(Contradictory Fact) Gue pikir festival di Bhutan bakal adem, suci, penuh meditasi. Nyatanya, gue berdiri di tengah kerumunan yang pecah banget, bau dupa, teriakan, dan lonceng berdentum seolah mau copot atap.
Angin dingin menghantam wajah di ketinggian sekitar 2.200 meter. Suhu pagi hari bisa 5°C, siang 15°C, jadi bawa jaket tebal dan sarung tangan.
Suara drum dari Trongsa Dzong membuat dada bergetar. Ritme itu kayak panggilan yang bikin merinding, lho.
Apa yang bikin heboh?
Para penari topeng keluar satu per satu. Kostum mereka penuh warna dan bordir emas, teksturnya kasar dan berdebu.
Topeng itu bergerak dengan presisi tentara. Setiap gerakan cerita berusia ratusan tahun, dan gue kebayang para nenek moyang lagi nonton.
Gue sempat nyaris ketinggalan bus dari Thimphu. Jarak sekitar 192 km ternyata berubah jadi perjalanan 8 jam karena jalan berliku.
Kesalahan bodoh gue: bawa baterai kamera cadangan tapi lupa charger. Foto sisa cuma 12 buah, sedih banget (salah sendiri sih).
Di tengah chaos, ada rahasia lokal yang cuma penduduk tahu. Di lorong dekat jembatan, warung kecil itu jual momo isi keju lokal yang meleleh.
Rasa keju itu asin-manis, bikin lupa dingin. Orang lokal bilang, itu camilan pasca-tari yang bikin kepala adem.
Checklist saku
- Pakaian lapis (jaket, syal)
- Sepatu trekking nyaman
- Powerbank dan charger
- Uang kontan BTN kecil
- Kamera atau smartphone dengan storage kosong
Ngomong-ngomong soal kejutan, gue sempet panik karena kecopetan ringan. Dompet hilang sebentar, untung kembali setelah lapor ke petugas.
Kalau lo mau tenang, pertimbangkan beli asuransi perjalanan. Gue juga pakai itu, dan klaimnya beres cepat waktu kaget.
Festival ini berlangsung beberapa hari, biasanya di kuartal akhir tahun. Jam acara pagi mulai sekitar 9.00 dan bisa berlangsung sampai sore.
Atmosfernya magis tapi juga kacau serunya. Ada campuran doa, jualan makanan, dan turis yang selfie nonstop.
Jalanan di sekitar dzong sempit dan ramai. Koordinat kasar Trongsa sekitar 27.5°N, 90.5°E, buat yang suka peta.
Untuk itinerary santai, sisakan waktu 2 hari di kota itu. Satu hari acara, satu hari jelajah ke watchtower tua, dan santai ngopi.
Oh iya, jangan lupa link penting kalau lo lagi cari referensi liburan. Cek dulu rencana liburan biar lebih tenang.
Di akhir hari, gue duduk di tepi tembok dzong sambil minum teh bawang putih. Langit gelap dan sorot lampu membuat bayangan penari jadi siluet.
Gue pulang dengan kepala penuh cerita dan kaki pegal. Rasanya belum selesai, seperti lagu yang berhenti di tengah bait.
Kalau mau, bawa juga hati yang siap dibuat kaget. Terus, mau ngopi dulu?