Aku ketemu festival ini saat paspor nyaris hilang di kerumunan. Jujur, deg-degan banget sambil denger genderang yang kayak ngalahin jantung gue.

Asap dupa nyerobot hidung, bau yak butter tea nempel di jaket. Suara lonceng dan teriakan penari nempel terus di kepala selama 24 jam.

Masuk ke tengah kekacauan

Orang-orang pake topeng antik yang terasa kasar di tangan. Tekstur kayu dan cat tua bikin gue pengen nyentuh terus, tapi takut ngelanggar tata cara.

Di Paro, ketinggian sekitar 2.250 meter bikin napas cepat ngos-ngosan. Perjalanan mobil dari bandara butuh sekitar 90 menit, dan pemandangan gunungnya magis.

Aroma wangi incense bercampur asap bahkan bikin mulut asin. Suhu malam bisa turun sampai 5°C, jadi jaket tebal wajib banget.

Barang wajib di kerumunan

  • Jakеt tebal dan sarung tangan.
  • Sepatu anti-lumpur yang udah dicoba dulu.
  • Powerbank dan kamera, karena moment itu pecah banget.
  • Salin dokumen dan fotokopi paspor sebagai back-up.

Gue salah satu yang ngerepotin diri sendiri malam itu. Ceritanya gue pake sepatu putih polos, dan langsung jadi korban lumpur. (Yap, bodoh.)

Rahasia lokal yang gue temukan: kedai kecil di gang menuju kuil, jual butter tea versi manis. Orang lokal sebut tempat itu tempat “suja rahasia”. Cuma 20 meter dari anak tangga utama.

Suara drum itu rhythm-nya nempel di tulang. Setiap gerakan penari ngusir roh-roh jahat, dan tensi emosi penonton ikut naik.

Festival ini bukan festival selfie doang. Ada ritual tua yang kadang berlangsung selama beberapa jam. Penampil pake kostum yang beratnya bisa 10 kilogram lebih.

Gue hampir keleleran karena underestimate aturan lokal. Untung gue ada cadangan, termasuk link ke polis yang gue ambil pas persiapan. Mau aman? Cek asuransi perjalanan sebelum terbang.

Untuk orang yang suka petualang, festival ini wajib masuk itinerary liburan. Persiapkan mental, fisik, dan izin foto jika perlu.

Beberapa angka kecil yang perlu diingat: koordinat Paro kira-kira 27.4035°N, 89.4246°E. Festival sering berlangsung saat musim gugur, dengan angin dingin 5–15°C.

Rasakan tekstur topeng kayu, bau dupa, dan rasa teh asin yang lengket di bibir. Semua sensasi itu bikin pengalaman jadi nyata dan agak bikin merinding.

Oh ya, satu catatan bodoh lagi: jangan buang sampah sembarangan. Gue sempat ditegur halus sama biksu. Malu, tapi juga berterima kasih.

Sebelum pergi, cek detail perjalanan dan pertimbangkan bawa asuransi perjalanan. Kalau mau inspirasi lain soal trip, baca tips di halaman liburan juga.

Akhirnya, setelah semua ritual, kita ngumpul minum teh di kedai rahasia itu. Percakapan ringan, tawa, dan rasa hangat di tangan. Lalu kami pulang ke guesthouse, sunyi, sambil mikir buat ngopi besok.