Kapan rumah dikatakan sebagai beban dan bukan investasi?

Kapan rumah dikatakan sebagai beban dan bukan investasi?





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 22 Jun, 2020

Saya rasa terlalu banyak orang yang beranggapan bahwa rumah adalah investasi. Rumah adalah aset. Dari generasi sebelumnya alias generasi Boomer dahulu, kita sering mendengar ucapan bahwa rumah merupakan investasi. Saya yang sudah mengetahui kondisi sebenarnya sih ketawa aja ngeliat agen atau sales properti yang berburu prospek melalui media sosial di Internet terus menjual mimpi dan angin surga bahwa rumah merupakan aset, rumah adalah investasi.

Mau berinvestasi? Ya rumah solusinya!

Setelah kita berhubungan dengan sales properti dan memutuskan untuk membeli rumah yang mereka jual, tiba waktunya nomor handphone yang kita miliki diserang dengan sms penawaran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan bunga yang bervariatif. Ketika saya bertanya apakah ada penawaran yang lebih menarik, mereka menjawab tidak ada yang kemudian disambung “nanti juga harga rumahnya juga naik pak. Pasti untung kok”.

Kondisi inilah yang nyata saya alami ketika memutuskan untuk membeli rumah di Citra Maja Raya.

Beruntung saya mendapat penawaran menarik dari bank BNI dengan produk BNI Griya yang memberikan saya bunga KPR sebesar 4% fixed selama 6 tahun dan dilanjutkan dengan floating rate pada waktu 2 tahun silam. Saya akan membagikan kontak agen tersebut melalui tautan yang tertera pada bagian akhir dari artikel ini, so keep scrolling setelah pesan komersial berikut ini.



Perbedaan antara aset dengan beban

Sebelum kita kupas lebih dalam terkait rumah bukanlah investasi, terlebih dahulu kita perlu mengetahui perbedaan antara aset dengan beban. Saya akan menggunakan definisi secara sederhana yang dijelaskan oleh Robert Kiyosaki sebagai berikut:

Aset berfungsi untuk menambah kekayaan dan menyimpan uang kedalam dompet sementara Beban berfungsi untuk mengurangi kekayaan dan mengeluarkan uang dari dalam dompet.

Berdasarkan penjelasan sederhana di atas, bisa dibilang kita sudah berada dalam satu frekuensi dan siap untuk menggali lebih dalam terkait investasi rumah di bawah ini.

Kapan rumah tidak dikatakan sebagai investasi?

“Rumah merupakan bagian dari investasi. Rumah adalah aset karena harganya cenderung meningkat dan ia mendatangkan uang bagi kita.”

Ucapan di atas merupakan 100% benar bagi mereka yang berprofesi sebagai agen properti dan sales KPR yang mendapatkan penghasilan dengan menjual properti serta produk perbankan. Bila mereka tidak melakukan closing atau penjualan, bisa jadi mereka tidak akan mendapatkan komisi.

Lalu, apakah rumah merupakan investasi bagi pemilik properti?

Pertanyaan di atas akan kita kupas setelah pesan sponsor berikut ini.



Kisah Drain>Gain

Saya mau bercerita tentang salah seorang tetangga saya yang merasa kesulitan untuk membayar angsuran rumah di masa krisis dan resesi seperti sekarang. Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran virus Covid19 mengubah banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Beberapa fasilitas umum berhenti beroperasi
  • Perusahaanmewajibkan pegawainya untuk Work From Home (WFH)
  • Perusahaan melakukan pemotongan upah terhadap pegawai
  • Beberapa negara terpaksa menutup akses transportasi sehingga seseorang tidak dapat berpindah tempat seperti biasanya
  • dan banyak lagi contoh lainnya.

Di kala kondisi resesi tersebut, tetangga saya yang tidak mau disebutkan namanya mengeluh berkurangnya pemasukan sementara angsuran KPR harus dilunasi beserta tagihan-tagihan lain seperti:

  • Iuran Pemeliharaan Lingkungan (keamanan, sampah, kebersihan lingkungan dan kang kebun),
  • Tagihan air PDAM,
  • Tagihan listrik PLN,
  • Pajak bumi dan bangunan (PBB),
  • Biaya renovasi dan perbaikan (bila diperlukan).

Sudah pasti tetangga saya tersebut wajib menyiapkan anggaran untuk melunasi 5 tagihan di atas sekalipun pemasukan sedang tiris. Ia mencoba untuk menyewakan rumahnya, namun tak kunjung tersewa lantaran fasilitas umum yang belum memadai, persis seperti kondisi yang saya ceritakan pada artikel di bawah ini. Ia pun berusaha untuk menjual rumahnya, namun tak satupun pembeli yang melakukan follow up di masa wabah dan pandemik menyerang.

Mana rumah yang dulu dibilang sebagai aset dan menambah kekayaan?

Selain 3 tagihan di atas, rumah yang ia beli tersebut membutuhkan banyak renovasi dan perbaikan agar dapat menjadi tempat hunian yang layak bagi keluarga. Instead of gaining more money, rumah itu malah draining more money.

Ia akhirnya memutuskan untuk hengkang dari perumahan Ciputra Group tersebut dan berusaha sekuat mungkin bertahan hidup di kala penderita Covid19 semakin bertambah.

Berdasarkan cerita di atas, apakah rumah masih dapat dikategorikan sebagai investasi?

Setelah pesan sponsor di bawah ini, saya akan menjelaskan bagaimana rumah dapat dikategorikan sebagai investasi, so keep scrolling!



Kapan rumah dikatakan sebagai investasi?

Rumah bisa kita kategorikan sebagai investasi dengan beberapa pertimbangan di bawah ini:

Rumah yang dijual dengan harga yang lebih tinggi adalah investasi

Saya pernah membaca salah satu buku keuangan yang menyebutkan bahwa:

“Untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi, belilah barang tersebut dengan harga yang lebih rendah, bukan malah sebaliknya.”

Saya lupa dari buku mana quotes tersebut berasal, namun quotes tersebut ada benarnya. Dengan nominal uang yang sama, lebih baik kita membeli banyak rumah dengan harga 200jt dibanding 1 rumah dengan harga 1M. Hal ini disebabkan oleh semakin tinggi harga suatu rumah, semakin jarang pula pembelinya. Sebaliknya, semakin rendah harga suatu rumah, semakin banyak pula pembelinya.

Setelah melakukan negosiasi harga dengan pembeli, rumah yang dijual akhirnya membawa pemasukan bagi pemilik unit. Kondisi inilah yang menjelaskan bahwa rumah merupakan investasi.

Bagaimana bila rumahnya tak kunjung terjual?

Contoh yang ini malah lebih lucu lagi. Saya sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki rumah di suatu wilayah dan bercerita dengan bangganya bahwa harga rumah di sekitar perumahan tersebut telah mencapai harga tinggi (sebut saja milayaran). Ketika mereka saya tanya mengapa rumah tersebut tak kunjung terjual, mereka ngeles kalau menjual rumah membutuhkan waktu dan upaya lebih.

padahal, bisa saja pembeli sudah tak berminat untuk membeli rumah di harga yang terlampau tinggi di atas harga pasaran.

Rumah yang tak kunjung terjual atau dihuni biasanya akan rusak dan hal ini justru memaksa kita untuk mengeluarkan uang lebih banyak untuk perbaikan dan renovasi rumah.

mau untung, malah buntung si bos.

hehe.

Biar yang pasti untung yok langsung sulap rumah menjadi pemasukan pasif setelah pesan sponsor berikut ini



Rumah yang disewakan adalah investasi

Apakah masih ada diantara kita yang (masih) berpikir bahwa kita wajib bekerja untuk mendapatkan uang? Bagaimana bila kita menyuruh uang untuk bekerja memberikan pemasukan bagi kita? Apakah hal ini mungkin dilakukan?

Hal tersebut sangatlah mungkin untuk dilakukan dengan menyulap rumah menjadi pemasukan pasif seperti:

  • Kontrakan
  • Kost-kostan
  • Bedeng
  • hingga bekerja sama dengan hotel aggregator seperti Roomme, Zenrooms, OYO, Airy, dan lain sebagainya

Dengan menyulap rumah menjadi pemasukan pasif, unit rumah tersebut justru bekerja keras memberikan kita kekayaan, fleksibilitas, ketenangan, serta pemasukan tanpa perlu menggunakan waktu dan tenaga kita.

Bila rumah yang kita miliki tak kunjung terjual/disewa, maka masih ada cara terakhir untuk memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari memiliki rumah setelah pesan sponsor berikut ini.



Rumah yang dihuni adalah (bukan) investasi

Berbeda dari 2 poin sebelumnya, poin ini akan membahas bagaimana rumah yang dihuni adalah bukan investasi, sebab ia tidak memberikan pemasukan bagi kita. However, dengan menghuni rumah sendiri, kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengontrak atau menyewa sekalipun harus membayar tagihan yang timbul atas kepemilikan suatu rumah.

Dengan menghuni suatu rumah, paling tidak kita sedang berinvestasi nama baik, reputasi, dan exposure atas bsnis atau usaha yang kita jalankan, sehingga seiring berjalannya waktu dan fasilitas umum yang kian bertambah, usaha kita semakin besar dan menjadi produsen atau supplier dalam 1 perumahan.

Kesimpulan:

Ekspektasi saya menulis artikel ini adalah agar kita semua menjadi celik dan tidak mudah dirayu oleh agen properti dan sales KPR dengan dalih rumah adalah investasi. Memang di satu sisi rumah merupakan investasi yang baru bisa dipanen 10 tahun hingga 20 tahun ke depan. Rumah juga konon bagian dari kebutuhan primer manusia.

However, kita hidup di hari ini dan semua tagihan yang masuk ke kotak masuk email, SMS, hingga notifikasi hari ini wajib dilunasi sesegera mungkin. Jangan sampai hari ini kita mati-matian melunasi semua tagihan yang muncul demi mempertahankan investasi rumah yang baru bisa dipanen di masa depan.

Sesuai janji saya di paragraf atas, pembaca dapat mengunjungi tautan berikut ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank BNI. Beliau yang membantu saya yang masih newbie dalam urusan properti, KPR, selalu siap membantu hingga saya melakukan akad rumah pertama saya di salah satu bank BNI di Serpong 3 tahun silam.

Semoga tulisannya bermanfaat dan kita belajar hal baru lagi hari ini. Bila ada pertanyaan, komentar, sanggahan, boleh banget dibagikan di kolom komentar bagian paling bawah dari halaman ini dan saya akan merespon sesegera mungkin. Pembaca bisa mendapatkan bantuan terkait produk asuransi dengan mengunjungi tautan berikut ini.

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This