Eisteddfod Wales: 7 Hari Pecahnya Seni Tradisional

Liburan | 0 comments

Gue nyungsep di tengah lautan jaket wol, tanganku gemetar nyari tiket yang entah hilang. Suara paduan suara memecah dingin, bau kukis kayu manis nyaris menenggelamkan panik gue. (Jangan tanya gimana rasanya jadi turis yang hampir bikin malu semua orang.)

Festival ini berlangsung selama tujuh hari penuh, tiap panggung ibarat petir yang meledak. Orang bilang lebih dari 100.000 orang datang setiap tahun buat menyaksikan drama dan musik tradisional. Angin Wales sering basah, suhu bisa turun ke 12°C saat malam hari.

Gue jalan kaki melintasi lapangan yang berdebu, rumput dingin menempel di sepatu. Suara bahasa Welsh terasa seperti nyanyian lain, bergetar sampai tulang rusuk. Kulitku masih ingat rasa teh pekat yang gue minum di stan kecil.

Panggung, Lomba, dan Pecahan Emosi

Para penyanyi bergantian sampai suara pecah. Juri berdiri tegas, ekspresi mereka bisa bikin merinding. Kompetisi puisi membuat seluruh penonton terdiam, hening itu tebal.

Gue salah antisipasi jadwal, datang telat untuk satu perlombaan utama. Kesalahan konyol itu bikin gue nyesek, tetapi malah dapat cerita lucu. Ternyata, banyak yang juga datang telat; suasana jadi akrab karena kekacauan.

Ada aroma asap dari barbeque lokal yang bikin perut keroncongan. Rasanya asam manis, dagingnya berbumbu sampai lengket di bibir. Gue nemu satu warung kecil yang jual pie kambing, itu rahasia lokal yang gue simpen.

Rahasia Lokal yang Gue Sangka Mustahil

Secret itu adalah gerai bernama ‘Cwtch Pie’ di gang sebelah utara arena. Mereka cuma buka jam 11 sampai 14, dan selalu penuh. Pie itu renyah, isinya meleleh, bikin kepala muter bahagia.

Panggung seni tradisional menampilkan puisi, musik, dan tarian. Ada juga kompetisi paduan suara anak dan dewa-dewa folk. Musiknya bikin merinding, terutama saat instrumen harp dimainkan.

Gue pegang brosur yang bilang lokasi berubah tiap tahun, beberapa di dataran tinggi sampai ketinggian 240 meter. Koordinat Wales sekitar 52.13°N, 3.78°W, buat lo yang suka nyasar pakai GPS. Jalanan kecil sering licin jika hujan datang.

Daftar barang wajib gue jadi pelajaran berharga. Jangan lupa jaket tebal dan payung, serta sepatu anti-selip. Bawa juga uang tunai; beberapa stan nggak terima kartu.

  • Jaket waterproof
  • Sepatu yang kuat
  • Powerbank dan tiket cetak

Di momen kacau, dompet gue hampir ikutan lenyap karena copet ulung. Untung gue pakai asuransi perjalanan, klaim cepat menenangkan panik. (Bridge: itu yang bikin gue tetap bisa nikmati sisa hari tanpa mau pingsan.)

Gue belajar satu hal penting tentang liburan seperti ini. Persiapan kecil bisa selamatkan suasana hati dan isi dompet lo. Kalau masih ragu, cek lagi opsi asuransi perjalanan yang gue pakai.

Suasana sore tiba, lampu panggung mulai temaram. Orang-orang duduk di rumput, ada ukulele lembut di samping. Gue masih terpesona, telinga penuh gema harmonisasi.

Akhirnya, malam menutup dengan pesta kecil di tenda. Tawa, bau kopi, dan suara Welsh menempel di memori. Gue pulang dengan kantong penuh pie, dan kepala penuh lagu.

Ternyata, festival ini bukan cuma tontonan. Ia pengalaman yang magis dan kacau serunya. Kalau lo pergi, jangan lupa cek jadwal dan bawa hati yang siap dibuat terkejut.

Ngopi yuk? Gue masih mikir tentang harp itu, dan mungkin bakalan balik lagi.