Tips Cerdas Memakai Kartu Kredit, Selamat Tinggal Tunggakan Membengkak!

Tips Cerdas Memakai Kartu Kredit, Selamat Tinggal Tunggakan Membengkak!

Memakai kartu kredit bisa jadi sebuah solusi transaksi yang kerap kali melenakan pemakai. Banyak promo-promo menarik yang bermunculan, tidak hanya dari bank penerbit kartu, tetapi juga dari berbagai gerai dan brand yang memberikan harga khusus untuk pembayaran dengan kartu kredit.

Tidak sedikit pengguna kartu kredit yang terjerumus dengan berbagai kemudahan ini dan akhirnya terjerat utang yang tak berujung pangkal. Dari sini, kemudian banyak orang yang menilai bahwa kartu kredit lebih banyak masalahnya daripada manfaatnya.

Sebenarnya, dengan penggunaan dan pengelolaan yang baik, kartu kredit bisa memberikan manfaat yang cukup banyak buat kita. Sudah punya atau baru akan membuka kartu kredit?

Berikut ada beberapa tips untuk menghindari tunggakan membengkak yang jadi jeratan maut banyak nasabah:

Sesuaikan Limit dengan Pendapatan Rutin

Masalah utama dari pemegang kartu kredit adalah memiliki tagihan melebihi kemampuan mereka untuk membayar. Ini yang biasanya ‘dilanggar’ oleh para pemegang Kartu Kredit demi mendapatkan dana yang lebih banyak.

Sebenarnya, masalah ini merupakan hal yang kerap kali membuat seseorang terjebak dalam tagihan yang mencekik leher. Memiliki tagihan lebih dari kemampuan akan membuat kita terjerumus dalam utang yang dalam.



Salah seorang teman pernah bercerita kalau ia sempat memiliki Kartu Kredit dengan limit 10x hingga 12x dari penghasilan yang ia terima setiap bulannya. Kelalaiannya dalam mengelola uang berakibat fatal. Ia terjerat utang yang berkepanjangan dengan bunga yang membengkak karena utang tersebut tak kunjung dilunasi.

Karena itu, sebaiknya miliki kartu kredit dengan limit sesuai dengan pendapatan. Tentu akan lebih baik lagi jika limit kartu yang kita miliki kurang dari jumlah pendapatan bulanan.

Dengan limit yang tepat, penggunaan kartu kredit pun akan lebih terkontrol. Tidak ada tagihan yang lebih dari kemampuan dan membuat kondisi keuangan jadi lebih sehat.

Gunakan Kartu Kredit Hanya Untuk Transaksi Tertentu

Jangan gunakan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti belanja bulanan atau makanan dan keperluan lainnya yang seharusnya masuk dalam pos keperluan rutin.

Memang, banyak promo menarik dari berbagai gerai makanan dan pusat perbelanjaan. Namun hal ini kerap kali tanpa disadari membuat kita jadi lebih konsumtif dan sulit mengontrol pengeluaran rutin.

Pastikan debt to income ratio terkendali dengan sangat baik!

Hanya gunakan kartu kredit untuk transaksi tertentu. Misalnya pembelian barang elektronik yang jadi lebih murah dengan promo dari toko dan cicilan tanpa bunga.

Selalu Bayar Lunas dan Tepat Waktu

Ketika kita membayar tepat waktu, tidak akan ada bunga tambahan dan biaya keterlambatan pembayaran yang jumlahnya tak sedikit. Membayar tepat waktu juga menjadi catatan kita di OJK, jika sering terlambat, nama kita bisa masuk daftar hitam yang tentu merugikan jika suatu hari nanti memerlukan pinjaman ke bank atau koperasi.

Agar tidak terlewat, selalu perhatikan tanggal pembayaran terakhir di lembar tagihan. Pasang reminder pada tanggal tersebut, atau langsung lakukan pembayaran setelah tagihan keluar.



Pastikan juga untuk membayar lunas setiap bulan, sesuai dengan transaksi yang tertagih. Hindari membayar dengan jumlah minimal. Meski menggiurkan, namun bunga transaksinya lama kelamaan akan menjerat dalam utang berkepanjangan.

Psstt, apakah kalian tahu kalau tanggal jatuh tempo tagihan Kartu Kredit bisa diubah sesuai keinginan?

Kartu Kredit Bukan Dana Cadangan

Kartu Kredit memiliki 2 buah saldo yang tersedia didalamnya. Saldo tersebut ialah:

  • Limit saldo Kartu Kredit yang bisa digunakan untuk bertransaksi atau membeli suatu barang, jasa, maupun melakukan topup.
  • Cash Advance yang dapat digunakan untuk menarik atau mencairkan uang tunai dengan bunga dan biaya yang lumayan tinggi

Mungkin diantara kita masih ada yang berpikiran kalau memiliki Kartu Kredit berarti memiliki dana cadangan. Ungkapan ini tak sepenuhnya salah, karena Kartu Kredit sering menjadi penyelamat dikala kita harus memesan tiket atau akomodasi secara dadakan.

Ingat, kartu kredit bukanlah dana cadangan. Sisihkan dana cadangan dari pendapatan rutin setiap bulan, bukan mengandalkan kartu kredit ketika terjadi hal mendesak.

Kartu kredit merupakan alat untuk mempermudah transaksi, yang dananya harus segera dikembalikan secepat mungkin. Kartu Kredit bukanlah dana cadangan yang bisa diambil sewaktu-waktu untuk memenuhi keperluan hedon dan berfoya-foya.

Batasi Kepemilikan Kartu Kredit

Indonesia memperbolehkan seseorang memiliki lebih dari 1 kartu kredit untuk bertransaksi. Namun sebaiknya kita membatasi kepemilikan kartu kredit agar tidak melebihi batas kemampuan kita membayarnya.

Bila perlu, cukup 1 kartu kredit saja yang kita pegang. Atau maksimal 2, untuk mendapatkan keuntungan dari salah satu kartu yang dimiliki.

Sebaiknya, jumlah limit keduanya berada dalam jangkauan pendapatan kita setiap bulan. Sehingga tidak akan terjadi kelebihan beban pembayaran yang bisa jadi masalah di kemudian hari.

Semoga artikel tips cerdas memakai kartu kredit ini bermanfaat agar kita lebih bijak dalam memiliki dan menggunakan kartu kredit!

Mengenal hutang baik dan jahat dalam merencanakan keuangan

Mengenal hutang baik dan jahat dalam merencanakan keuangan

Berbicara tentang hutang, mungkin hampir setiap orang diantara kita pasti pernah berhutang. Dimulai dari nominal paling kecil ketika kita sekolah dulu, hingga berhutang dalam nominal besar. Mungkin pembaca pernah meminjam uang teman untuk jajan maupun makan siang. Berhutang dengan orang lain tidak sama dengan berhutang dengan Bank apalagi “rentenir online” yang sering dikenal sebagai P2P Online. Ketika seseorang berhutang dengan orang lain, umumnya tidak dikenakan bunga dan tidak adanya proses BI Checking sehingga proses pengajuannya lebih cepat.

Akui saja kalau di jaman teknologi dan globalisasi seperti sekarang, konsumen semakin dipermudah untuk berhutang. Kalau orang tua jaman dulu lebih memilih untuk menabung sebelum membeli sesuatu secara tunai, justru generasi saat ini (Millenial dan adik – adiknya serta keturunannya) malah dipermudah untuk berhutang. Coba lihat hape / smartphone pembaca, apakah sudah lunas? Jika belum, maka bisa dipastikan pembaca sedang terjerat hutang.

Kalau orang tua jaman dulu harus mengunjungi rumah satu per satu atau menghubungi sanak saudara satu per satu untuk mendapatkan pinjaman, jaman sekarang “rentenir” justru bergerak cepat dan mendatangi konsumen secara online maupun offline untuk berbisnis dan menawarkan pinjaman.  Namun,  apakah pembaca sudah tahu bahwa tidak selamanya hutang bersifat negatif?

Mengenal hutang baik dan jahat.

Hutang sama seperti bakteri. Ada yang baik dan ada yang jahat. Kalau bakteri baik berfungsi untuk memperbaiki dan membantu tubuh, bakteri jahat justru malah memperbaiki dan merusak tubuh. Begitu pula dengan hutang.

Umumnya hutang baik merupakan hutang / tagihan yang peruntukannya untuk mengembangkan uang. Secara teori memang dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang. Namun bagaimana bila seseorang tidak memiliki uang untuk mengembangkan uang? Tentu saja orang tersebut dapat berhutang untuk mendapatkan uang tersebut. Beberapa hutang baik yang mungkin terjadi di sekitar kita ialah:

  • Berhutang untuk membayar biaya pendidikan
  • Berhutang untuk modal usaha
  • Berhutang untuk membeli properti
  • Berhutang untuk berinvestasi.

Hutang jahat merupakan hutang / tagihan yang peruntukannya untuk gaya hidup konsumerisme dan tidak mendatangkan uang di masa mendatang, seperti:

  • Membeli kendaraan bermotor
  • Membeli pakaian
  • dan banyak lagi gaya hidup konsumerisme yang mungkin dilakukan secara sadar maupun tidak oleh pembaca. Hehehe

Resiko akan tetap ada bagi mereka yang berhutang baik maupun jahat. Menempuh pendidikan hingga ke jenjang atas tidak menjamin seseorang akan sukses. Bisnis dan usaha tidak selamanya akan mulus dan tetap ada resiko bangkrut. Berinvestasi tidak menjamin akan senantiasa untung. Kalau pun untung, maka perlu diperhitungkan mana pengembalian uang yang lebih besar dibandingkan bunga dari hutang yang semakin menggulung. Ugh. . .

Menumpuk hutang baik tidak berarti baik untuk dilakukan

Bersahabat dengan hutang baik tak selamanya baik lho. Sebelum berhutang, pastikan pembaca telah menghitung rasio hutang yang dimiliki dengan rumus di bawah ini:

Jumlah hutang atau cicilan per bulan / Jumlah pemasukan setiap bulan

Bila kita memiliki hutang atau cicilan sebesar Rp. 2,000,000 per bulan dari penghasilan sebesar Rp. 4,000,000, itu artinya sebesar 50% dari penghasilan pembaca sudah habis untuk membayar hutang dan mengandalkan 50% sisanya untuk bertahan hidup. Hal ini sangatlah tidak sehat karena menurut buku yang saya baca, semakin kecil rasio hutang yang dimiliki, maka semakin positif cashflow kita. Namun, bila kita mampu membeli secara tunai, mengapa harus berhutang, ya kan?

Pin It on Pinterest