Metakha Tshechu: Festival Bhutan yang Bikin Nyali Berdenging

Liburan | 0 comments

Gue nggak bakal bohong, gue hampir nangis karena kedinginan saat sampai di Metakha. Foto Instagram nunjukin warna-warni, tapi realitanya suhu malam turun ke 8°C dan jaket gue cuma tipis. (Sialnya, gue pikir itu bakal cukup.)

Kerumunan di lapangan kayak ledakan warna. Topeng raksasa bergoyang, teriakan gembira, dan bau dupa yang nempel di rambut. Suara drum memukul tulang dada sampai bulu kuduk merinding.

Kenapa harus datang?

Pemandangan langsung bikin percaya mitos. Tarian Cham yang berdurasi 45 menit nampol banget. Ada momen sunyi yang tiba-tiba pecah jadi tawa anak-anak.

Aku jalan dari Thimphu sekitar 65 km. Perjalanan via jalur pegunungan memakan waktu sekitar 2 jam. Beberapa tikungan bikin gue pegang pegangan sampai pegel.

Masuk festival itu seperti melempar diri ke mesin waktu. Kostum berlapis sutra, warna carnelian, dan suara gong mengisi udara. Keringat campur aroma manisan lokal bikin panca indera sibuk.

Barang wajib yang mesti dibawa

  • Jaket tebal plus syal, karena malam bisa 6-10°C.
  • Sepatu nyaman untuk jalan di tanah liat.
  • Uang tunai lokal untuk makanan dan sovenir.
  • Powerbank kecil karena sinyal sering hilang.

Gue ngaku salah besar. Gue foto terus sampai lupa menikmati. Semua momen bagus, tapi gue kehilangan satu tarian karena fokus mencari angle. (Pelajaran: jangan jadi turis kamera.)

Rahasia lokal? Pergi ke warung kecil di pojokan lapangan. Mereka jual momo pedas yang dipotong halus dan dicampur saus yak butter. Cuma 70 ngultrum, dan rasanya seperti pelukan hangat.

Festival ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Lokasinya di Metakha, dekat koordinat sekitar 27.6°N, 89.9°E. Jam mulai pertunjukan sekitar pukul 09.00 sampai 16.00 setiap hari.

Serangkaian topeng memperlihatkan cerita tentang kemenangan dan kelucuan. Ada momen religius dan juga sindiran sosial yang nyeleneh. Gue tertawa sampai perut keram satu kali.

Oh iya, gue nggak mau lo juga panik. Saat dompet gue hampir ketinggalan, asuransi menyelamatkan mental gue. Beneran, sebelum berangkat gue sempat beli asuransi perjalanan. Itu keputusan bijak buat perjalanan ke pegunungan.

Kalau lo lagi rencanain liburan ke Bhutan, siapin fisik dan kepala. Pelajari waktu festival dan bawa rasa ingin tahu. Jangan lupa, asuransi itu penolong ketika hal kecil jadi drama besar.

Terakhir, suasana pulang itu antiklimaks tapi manis. Kita duduk di tepi jalan, minum teh panas sambil ngobrol soal topeng favorit. Gue? Gue mau ngopi dulu.