Tips agar terhindar dari lifestyle inflation yang menjerumuskan

Sekalipun tak kasat mata, lifestyle inflation nyata adanya. Pelajari beberapa tips agar terhindar dari lifestyle inflation disini.





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 15 Jul, 2020

Kategori: mengelola uang

Label:

Saat saya masih menjadi Full Time Employee (FTE) dulu, saya ingat salah satu rekan kerja saya pernah berpendapat seperti ini:

Saya mah kalo mau pindah kantor ga perlu muluk-muluk. Asal kenaikan gajinya melebihi dari suku bunga bank Indonesia setiap tahunnya, saya sudah senang”

Saya tidak tahu apakah diantara pembaca ada yang sependapat dengan rekan kerja saya tersebut, atau malah rekan kerja saya kebetulan membaca tulisan ini dan tersenyum sendiri mengenang indahnya kejayaan masa lampau.

Hahahaha~

Anyway, kita bakal bahas inflasi yang berbeda dari biasanya dan khusus inflasi yang satu ini dapat kita kendalikan. Selengkapnya setelah pesan komersial di bawah ini.



Apa itu inflasi?

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Lifestyle Inflation atau inflasi gaya hidup, terlebih dahulu kita wajib tahu apa itu inflasi. Inflasi merupakan kenaikan harga yang terjadi pada harga suatu barang atau jasa yang beredar di pasar. Suatu harga barang atau jasa sangat mungkin melonjak bila persediaan barang sedikit sementara permintaan membludak. Hal inilah yang disebut dengan Hukum Permintaan (The Law Of Supply).

Dalam artikel ini kita akan membahas 2 jenis inflasi seperti di bawah ini.

Inflasi yang dipengaruhi oleh hukum permintaan

Sebagai contoh, harga masker dan hand sanitizer sempat melonjak hingga 10x lipat di saat virus Covid19 tiba di Indonesia. Hal ini disebabkan persediaan masker dan hand sanitizer yang terbatas sementara permintaan yang tiba-tiba melonjak secara drastis. Kelangkaan masker dan hand sanitizer menjadi justifikasi atas kenaikan harga tersebut. Hal ini diperparah dengan belum tersedianya barang pengganti atau substitusi yang dapat menggantikan hand sanitizer atau masker tersebut, sehingga pembeli kesulitan mendapatkan barang penggantinya.

Inflasi yang terjadi diatas seringkali tidak bisa dikontrol oleh kita sebagai individu. Namun di beberapa sektor seperti pertanian atau perkebunan, inflasi sangat mungkin dikendalikan. Biasanya tengkulak atau penimbun akan menyimpan hasil tani dan kebun untuk waktu yang sangat lama. Hal ini bertujuan untuk menaikkan harga hasil tani dan perkebunan tersebut. Bila harga sudah terlampau tinggi, selanjutnya tengkulak atau penimbun akan menjual hasil tani dan kebun secara masif demi keuntungan yang sangat besar.

Jumlah persediaan yang telah kembali seperti semula akan membuat harga semakin turun dan malah lebih rendah dari biasanya bila terjadi over supply atau jumlah persediaan lebih banyak dari jumlah permintaan.

Berbeda dari inflasi yang dijabarkan di atas, kita akan membahas lifestyle inflation lebih rinci setelah pesan komersial berikut ini.



Apa itu lifestyle inflation (inflasi gaya hidup)?

Berbeda dari inflasi yang diceritakan pada paragraf sebelumnya, lifestyle inflation merupakan inflasi yang bisa kita kendalikan tanpa perlu intervensi orang lain. Contoh kasus bisa dibaca di bawah ini

Tono namanya. Saat ini ia berpenghasilan Rp. 3,000,000 per bulan. Ia memiliki kebiasaan untuk menyantap segelas kopi sebelum memulai keseharian dan aktifitasnya. Dengan budget yang terbatas, ia lebih memilih untuk menyantap kopi sachet yang ditawarkan oleh pedagang di pinggir jalan raya.

Selang sekian tahun Tono mendapat pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan lebih tinggi. Ia kini berpenghasilan Rp. 6,000,000 per bulan. Sejak saat itu, Tono tak pernah lagi menyantap kopi sachet yang dijajakan di pinggir jalan raya. Ia lebih memilih menyantap kopi yang tersedia di lobi gedung perkantoran tempat ia bekerja.

Contoh kasus di atas merupakan jebakan yang sering menjerat kita secara disadari maupun tidak. Ketika penghasilan kita bertambah, pengeluaran kita justru semakin bertambah dengan beberapa alasan impulsif seperti:

  • “ah santai saja, gw masih muda ini kok. Masih banyak waktu buat nabung. Gausah buru-buru kali!”
  • Yakilah bro kaku banget kayak kanebo kering. Seiring berjalannya waktu juga penghasilan kita tuh bertambah karena naik gaji. Udalah slow ae”
  • Iri bilang bos”
  • dan banyak lagi alasan-alasan lainnya

Kesalahan dari contoh kasus di atas ialah pengeluaran kita yang ikut meningkat mengimbangi penghasilan yang merangkak naik. Padahal, bila kita bisa hidup dengan penghasilan Rp. 3,000,000 per bulan, artinya kita bisa menabung selisihnya Rp. 3,000,000 untuk membangun kekayaan seperti:

  • Menabung untuk membeli rumah
  • Menyiapkan dana darurat
  • Menyiapkan dana untuk asuransi kesehatan / asuransi jiwa
  • Menabung untuk membeli kendaraan
  • Berinvestasi pada diri sendiri dengan membeli buku, mengikuti kursus, webinar, dan banyak lagi
  • Berinvestasi pada reksadana, saham, obligasi, hingga sukuk tabungan dan banyak instrumen investasi lainnya

Ada pun salah seorang teman saya yang senantiasa melakukan hal di atas. Selang beberapa tahun masa kerja, ia pun mendapati dirinya yang tidak memiliki apa-apa meski sudah bekerja bertahun-tahun. Waktu yang sudah dihabiskan tidak bisa diputar kembali, namun kita masih sempat untuk memperbaiki masa depan.

Saya sudah menyiapkan beberapa tips agar tehindar dari jebakan lifestyle inflation yang dibahas di atas. Selengkapnya setelah pesan komersial berikut ini.



Tips menghindari lifestyle inflation

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari lifestyle inflation atau biasa disebut sebagai kenaikan gaya hidup. Beberapa diantaranya adalah:

Financial Checkup. Do your homework!

Langkah pertama agar terhindar dari lifestyle inflation ialah dengan mengendal diri kita sendiri. Siapa sih kita sebenarnya? Berapa pengeluaran sebenarnya yang kita butuhkan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu melakukan financial checkup. Hitung kembali berapa pemasukan dan pengeluaran kita setiap bulannya. Siapkan budget untuk segala sesuatunya dan stick to the plan. Bila kita tidak menganggarkan budget, untuk kegiatan tertentu yang tidak darurat dan mendesak, maka pengeluaran bisa ditunda sekaligus menjadi feedback untuk melakukan Financial Checkup di bulan berikutnya.

Plan is cheap, execution is everything. Demikian salah satu quotes yang saya suka ketika sedang budgeting dan melakukan Financial Checkup atas pemasukan dan pengeluaran pribadi.

Jauhi teman dan lingkungan toxic

Setelah melakukan Financial Checkup seperti yang dibahas pada poin sebelumnya, selanjutnya kita perlu menjauhi teman dan lingkungan toxic yang sering berkata seperti ini:

  • “alah gaji jutaan masa ga mampu beli kopi 100rb”
  • “yaudah sih sekali-sekali mumpung abis gajian”
  • ah gak solid lu. Kan kita jarang juga kumpul2 sambil karoke gini”
  • dan banyak lagi alasan-alasan toxic lainnya.

Dibutuhkan keteguhan dan kekuatan iman serta ketahanan mental dalam merespon ujaran-ujaran sentimental seperti di atas. Bila kita tidak fokus, bisa-bisa kita malah terseret kedalam jurang Lifestyle Inflation. Solusinya ialah dengan membangun circle atau pertemanan dengan kesamaan mindset, interest, dan budget.

Sama halnya dengan membeli rumah. Pada artikel di bawah ini saya membahas tentang bahwa tidak semua orang perlu membeli rumah. Selengkapnya bisa dibaca pada artikel di bawah ini.

Ketika semua orang dan lingkungan sekitar bercerita bagaimana mereka membeli rumah pertama mereka, kita tidak perlu pusing dengan perbincangan mereka dan fokus pada kondisi keuangan dan kebutuhan diri sendiri.

Setiap orang memiliki pergumulan dan kebutuhan dan waktunya masing-masing, bukan?

Tips di bawah ini terdengar sedikit teknis dan memaksa, namun sangat baik untuk perkembangan uang di masa mendatang. Penjelasan lebih rinci setelah pesan komersial berikut ini:



Aktifkan fitur autodebet dalam membayar tagihan dan angsuran lainnya

Saya ingat bagaimana rasanya mendapatkan double income yang berasal dari gaji bulanan dan komisi asuransi. Rasanya seperti raja yang mampu membeli segalanya. Bila saya tidak aware akan adanya tagihan dan angsuran yang saya miliki, bisa-bisa penghasilan yang saya terima raib tak bersisa. Dampak buruknya ialah tagihan tidak terbayar sementara uang sudah terlanjur habis.

Salah satu cara saya untuk mengantisipasi hal tersebut ialah dengan menyalakan fitur autodebet dalam membayar tagihan dan angsuran.

Dengan mengaktifkan fitur autodebet, niscaya uang yang kita miliki dalam rekening tabungan akan berkurang dengan sendirinya. Uang yang hilang/berkurang tersebut digunakan untuk membayar tagihan atau angsuran yang kita miliki selama periode berjalan, sehingga seluruh tagihan, angsuran, dan cicilan tersebut dibayarkan tepat pada waktunya sekaligus meminimalisir peluang kita menghabiskan uang tersebut untuk pengeluaran yang tidak perlu.

Hidup di bawah penghasilan rata-rata

Setelah kita melakukan Financial Checkup dan Budgeting seperti yang dijelaskan pada poin pertama di atas, paling tidak kita telah memiliki gambaran berapa jumlah uang yang kita butuhkan setiap bulannya. Artinya kita tidak membutuhkan lebih banyak uang dari jumlah uang yang kita butuhkan setiap bulan. Selisih dari biaya hidup dan keseharian dapat dialokasikan untuk tabungan, investasi, dana pendidikan, dan perencanaan keuangan lainnya.

Tabungan dan investasi inilah yang akan menjadi penghasilan tambahan di masa mendatang. Pengeluaran merupakan sesuatu yang paling mudah kita kendalikan, sementara penghasilan tidak. Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk pay me first dengan menyiapkan tabungan dan investasi yang akan menjadi penghasilan di masa depan.

Demikian beberapa tips yang dapat membantu kita agar terhindar dari Lifestyle Inflation yang kedatangannya sering tidak dapat ditebak. Be bold and be strong karena apa yang akan kita lakukan sangat membantu kita di masa depan. Pay ourselves first, ujar Robert Kiyosaki. Our future selves akan berterima kasih kepada diri kita di saat ini karena tidak menghabiskan banyak uang di masa kini dan menyiapkan uang di masa depan.

Semoga tulisannya bermanfaat dan kita belajar hal baru lagi hari ini. Bila ada pertanyaan, komentar, sanggahan, boleh banget dibagikan di kolom komentar bagian paling bawah dari halaman ini dan saya akan merespon sesegera mungkin. Pembaca bisa mendapatkan bantuan terkait produk asuransi dengan mengunjungi tautan berikut ini.

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This