Cara mengurangi pengeluaran melalui rasa sakit

Cara mengurangi pengeluaran melalui rasa sakit





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 6 Feb, 2020

Kategori: Uncategorized

Percaya atau tidak, sebaiknya percayalah! 😀 Karena cara berikut ini sudah teruji paling tidak kepada saya sendiri. Berikut ceritanya:

Cerita ini dimulai pada tahun 2010 silam dimana saya sedang mengenyam bangku pendidikan tingkat tinggi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saya merantau ke ibukota, meninggalkan kampung halaman demi mengadu nasib dan kehidupan yang lebih baik. Saya yang dibesarkan dalam keluarga yang belum melek finansial dan anti asuransi, dipaksa untuk mengatur keuangan secara bijak dan disiplin agar bisa bertahan hidup di Jakarta.

Secara kalender, 1 bulan mengandung 30 hari. Namun hitungan tersebut tidak berlaku bagi saya yang mendapat kiriman uang dalam nominal yang tak pasti serta tanggal jatuh tempo yang tidak teratur. Terkadang 1 bulan bagi saya setara dengan 40 hari, karena uang kiriman dari kampung mengalami keterlambatan dan saya sama sekali tidak mendapatkan kompensasi apapun layaknya penerbangan yang mengalami delay. Pada masa kesusahan inilah saya percaya bahwa karakter saya sedang dibentuk.



Saya yang pada waktu itu percaya bahwa ada growth dalam zona tidak nyaman, sehingga saya memaksa diri saya untuk hidup dalam ketidaknyamanan, seperti:

  • Menahan diri untuk tidak terlalu sering bepergian keluar kostan
  • Membawa botol minum dan menenggak air putih saat teman-teman yang lain meminum minuman rasa-rasa
  • Membawa nasi bungkus dari warteg ketika hendak bepergian dan berpuasa ketika diajak teman makan bareng di restoran atau warung makan yang harganya di relatif tinggi.
  • dan yang paling penting ialah meninggalkan kartu debit di kost-kostan.

Tidak ada yang spesial dari poin 1 hingga poin 3 di atas. Artikel ini akan membahas tentang Pain of Paying yang relevan dengan poin 4 dan mungkin sering terjadi di dalam keseharian kita.

Apa itu Pain of Paying?

Sesuai namanya, Pain of Paying merupakan rasa sakit atau perasaan beban yang mungkin timbul pada saat kita mengeluarkan uang. Hal ini mungkin terjadi saat kita yang merasa baik-baik saja ketika mengeluarkan uang sebesar RP. 35,000 untuk minuman Boba atau kopi yang sangat enak rasanya, sementara kita merasa beban dan kepahitan ketika kita mengeluarkan uang sebesar Rp. 15,000 untuk minuman Boba atau kopi yang rasanya asing di lidah.

Hal yang serupa terjadi ketika kita hendak membayar tagihan Spotify dengan nominal Rp. 50,000. Secara nominal, angka tersebut masih dalam rentang harga yang sanggup untuk dibayar. Namun somehow kita merasakan ‘rasa sakit’ dan ‘beban’ ketika hendak membayar tagihan tersebut karena kita sangat jarang sekali menggunakan layanan musik streaming yang bisa didengarkan di bervariasi gawai ini.

Well, ada harga ada kualitas, bukan?

Bagaimana bisa kita merasakan ‘rasa sakit’ ketika kita mengeluarkan sedikit uang untuk rasa yang asing? Mengapa kita tidak merasakan ‘rasa sakit’ ketika kita mengeluarkan uang dengan jumlah 2x lipat untuk rasa yang sudah familiar di lidah?

Perlu diingat bahwa kesamaan dari 2 contoh kasus di atas ialah kita sama – sama mengeluarkan uang dan Pain of Paying turut bekerja dalam pikiran kita yang menimbang apakah nominal tersebut layak dibayar atau tidak.



Berdasarkan contoh kasus di atas, saya memanfaatkan Pain of Paying dengan meninggalkan kartu ATM di kost-kostan. Hal ini bertujuasn untuk meminimalisir niat gelap matasaya untuk melakukan tarik tunai maupun belanja menggunakan kartu debit secara mudah dan praktis.

Dengan meninggalkan kartu ATM di kost-kostan, akan memaksa saya merasakan hal ini:

  • Kesulitan ketika hendak melakukan checkout di warung atau perbelanjaan yang menerima pembayaran via mesin EDC
  • Mempertimbangkan kembali niat saya untuk melakukan tarik tunai via rekening.

Saat momen Pain of Paying terjadi, kita akan dihadapkan pada suatu momen dimana kita mempertimbangkan dan menghitung kembali konsekuensi yang akan terjadi saat kita ‘membayar sesuatu’. Dalam hal ini, saya hanya akan membawa uang dengan nominal yang sudah saya perhitungkan dan rencakan sebelumnya. Saya tidak akan bisa menghabiskan uang lebih dari nominal yang saya bawa, karena saya tidak membawa kartu ATM.

Dengan mengandalkan Pain of paying tersebut, berikut cara mengurangi pengeluaran melalui rasa sakit dan beban:



Simpan Kartu Debit dan Kartu Kredit dalam tempat yang sulit dijangkau dan dilihat oleh mata

Salah satu cara mengurangi pengeluaran dengan memanfaatkan Pain of Paying ialah dengan menyimpan Kartu Debit dan Kartu Kredit dalam tempat yang sulit dijangkau dan dilihat oleh mata.

Kata orang, manusia tempatnya salah dan dosa. Hal ini berlaku pula saat kita melakukan keputusan keuangan seperti:

  • Membeli sesuatu
  • Mengajukan utang
  • Menabung uang

Dalam membeli sesuatu, sangat mungkin bagi kita untuk melakukan keputusan yang tidak bijak dan kurang tepat, seperti:

  • Membeli barang hanya karena barang tersebut dikenakan diskon yang cukup tinggi
  • Membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam waktu dekat hanya karena cashback
  • Membeli barang dengan harga yang tinggi walaupun kita bisa mendapatkannya dengan harga yang relatif lebih rendah di tempat lain
  • Membeli barang demi menjaga hubungan pertemanan dan relasi

Hayoo ngaku, siapa yang pernah melakukan keputusan di atas secara tidak sadar?

hihihi

Dengan menyimpan kartu debit dan kartu kredit dalam tempat yang sulit dijangkau dan dilihat oleh mata, niscaya kita perlu mengeluarkan effort lebih hanya untuk menemukan Kartu Debit dan Kartu Kredit tersebut sebelum kita membelanjakannya secara gelap mata dan tak sadarkan diri.



Putuskan koneksi kartu debit dan kartu kredit dari layanan Marketplace, E-Commerce,dan toko daring lainnya

Di jaman digital seperti sekarang, tidak sulit bagi kita untuk menemukan barang yang dibutuhkan dengan harga dan penawaran terbaik. Salah satu contohnya ialah bagaimana layanan Telunjuk membantu saya dalam menemukan barang yang saya inginkan dengan penawaran terbaik. Cerita lengkapnya bisa dilihat melalui artikel di bawah ini:

Dalam layanan perbelanjaan daring seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, tak jarang pelanggan diminta untuk menyimpan identitas kartu debit atau kartu kredit mereka masing-masing dengan tujuan untuk mempermudah serta mempercepat proses checkout.

Dalam metode pembayaran melalui Kartu Kredit misalnya, kita hanya perlu sedikit waktu untuk mengisi CVV Number dan melakukan beberapa click hingga akhirnya kita berhasil melakukan checkout dan menerima barang yang telah dibeli dalam beberapa waktu ke depan. Kemudahan dalam melakukan checkout ini justru bisa menjadi boomerang bagi kaum shopaholic yang sering berbelanja hingga mereka jatuh miskin, alias Shop till you drop!

Hal ini diperparah dengan momen-momen tertentu dimana layanan perbelanjaan daring mengadakan kegiatan di bawah ini:

  • Flash Sale
  • Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional)
  • dan banyak lagi event lain yang diadakan untuk menarik hati konsumen dalam menghabiskan uang meereka di layanan perbelanjaan tersebut.
  • Peer pressure dari teman yang mengajak kita berbelanja membeli Boba dengan harga khusus meski harus mengantri lebih dari 30 menit.

Mereka yang tidak celik, justru menjadi korban dan membelanjakan uang yang mereka punya secara membabi buta untuk membeli barang yang tidak kita butuhkan, hanya untuk memamerkannya pada orang yang tidak kita sukai.



Dengan memutuskan koneksi kartu debit dan kartu kredit dengan layanan perbelanjaan di atas, kita akan menjumpai suatu waktu dimana kita berhenti dan berpikir beberapa pertimbangan di bawah ini:

  • Apakah saya membutuhkan barang ini sekarang? Mengapa?
  • Apakah saya harus membayar harga sesuai nominal yang tertera pada label harga? Bagaimana bila kita menemukan harga yang lebih murah untuk barang yang sama di toko sebelah?
  • Apakah saya wajib menggunakan barang ini? Apakah saya tidak bia menggunakan produk lain yang sejenis dan lebi ekonomis?
  • Seberapa sering saya akan menggunakan produk yang akan saya beli ini?
  • Mengapa saya harus membeli produk ini? Mengapa saya tidak menyewanya saja bila produk tersebut jarang dipakai atau tidak digunakan secara rutin dan jangka panjang?

dan ada banyak lagi pertanyaan lain yang mungkin timbul di benak kepala kita, akhirnya kita menjadi pusing dan batal melakukan checkout. :p

Tadaaa!! Kita menang dan menyelamatkan uang kita dari pengeluaran yang tidak / belum dibutuhkan!!

Hanya membawa uang dengan nominal yang telah diperhitungkan sebelumnya

Namanya anak kostan, bukan anak sultan, pasti susah makan dan wajib memutar otak demi menemukan cara mengurangi pengeluaran di masa depan. Salah satu cara yang mungkin dilakukan ialah dengan membawa uang dalam nominal yang telah diperhitungkan sebelumnya.

Cara tersebut memiliki manfaat ganda bagi kita yang melakukannya, seperti:

  • Kita tidak bisa membelanjakan apapun selain barang yang telah direncanakan atau diperhitungkan sebelumnya. Artinya kita akan dipaksa untuk menunda pembelian yang tidak direncanakan dan memaksa kita untuk berpikir dua kali sebelum melakukan pembelian.
  • Karena kita hanya bisa membelanjakan barang atau produk yang telah direncakan atau diperhitungkan sebelumnya, maka kita tidak memiliki banyak alasan untuk meluangkan banyak waktu di pusat perbelanjaan maupun layanan beperbelanjaan secara daring. Kamu harus cepat pulang!

Selaim hemat waktu, kita juga telah berhasil menghemat uang dan tenaga dalam berbelanja.

Demikian sedikit cara mengurangi pengeluaran yang bisa saya bagikan versi saya. Bila pembaca memiliki versinya masing-masing, yuk bagikan di kolom komentar agar pembaca lain menjadi aware dan lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan khususnya menyiapkan pengeluaran.

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This