Menuju new normal dari sisi keuangan dan finansial

Menuju new normal dari sisi keuangan dan finansial





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 31 Mei, 2020

Kategori: mengelola uang

Mungkin sekaranglah waktunya kita berbenah dan bersiap menuju new normal yang konon yang diterapkan mulai bulan Juni tahun 2020. Tidak terasa kita sudah menerapkan gaya hidup yang berbeda dari biasanya sejak ditetapkannya pasien pertama virus Covid19 di Indonesia pada bulan Maret 2020 silam. Mulai dari cara kita berpakaian, mencari nafkah, hingga kita mulai terbiasa untuk mengenakan masker dan selalu membawa hand sanitizer kemanapun kita pergi.

3 bulan berlalu, kini kita dihadapkan pada suatu masa yang belum pernah dihadapi sebelumnya: New Normal yang akan dibahas secara lebih lanjut setelah pesan sponsor berikut ini.



Sedikit penjelasan tentang new normal dan pengaruhnya pada kehidupan kita sehari-hari

Sesuai namanya, new normal berasal dari 2 kata dalam bahasa Inggris yang dapat diartikan sebagai Kebiasaan Baru. Ini berarti kita sebagai individu wajib beradaptasi dengan kebiasaan yang mungkin belum pernah kita lakukan sebelumnya, seperti:

Mencuci tangan dan mengenakan masker

Sebelum pandemik ini mewabah di Indonesia, mencuci tangan hanyalah kegiatan yang selalu dilakukan oleh sebagian orang. Kini mencuci tangan dan mengenakan masker seakan menjadi Kebiasaan Baru dan telah menjadi bagian dari keseharian kita. Kegiatan mencuci tangan inipun didukung oleh disediakannya sarana cuci tangan dan masker di beberapa sudut atau ruangan publik, seperti:

  • Pusat perbelanjaan
  • Rumah ibadah
  • Gerbang masuk komplek
  • Rumah warga yang menyediakan aiar dan sabun cuci tangan secara sukarela
  • Stasiun kereta
  • Terminal
  • dan tempat umum lainnya

Paling tidak, kita sudah belajar gaya hidup bersih dan sehat.

Beraktifitas di rumah dan tidak bersalaman dengan orang lain

New normal atau Kebiasaan Baru lainnya yang muncul akibat wabah pandemik ini ialah beraktifitas di rumah dan tidak bersalaman dengan orang lain. Mungkin diantara kita masih ada yang tengah mencoba untuk terbiasa dengan hal ini. Kita dituntut untuk melakukan serangakaian aktifitas dari rumah, seperti:

  • Belajar
  • Bekerja
  • Berdagang
  • Mengajar
  • Berkarya
  • dan kegiatan lainnya demi menghidupi keluarga dan membayar sisa-sisa tagihan yang ada

Lebaran tahun ini sudah pasti terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Lebaran tahun 2019 silam kita masih sempat mudik untuk bersilaturahmi, mengunjungi sanak, saudara, famili dan keluarga. Kita datang mengunjungi mereka demi meluapkan rasa rindu sekaligus bermaaf-maafan atas segala kesalahan yang terjadi.

Hal indah tersebut tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Lebaran tahun 2020 penuh dengan momok dan bayangan ketakutan serta masa karantina demi meminimalisir meluasnya virus Covid19. Himbauan untuk tidak mudik pun dilontarkan oleh pemerintah demi meredam meluasnya penyebaran virus Covid19. Beberapa orang mungkin tidak punya opsi lain selain pulang kampung karena tidak memiliki penghasilan untuk menopang kehidupan di tanah rantau.

Dengan kondisi sekarang, mungkin Indonesia tidak memiliki opsi lain selain menghadapi New Normal secara jantan. Roda perekonomian Indonesia harus berputar berapapun harga dan risiko yang harus dibayar.

In short, kita sebagai penduduk sipil dituntut untuk tetap bertahan hidup, menjadi bagian dari perputaran roda perekonomian di Indonesia. Warung harus tetap buka. Perkantoran harus tetap beroperasi. Transportasi dan fasilitas umum harus tetap beroperasi seperti biasa. Kita harus terbiasa dengan Kebiasaan Baru.

Mumpung kita lagi beradaptasi dengan Kebiasaan Baru, mengapa tidak sekalian kita memperbarui cara pandang dan pola berpikir kita terhadap uang yang akan dibahas secara rinci setelah pesan komersial berikut ini.



New normal, new me, new financial being

New year, new me.

Kalimat tersebut sering kita dengar di masa pergantian tahun hingga setelah pergantian tahun. Tujuannya ialah untuk membentuk mindset yang positif bahwa di tahun selanjutnya kita akan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Beberapa bulan sebelum pergantian tahun, mungkin kita sudah menentukan target dan mimpi yang akan dicapai di tahun selanjutnya serta merumuskan bagaimana cara kita mencapainya. Tujuan dan target tersebut kemudian kita breakdown ke level yang paling kecil agar lebih mudah terukur dan mengevaluasinya.

Serupa dengan pergantian tahun baru tersebut, inilah waktu yang pas bagi kita untuk menentukan target dan mimpi yang akan kita lakukan di tahun 2020. Kita masih memiliki waktu 6 bulan sebelum kita secara bersama-sama beranjak ke tahun 2021. Berikut beberapa target dan mimpi yang mungkin dapat menjadi referensi bagi pembaca untuk mencapai New normal, new me, new financial being:

100% debt free!

Saya ingat salah satu teman saya yang bercerita dengan bangga bahwa ia memiliki Kartu Kredit lebih dari satu. Ia percaya bahwa Kartu Kredit merupakan bukti bahwa ia memiliki finansial yang stabil dan kokoh sehingga Bank menitipkan Kartu Kredit padanya. Usut punya usut, ternyata Kartu Kredit yang berjumlah lebih dari satu itu digunakan untuk membayar tagihan Kartu Kredit lainnya.

Di sisa tahun 2020 yang tengah berisap menuju new normal ini, yok kita rapihin tagihan dan utang kita yang masih belum lunas, karena utang merupakan produk keuangan yang merenggut penghasilan kita di masa depan. Bila bulan depan kita memiliki penghasilan berupa gaji, gaji yang kita terima menjadi tidak utuh karena kita harus membayar utang kartu kerdit yang tak kunjung usai.

Menurut saya utang merupakan komponen top priority yang harus diselesaikan sesegera mungkin dengan beberapa pertimbangan setelah pesan komersial berikut ini:



Utang itu berbunga!

Saya tidak mengerti bila ada orang yang berpikiran bahwa kita tidak perlu repot dengan utang yang kita miliki dengan alasan klaik seperti di bawah:

B0l3h DoNk N9utAng, kHan BuN9A 0%

halah~

Yup, kita tentu sering menjumpai iklan terutama iklan kartu kerdit yang berteriak keras di telinga kita: CICILAN 0 %.

Ketika kita mendapati tulisan tersebut, bukan berarti tagihan yang kita miliki akan berlalu dengan mudah. Untuk setiap tagihan kartu kerdit yang belum dilunasi akan dikenakan Bunga. Untuk setiap keterlambatan dalam melakukan pembayaran dikenakan Penalti. Dari nominal yang kita gunakan, selalu ada penalti dan bunga yang bertujuan untuk menaikkan nominal yang wajib kita lunasi.

Bila tidak hati-hati, kita mungkin terjerat dalam tagihan Kartu Kredit berkepanjangan yang seakan tak pernah usai menggerogoti penghasilan kita setiap bulannya.

Target lainnya dapat kita capai ialah menabung dana darurat yang dibahas setelah pesan komersial berikut ini.



Menyiapkan tabungan dana darurat dan asuransi

Kesalahan yang sering saya temukan pada seseorang yang memiliki uang ialah mereka berinvestasi. Saya tidak bilang bahwa investasi itu salah, namun saya juga gak bilang bahwa investasi itu benar. Bila kita belajar keuangan, hanya ada hal yang paling penting dan wajib dikendalikan secara disiplin, yakni:

  • Pengeluaran
  • Pemasukan

Utang yang kita bahas pada poin sebelumnya jelas diakui sebagai pengeluaran, sekalipun utang tersebut dikategorikan sebagai utang negatif maupun utang positif. Satu hal yang pasti, hari ini utang tersebut membawa kabur uang kita.

Utang negatif merupakan cicilan, tagihan, atau angsuran untuk membeli produk jasa dengan nilai nominal yang kian turun seiring berjalannya waktu. Utang positif merupakan cicilan, tagihan, atau angsuran untuk membeli produk

Bila kita harus memilih mana yang lebih penting antara investasi dan tabungan dana darurat, sebaiknya dahulukan Dana Darurat. Pentingnya Dana Darurat dapat dibaca melalui artikel berikut ini.

Bila kita lebih mendahulukan investasi dibandingkan dana darurat, kita mungkin akan kesulitan mencairkan uang dalam investasi tersebut di tengah kondisi yang penuh dengan uncertainty seperti sekarang. Lain halnya bila kita sudah memiliki tabungan Dana Darurat yang memadai, kita akan lebih siap merencanakan dan melakukan segala sesuatu yang perlu seperti:

  • Membeli kebutuhan pokok bila suasana dan kondisi semakin memburuk
  • Menyelamatkan diri ke luar negeri (?)

Saya telah menulis beberapa artikel terkait Dana Darurat yang bisa dibaca secara gratis melalui tautan berikut ini.

Asuransi pun merupakan komponen penting dalam perencanaan keuangan yang berfungsi untuk meminimalisir pengeluaran yang besar hanya dengan mengeluarkan uang kecil. Kita sebagai nasabah asuransi memiliki kekayaan berlimpah yang dapat membantu kita untuk mengelola risiko finansial di masa mendatang. Singkatnya, kita memindahkan risiko kehidupan kepada Perusahaan Asuransi yang hartanya berpuluh-puluh kali lipat banyaknya!

Tips yang terakhir ialah berinvestasi dan akan dibahas setelah pesan komersial terakhir berikut ini.



Investasi merupakan lawan kata dari utang. Bila utang menggerogoti pemasukan kita di masa mendatang, Investasi justru menambah kekayaan kita di masa mendatang.

Hayoo, siapa diantara kita yang tidak mau kaya?

Mendengar kata Investasi seakan membuat mata kita menjadi hijau dengan lidah menjulur karena ekspektasi yang terlalu tinggi, yakni:

  • Kekayaan kita akan bertambah
  • Uang kita di masa depan akan bertambah

Padahal, dalam berinvestasi selalu ada yang namanya risiko. Semakin tinggi risikonya, semakin besar pula keuntungan yang akan didapat. Sebaliknya, semakin rendah risikonya, semakin rendah pula imbal hasil investasi yang akan diperoleh.

Mengapa kita tidak menginvestasikan seluruh uang kita?

Pertanyaan bagus dari Ferguso.

Sesuai paragraf diatas, kita akan lebih mudah diperdaya dengan iming-iming dan angin surga terkait passive income dan menggandakan uang. Kita yang awam mungkin masih berpikir bahwa investasi merupakan hal yang terpenting karena uang hasil inestasi bisa digunakan untuk banyak keperluan, seperti:

  • Tabungan dana pensiun
  • Tabungan dana darurat
  • Tabungan pendidikan
  • Membayar tagihan rumah sakit
  • Membayar biaya pemakaman
  • Menggantikan penghasilan yang hilang akibat risiko kehidupan
  • Makan makanan enak
  • Liburan ke luar negeri
  • Menempuh jenjang studi yang lebih tinggi
  • Memperoleh kehidupan yang lebih layak
  • Travelling ke luar negeri yang pemandangannya mevvah
  • dan banyak lagi fungsi uang lainnya

Sehingga kita berpikir bahwa investasi merupakan hal yang wajib dilakukan dan komponen yang paling penting dalam perencanaan keuangan.

Kita sebagai manusia sering lalai dan lupa. Lupa kalau kita hidup di hari ini. Here and now dimana uang Rp. 1,000,000 hari ini lebih penting Rp. 100,000,000 2 tahun ke depan. Bila kita menginvestasikan seluruh uang yang kita miliki, besar kemungkinan kita tak memiliki apapun hari ini. Padahal kita sangat membutuhkan uang tersebut hari ini.

It’s all about priority

Di era new normal yang rencananya akan dimulai dalam waktu beberapa bulan kedepan, ada baiknya kita melakukan Kebiasaan Baru secara finansial di atas demi masa depan yang lebih baik serta ketahanan finansial yang lebih baik menghadapi layoff dan pandemik yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi.

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This