Tips membeli rumah di saat pekerjaan tak menentu

Tips membeli rumah di saat pekerjaan tak menentu





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 17 Feb, 2020

Artikel ini saya dedikasikan kepada Matthias Janu yang telah mengajukan pertanyaan yang menurut saya sangat berharga dan bermanfaat untuk dibagikan kepada khalayak banyak. Pertanyaan tersebut di lontarkan via Direct Message akun Instagram saya yang berbunyi demikian:

Pertanyaan yang bagus biasanya lahir dari rasa ingin tahu yang tinggi.

Setelah melewati hari – hari yang penuh dengan kesibukan dan tanpa waktu tidur yang cukup, akhirnya saya memiliki sedikit waktu luang untuk menjawab pertanyaan tersebut dan nampaknya pertanyaan ini seakan menghantui beberapa teman saya atau malah pembaca sekalian yang sedang gelisah galau merana dalam memutuskan apakah sekarang waktunya yang tepat untuk membeli rumah.

Behold, for the captain is here to answer!



Di jaman disruptive seperti sekarang, memang tak ada yang pasti. Brand besar seperti Seven Eleven dan Uber memutuskan untuk keluar dari Indonesia. Bukalapak dan OYO yang memutuskan untuk melakukan lay off terhadap beberapa pegawai. Nokia yang sempat fanatik dan ogah menggunakan sistem operasi Android akhirnya harus membuka diri dan menggunakan sistem operasi Android. Yahoo yang enggan membeli Google, kini habis tak berkutik melawan Google yang telah berkembang secara masif. Burung raksasa berwarna biru yang sempat menguasai transportasi di Jakarta terpaksa bertekuk lutut di hadapan Gojek.

Anything can happen!

Jangankan pengusaha, menjadi pegawai yang sering dicap lebih aman dan nyaman pun wajib memiliki survival instinct sendiri. Bila tidak aware dengan kondisi perusahaan, bisa jadi keputusan finansial yang telah diambil justru menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Ya. Issue di atas memang nyata adanya. Saya tak kuasa membayangkan bila ada diantara kita yang baru saja melunasi DP dan melakukan akad KPR, ternyata harus mengalami lay off sehingga kita kehilangan beberapa benefit di bawah ini, seperti:

  • Penghasilan bulanan
  • Insentif
  • Komisi
  • Tunjangan Hari Raya (THR)
  • Lunchbox
  • Asuransi
  • dan tunjangan lain yang disediakan oleh perusahaan masing-masing.

Namun itu tak membuat saya bergeming dan memutuskan untuk menerjang resiko dengan membeli rumah di perumahan yang paling manis sedunia, yakni Citra Matcha Raya.




As you may already know, tidak semua orang membutuhkan rumah. Berbeda dari binatang bercangkang seperti kelomang, siput, keong, bekicot, penyu, dan kura-kura yang membawa rumahnya kemanapun mereka pergi, manusia memiliki keterbatasan di bidang yang satu ini. Bila binatang bercangkang tersebut telah memiliki rumah tinggal sejak lahir, anak manusia justru harus lahir tanpa rumah dan wajib membayar sejumlah uang hanya untuk membeli rumah dan memiliki tempat tinggal yang layak.

Beberapa waktu lalu saya telah menulis beberapa daftar atau checklist untuk menentukan apakah kita sudah waktunya untuk membeli rumah atau belum. Daftar dan checklist tersebut bia dilihat melalui artikel berikut ini. Saya menyarankan pembaca untuk melihat artikel tersebut sebelum membaca bagian selnjutnya dari artikel ini.

Bersiaplah, karena saya akan menjawab pertanyaan di atas secara jujur, terbuka, dan apa adanya.

Well, setiap orang berhak untuk merasa cemas, takut, dan was-was. Hal ini pula yang saya rasakan ketika saya memutuskan untuk membeli rumah yang jauhnya luar biasa. Dengan penghasilan seadanya dan tabungan yang tak banyak, dalam nama Tuhan Yesus saya beli rumah tersebut. Selebihnya, keputusan tersebut membawa saya ke dunia baru yang belum pernah alami sebelumnya.

Jika banyak financial planner yang menyarankan klien mereka untuk mengambil angsuran maksimal 30% dari gaji, angsuran yang wajib saya setorkan setiap bulannya justru lebih dari 30% penghasilan saya setiap bulan. 20% lagi wajib saya alokasikan untuk membayar kost-kostan di Jakarta. Total 50% penghasilan yang saya terima hilang begitu saja.

Lupakan soal traveling atau nongkrong tampan di pusat perbelanjaan maupun warung kopi kekinian. Untuk bertahan hidup sehari-hari saja saya mengalami kesulitan. Demi memenuhi kebutuhan perut, saya hanya membeli nasi dan telur dadar untuk 1x makan setiap harinya.

Setelah saya hitung-hitung, ternyata angsuran yang wajib saya bayarkan masih lebih rendah dari UMR Jakarta 2 tahun silam. Saya pun mendapatkan promo dari KPR BNI Griya dengan bunga 6% fixed selama 6 tahun.

Seiring berjalannya waktu, Tuhan percayakan saya berkat yang lebih banyak sehingga angsuran yang semula bernilai 36% dari penghasilan tiap bulan, kini hanya sekitar 18% dari penghasilan bulanan. Ini berarti saya memiliki spare 18% lagi untuk ditabung maupun diinvestasikan.



Dalam hal ini, apa yang sebenarnya terjadi?

Yang ingin saya tekankan dari cerita di atas adalah, bagaimana saya menekan waktu dan uang secara bersamaan. Saya memanfaatkan leverage. Demi mendapatkan angsuran yang sesuai dengan budget, saya rela mengambil cicilan dengan tenor dan jumlah angsuran yang masih dalam kemampuan saya.

Kenaikan penghasilan yang saya terima gagal membawa saya ke gaya hidup yang lebih tinggi. Saya masih menggunakan jaket kumal dan mengenakan sendal kemanapun saya pergi. Kenaikan penghasilan tersebut tidak membuat saya menjadi lebih sering nongkrong tampan dan travelling ke tempat-tempat yang Instagrammable dan Mainstream.

In short, the more you earn, the more you SHOULD save and invest.

Saya sadar, bahwa dengan kondisi finansial saya 2 tahun lalu, saya takkan mampu membeli rumah di Jakarta yang harganya sudah menyentuh harga milyaran. Sedikit keluar dari Jakarta, ternyata kondisi finansial saya pun masih belum mampu untuk memiliki rumah di sekitaran Cisauk dan Parung Panjang. Dipaksa mundur lebih jauh dari Jakarta yang sebentar lagi akan melepas status ibukota, ternyata kemampuan finansial saya hanya mampu memberikan tempat tinggal yang layak di Maja. Saya harus siap meluangkan waktu kurang lebih 2 jam untuk perjalanan dari Maja ke Jakarta dan sebaliknya, dari segi jasmani, rohani, hingga finansial.



Di paragraf di atas saya bercerita kalau saya berhasil meningkatkan penghasilan yang semula angsuran rumah saya berada di angka 36% dari penghasilan setiap bulan, kini angsuran tersebut berada di angka 18% dari penghasilan setiap bulan. Bila saya menyiapkan dana 36% dari penghasilan bulanan saya saat ini, itu berarti saya mampu membayar angsuran bulan ini sekaligus bulan selanjutnya.

In short, dalam 1x penghasilan bulanan, saya mampu membayar angsuran KPR selama 2 bulan. Dengan demikian, billing cycle saya dengan Bank tetap terjaga secara autodebet untuk menjaga Credit Scoring dan nama baik nencor dalam catatan BI Checking. Sisanya saya gunakan untuk Dana Darurat, just in case something happen seperti saya menjadi korban lay off selanjutnya.

In a big picture, bila saya konsisten selama 1 tahun, saya telah menyiapkan dana yang cukup untuk menopang angsuran KPR selama 2 tahun.

Nah itu tadi rencana dan strategi saya dalam menyiapkan dana untuk membayar angsuran rumah dikala pekerjaan tak menentu. Perlu diingat bahwa dalam cerita di atas saya menyandang status sebagai Full Time Employee. Artinya bila pembaca saat ini menyandang status sebagai Part Time Employee atau tenaga kerja kontrak, saya sarankan anda untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan. Pilihannya adalah:

  • Mengambil angsuran dalam jumlah minimal, namun wajib melakukan pembayaran angsuran dalam jangka waktu yang sangat panjang,
  • Mengambil tenor anggsuran dalam waktu singkat, namun wajib melakukan pembayaran angsura dengan nominal yang lebih besar.

Pilihan ada di tangan anda.



Hey, just in case kalian ingin ngobrol atau membutuhkan second opinion dari perencanaan keuangan dan melakukan financial decision, you are more than welcome to talk to me through Email/Whatsapp/Twitter, apapun yang dapat menghubungkan kita untuk berkomunikasi.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This