Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah overthinking liat reksadana saham yang lagi cuan — apalagi kalo lo lagi kepo sama produk bernama Narada Saham Indonesia II. Kita spill data dan fakta yang penting tanpa basa-basi.
Sat-set TL;DR:
– AUM: Rp 59.516.454.942,91 (update per 01-Apr-2026).
– NAB: Rp 134,1056 (Last Update: 13-Mei-2026).
– Return: 1 Tahun: 30,89% · YtD: 2,73% · MtD: 2,26% · 1 Bulan: -0,50% · 1 Hari: 0,38%.
– Jenis: Saham (cocok buat tim mental baja yang siap roller coaster).
– Catatan penting: Fund Fact Sheet & Portfolio terakhir tercatat per 30-Okt-2019 / 31-Okt-2019 — tapi ada update NAB & AUM di 2026, jadi cek dokumen resmi terbaru sebelum ngambil keputusan.
1) Gambaran Kinerja: Santai tapi jeli 📈
Narada Saham Indonesia II nunjukin 1 tahun +30,89% — mantul buat reksadana saham. Tapi jangan cuma ngiler sama angka 1 tahun doang.
Performa YtD cuma 2,73% dan 1 bulan -0,50%, jadi ada fluktuasi. Intinya: ini produk saham, jadi ada momen ngeroket dan ada momen nge-sunburn.
2) Dana Kelolaan & NAB: AUM-nya masih ‘gendut’ 💸
AUM tercatat Rp 59,516,454,942.91 per 01-Apr-2026 dan NAB terakhir Rp 134,1056 (13-Mei-2026). Angka ini nunjukin dana masih aktif dikelola, bukan ghost fund.
Unit penyertaan: 453.816.070,98 — buat lo yang hitung-hitungan unit, ini data yang dipakai buat nentuin NAV per unit.
3) Risk profile: Ini buat yang siap mental baja
Karena tipe Saham, cocok buat investor yang mau potensi return lebih gede tapi siap naik-turun. Gak cocok buat tim cari aman yang anti-drama.
Gini faktanya: kalo lo takut overthinking tiap hari liat portofolio, jangan taro semua duit lo sini.
4) Bedah Dokumen Resmi — FFS & Prospectus (Red Flag penting) 🚩
Dari data yang lo kasih, FFS terakhir tercatat per 30-Okt-2019 dan portofolio per 31-Okt-2019. Tapi ada update NAB & AUM di 2026 — ini tanda buat nge-cek ulang dokumen resmi terbaru.
Kenapa penting: Top holdings, biaya manajemen, bank kustodian, dan minimal pembelian biasanya ada di Prospectus/FFS. Kalo FFS yang tersedia udah lama, info top holdings bisa beda jauh sama kondisi sekarang.
Jadi, jangan cuma ngandelin angka-angka di summary sini. Download FFS/Prospectus terbaru dulu di platform resmi seperti Bareksa atau Bibit sebelum mutusin beli.
5) Mana info yang pasti ada & mana yang mesti lo cek lagi
- Ada di data yang lo kasih:
– AUM, NAB, unit penyertaan, beberapa return period (1 hari, 1 bulan, YtD, 1 tahun) dan last update NAV/AUM.
- Harus dicek di FFS/Prospectus terbaru:
– Alokasi aset detail & top 10 holdings.
– Biaya: management fee & switching fee.
– Bank kustodian & Manajer Investasi resmi.
– Minimal pembelian awal & aturan withdrawal.
6) Distribusi & Beli: Di mana lo bisa akses?
Produk reksadana biasanya dijual via APERD/agen (platform digital & bank). Buat praktis, cek platform seperti Bareksa atau Bibit buat lihat FFS, prospektus, dan beli langsung kalau cocok.
Gini rahasianya: sebelum klik buy, download FFS + cek tanggal terakhir portofolio supaya lo gak kena informasi kadaluarsa.
7) Common Mistake anak muda — Jangan cuma FOMO di 1 bulan
Banyak yang cuma liat return 1 bulan doang terus FOMO. Kesalahan fatal: belum buka prospectus/FFS buat cek biaya & risk parameters.
Kalau cuma lihat 1 bulan positif, bisa jadi lo kebakaran jenggot pas market koreksi. Intinya: cek drawdown historis dan biaya dulu.
8) Quick Win: Tugas 2 menit biar gak ngacir
Buka Bareksa atau Bibit, cari “Narada Saham Indonesia II”, terus download FFS/Prospectus terbaru. Ntar lo langsung tau: siapa MI, biaya, top holdings, dan tanggal update portofolio.
FAQ
Apa perbedaan data FFS 2019 dengan update NAB/AUM 2026 — aman nggak?
Singkatnya: angka NAB/AUM terbaru nunjukin transaksi & NAV tetap dihitung. Tapi kalo FFS/portofolio terbaru kosong atau masih 2019, itu red flag buat cek ulang holdings & alokasi. Selalu minta dokumen FFS terakhir sebelum beli.
Di FFS biasanya ada apa aja yang wajib dicek?
Biasanya: top holdings, alokasi sektor, biaya manajemen, bank kustodian, profil risiko, dan prosedur pembelian/penjualan. Kalo salah satu nggak jelas, minta klarifikasi ke MI atau platform penjual.
Gimana cara bandingin Narada Saham Indonesia II sama benchmark atau reksadana saham lain?
Cara gampang: bandingin return 1 tahun & 3 tahun (kalau ada), volatilitas, dan biaya. Untuk cek benchmark, liat FFS atau prospektus yang biasanya nyantumin benchmark index. Jangan lupa, bandingkan periode yang sama (misal YtD vs YtD) biar fair.