Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah overthinking pas liat reksadana saham lagi jeblok seminggu—padahal lo cuma lihat grafik doang? Kalau gitu, kita spill satu-satu soal Schroder Dana Prestasi Plus biar lo nggak Cuma FOMO doang.
Sat-set TL;DR: AUM dana ini Rp 2.648.158.712.098,62 (update dana kelolaan 01-Apr-2026). Nab terakhir NAB Rp 31.822,27 (update 13-Mei-2026). Performance singkat: 1D -1,45%, MTD -3,53%, 1M -5,07%, YTD -7,46%, 1Y +4,76%. Launch: 25-Sep-2000. Type: Reksadana Saham (Konvensional). Sumber data: Fund Fact Sheet (30-Apr-2026) & update NAB 13-Mei-2026.
1) Siapa sih ini & apa yang ada di FFS? 📄
Nama produknya jelas: Schroder Dana Prestasi Plus — reksadana saham yang udah eksis dari 25 Sep 2000.
Dari FFS yang lo harus cek sendiri (last FFS tercatat 30-Apr-2026), data krusial yang valid: AUM ≈ Rp 2,65 triliun, NAB Rp 31.822,27, dan update portfolio per 30-Apr-2026. Unit penyertaan tercatat 80.281.302,72.
Gini faktanya: dokumen resmi (Prospectus & FFS) itu tempat ngulik top holdings, alokasi sektor, bank kustodian, dan biaya manajemen. Kalau lo mau lihat file resminya, buka situs resmi manajer/investment platform. Contoh link resmi yang biasa nyimpen FFS: Schroders Indonesia atau marketplace reksadana seperti Bareksa dan Bibit.
2) Kinerja: singkat, jujur, dan kurang manis 📉
Lo liat sendiri angkanya: short-term lagi koreksi. 1 bulan -5,07% dan MTD -3,53% nunjukkin ada tekanan pasar belakangan.
Intinya, saham = roller coaster. 1 tahun terakhir masih +4,76%, yang artinya masih sempat recover dibanding YTD yang negatif.
Bayangin deh: kalau lo cuma ngandelin return 1 bulan doang, gampang panic sell. Bandingkan ke benchmark (cek FFS/Prospectus) buat tahu apakah manajer investasi beat pasar atau nggak.
3) AUM gendut & kenapa itu penting 💸
AUM ~ Rp 2,65 triliun itu tanda ada modal cukup besar di manajemen. Kabar baik: biaya transaksi bisa lebih efisien dan likuiditas portofolio lebih oke.
Tapi hati-hati: AUM gede bukan jaminan performa jangka pendek.
4) Risiko & siapa yang cocok nih? 🎢
Ini reksadana saham, jadi cocok buat “tim mental baja” yang siap naik-turun demi potensi return lebih tinggi.
Kalau lo cari aman & anti-drama, mending lihat pasar uang atau pendapatan tetap.
5) Hal krusial di Prospectus/FFS yang lo wajib cek (sebelum nambahin ke watchlist) 🚩
- Biaya: management fee & subscription/redemption fee. Jangan cuma liat return tanpa cek fee—biaya bisa makan hasil lo.
- Top holdings & sektor: ini nunjukkin exposure sektor apa yang lagi bantu atau bikin berat performa.
- Bank kustodian & struktur biaya: pastiin ada nama custodian jelas di prospektus buat safety administrasi dana.
- Minimum pembelian & switch: kalo lo modal pas-pasan, cek minimum awal & biaya switch supaya nggak kaget.
Kalau dokumen lengkapnya belum ada di app lo, minta deh FFS/Prospectus lewat platform penjual (Bareksa/Bibit) atau langsung di situs Schroders Indonesia.
6) Distribusi & beli di mana? 🛒
Produk besar kayak gini biasanya tersedia di platform jual-beli reksadana online (marketplace) dan melalui agen penjual efek berizin. Contoh platform populer: Bareksa dan Bibit.
Tapi pastiin nama produk & ISIN/kode produk cocok sama yang ada di Prospectus sebelum transfer dana.
7) Common Mistake anak muda: cuma nge-judge dari 1 grafik doang ⚠️
Banyak yang FOMO karena liat 1 bulan jeblok lalu langsung kabur. Kesalahan itu: nggak buka Prospectus/FFS buat cek biaya, top holdings, dan alokasi sektor.
Intinya: jangan cuma lihat headline return—baca dokumen resminya.
8) Quick Win (lakuin dalam <2 menit) ✅
Buka aplikasi investasi lo, ketik “Schroder Dana Prestasi Plus”, terus download FFS/Prospectus terbaru. Save ke phone atau screenshot bagian AUM, NAB, dan top holdings.
Itu aja, 2 menit beres dan lo jadi lebih paham sebelum ambil keputusan.
FAQ
Apa bedanya NAB sama return yang lo lihat di app?
NAB (Nilai Aktiva Bersih) itu harga per unit. Return dihitung dari perubahan NAB periode tertentu. NAB Rp 31.822,27 (update 13-Mei-2026) itu yang dipakai buat hitung return kamu.
Kenapa YTD bisa negatif padahal 1 tahun masih positif?
Karena performa 12 bulan terakhir meliputi periode sebelum koreksi YTD. Artinya ada periode naik sebelumnya yang masih bikin rata-rata 1 tahun jadi positif meski tahun ini lagi turun.
Di mana saya bisa cek Prospectus & FFS resmi?
Download di situs resmi manajer investasi atau platform jual-beli reksadana. Contoh: Schroders Indonesia, Bareksa, atau Bibit. Selalu cek tanggal update dokumen (FFS ter-update 30-Apr-2026 untuk data yang gue pakai di review ini).