Efek psikologis yang menjadi penyebab gaya hidup konsumtif

Efek psikologis yang menjadi penyebab gaya hidup konsumtif





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 20 Nov, 2018

Kategori: mengelola uang

Label: boros | konsumtif

Berhemat dan menabung merupakan kegiatan yang sangat sulit untuk dilakukan bagi mereka yang tidak membiasakan diri untuk hidup hemat dan menabung. Saya ingat pertama kali orangtua membelikan saya meja belajar yang sudah termasuk dengan celengan. Setiap hari orangtua memberikan sejumlah uang untuk ditabung ke dalam meja belajar tersebut. Ketika celengan tersebut sudah penuh, kami membongkarnya bersama – sama dan uang tersebut dibelikan mainan baru.

Ah sungguh masa kecil yang indah. . .

Ketika memperoleh penghasilan secara mandiri dan membayar tagihan diri sendiri, entah mengapa berhemat dan menabung menjadi proses yang melelahkan seperti yang diceritakan oleh lirik lagu Doraemon berikut ini:

“Aku ingin beli ini, aku ingin beli itu, beli ini itu banyak sekali”

Ups, bukan itu lirik sebenarnya. Namun gaya hidup konsumtif memang kerap kali mengintai bagi kita yang tidak celik dan waspada. Beberapa efek psikologis di bawah ini turut bekerja dalam otak dan pikiran sehingga kita menjadi seseorang yang konsumtif dan boros:

Efek Diderot

Efek Diderot merupakan istilah yang ditemukan oleh Denis Diderot, seorang filsuf asal Perancis. Efek Diderot menggambarkan tentang seseorang yang membeli barang baru seperti baju, sepatu, kaos, dsb. Barang baru tersebut terlihat begitu mewah sehingga barang lama terlihat jelek dan kuno. Alhasil orang tersebut akan meninggalkan barang lama dan menggantinya dengan barang baru.

Bagaimana agar terhindar dari Efek Diderot?

Mudah saja. Kita hanya perlu fokus pada barang apa yang akan kita beli, dan kita ukur apakah barang tersebut membawa perubahan / dampak yang signifikan dalam hidup kita atau tidak.

Sebagai contoh, seseorang driver Gojek membutuhkan Smartphone untuk bekerja dan mencari sewa. Tentu saja ia tidak membutuhkan Smartphone dengan lensa megapixel yang maksimal. Ia tentu lebih membutuhkan Smartphone dengan battery yang tahan lama dan anti air. Setelah membeli hape baru, ia dapat meninggalkan hape yang lama.

Pamer

Jika kita tergolong kedalam orang yang sangat suka pamer, maka kita telah terkontaminasi oleh efek psikologis ini. Banyak orang membeli barang yang tidak mereka perlukan, agar dipuji dan disanjung oleh orang yang sama sekali tidak peduli dengan barang apa yang kita miliki.

Bagaimana agar tidak tidak pamer?

DIAM. Jangan pamerkan atau tunjukkan barang yang dibeli. Sikap pamer mungkin menimbulkan kecemburuan dan mengundang orang jahat beraksi atas anda.

Efek Bandwagon

Disadari atau tidak, efek Bandwagon ini sudah terjadi sejak dulu kala. Saya ingat ketika film Tersayang sedang ramai di tahun 1990-2000an silam. Aktor yang tampil dalam film tersebut mengenakan topi Tersayang. Tiba – tiba topi Tersayang ini menjamur di pasaran.

Contoh lainnya ialah batu cincin / batu akik yang kini telah hilang tanpa jejak. 2 hingga 3 tahun lalu saya menemukan penjual batu akik hampir dalam radius 3 meter. Karena banyak yang memakai cincin batu akik, alhasil terjadi peningkatan dari sisi supply dan demand yang membuat harganya meroket. Kini, tidak ada seorang pun yang peduli atau bahkan mengenakan cincin batu akik.

Efek Bandwagon merupakan seseorang yang ingin membeli / memiliki sesuatu hanya karena orang lain memilikinya. Padahal barang / sesuatu tersebut tidak memiliki nilai ekonomis ataupun tidak sesuai dengan daya beli orang tersebut.

Bagaimana agar terhindar dari Efek Bandwagon?

Sebelum membeli barang, ada baiknya kita menjawab pertanyaan di bawah ini:

  •  Apakah harganya sesuai dengan kemampuan saya?
  • Apakah manfaatnya sesuai dengan ekspektasi saya?
  • Mengapa saya harus membelinya?
  • Apakah ada alternatif / pilihan lain dengan manfaat yang sesuai dengan ekspektasi saya?

Dengan menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat menimbang apakah barang yang diinginkan memang layak untuk dibeli saat ini atau bisa ditunda untuk kemudian hari.

Efek impulsif

Saya pun sering melakukan hal ini. Pembelian impulsif merupakan transaksi yang dilakukan untuk menghibur diri maupun menyenangkan hati.

Pernahkah anda menjalani hari yang begitu buruk seperti kendaraan rusak mendadak, pekerjaan menumpuk dan menerima komplen dari bos, juga kemacetan yang tak kunjung usai? Kemudian anda memutuskan untuk mampir ke salah satu mall dan membeli banyak sekali barang hanya untuk menenangkan hati?

Jika ya, maka pemblian tersebut tergolong kedalam pembelian impulsif. Artinya kita membeli untuk menyenangkan hati, bukan untuk mendapatkan manfaat dari tiap barang yang dibeli.

Trik supermarket yang bekerja dalam alam bawah sadar manusia

Bila anda mampir ke salah satu distributor atau retail, anda akan menghadapi beberapa kesamaan di bawah ini:

  • Pelayan toko yang ramah
  • Musik yang lembut
  • Aroma dan wewangian yang segar
  • Tidak ada jam terpampang disana
  • Jendela yang ditutup / dialasi sehingga sinar matahari tidak dapat masuk
  • dan lain sebagainya.

Kesamaan tersebut bertujuan untuk membuat pelanggan nyaman, mengabaikan waktu dan berbelanja hingga uang mereka habis.

Yang paling menarik dari 5 poin diatas ialah pelayan toko yang ramah. pelayan toko akan memberikan pelayanan terbaik agar kita membeli dan menghabiskan uang di toko tersebut.

Bagaimana agar terhindar dari trik supermarket?

Sewaktu saya kecil, orangtua senantiasa berpesan kepada saya agar makan dahulu sebelum bepergian dan selalu membawa botol minum agar tidak perlu mengeluarkan uang hanya untuk minum. Hal ini senantiasa saya lakukan agar ketika saya berbelanja, saya tidak perlu mampir di restoran hanya untuk makan dan minum.

Selain itu saya juga membuat daftar barang yang akan saya beli dan senantiasa fokus pada daftar tersebut.

Efek diskon dan penawaran terbaik

Sebagian orang mungkin memilih promo buy one get one free dibandingkan dengan diskon 50%, namun tidak bagi saya. Saya lebih memilih diskon 50% dibandingkan promo buy one get one, karena saya uang saat ini lebih penting dibanding uang di masa yang akan datang.

Bagaimana agar terhindar dari efek diskon dan penawaran?

Cari tahu produk / barang seperti apa yang anda butuhkan. Apakah anda membutuhkan 1 buah barang untuk jangka panjang atau membutuhkan banyak barang. Saya akan memilih mesin cuci dengan diskon 50% dibandingkan promo buy one get one. Dengan promo 50%, saya dapat membeli mesin cuci dengan kualitas yang lebih baik.

It’s my money, it’s now or never.

Terinspirasi dari lirik lagu Bon Jovi, ini kisah nyata yang saya alami ketika saya hendak pulang ke rumah. Seorang kondektur bus yang mencari sewa dengan lantang berteriak: “Merak, Merak, Bus terakhir – bus terakhir!”

Kondisi tubuh yang lelah ditambah hari semakin gelap membuat saya dan penumpang lain di sekitar berpikir bahwa tidak ada bus lain selain bus yang lewat ini. Alhasil kami semua naik kedalam bus tersebut dan berdiri di sepanjang perjalanan. Di sepanjang perjalanan pulang, kami mendapati bus kami beberapa kali disalip oleh bus lain dengan tujuan yang sama dengan bangku yang belum terisi penuh. Yahheellaaahhhhh!

Secara tidak langsung, kondektur tersebut telah memainkan psikologis kami. Jika saya bersabar sedikit saja, saya bisa pulang ke rumah dengan tarif yang sama dan kondisi yang lebih nyaman, Disadari atau tidak, kondisi ini sering terjadi pada kita seakan kita tidak memiliki pilihan lain selain bertransaksi pada waktu yang bersamaan.

Apakah anda pernah mengalami satu atau lebih dari efek psikologis diatas?
Bagikan cerita lengkap dan cara menanggulanginya pada kolom komentar di bawah ini yah.

Artikel yang berkaitan











2 Komentar

  1. Munasyaroh

    alhamdulilllah saya tidak pernah ikut-ikutan tren yang terjadi. dari dulu begini adanya. meskipun dibilang norak atau kampungan

    Balas
    • nencor

      Sama mba. Lebih mudah meningkatkan gaya hidup dibandingkan menurunkan gaya hidup.

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This