Gaji hanya 7 juta per bulan ternyata bisa beli rumah

Gaji hanya 7 juta per bulan ternyata bisa beli rumah





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 17 Sep, 2020

Wait.

Judul diatas sudah pasti misleading, karena penghasilan saya saat membeli rumah pertama adalah Rp. 6,500,000 per bulan. Artinya penghasilan saya lebih rendah dari yang disebutkan dan saya berhasil memiliki rumah pertama saya sebelum di usia 27 tahun.

Terus terang, saya gak merasa bangga, hebat, dan lain sebagainya dengan memiliki rumah. Hanya saja, saya sudah mendapatkan tempat tinggal tetap dan alamat surat menyurat just in case saya ingin membuka bisnis atau mengembangkan bisnis asuransi saya.

First thing first, artikel ini dirilis untuk membantah postingan yang ditulis oleh Yodhia Antariksa pada tautan berikut ini.

Meh.

Serupa dengan lembaga perencana keuangan Josuke yang terkena kasus beberapa waktu lalu, ngebahas duit emang paling seru bila dilakukan sambil menakut-nakuti pembaca atau audience. Bahasa gaulnya adalah Fear Mongering. Padahal, saya percaya bahwa literasi keuangan bisa diajarkan atau dibagikan dengan cara yang lebih seru dan menyenangkan sebagaimana perasaan membaca tulisan-tulisan saya di blog asuransimurni.com/blog.

Biar gak makin panjang tulisannya, yok kita mulai pembahasan bagaimana saya memiliki rumah pertama saya dengan penghasilan di bawah 7 juta Rupiah per bulan setelah pesan komersial berikut ini.



Membeli rumah in a glance

Siapa di antara kita yang tidak ingin memiliki rumah?

Yup. Sudah pasti anda yang lebih menyukai tinggal di apartemen tidak ingin memiliki rumah atau landed house. Tidak masalah. Setiap orang berhak memilih dan memiliki seleranya masing-masing. Tidak masalah apakah kita akan membeli rumah atau apartemen, karena dari sisi finansial keduanya nampak serupa. Kita membutuhkan tempat tinggal tetap sehingga kita tidak perlu menyiapkan sunk cost untuk membayar kontrakan atau kost-kostan. Ketika harga rumah dan apartemen membumbung tinggi, kita dapat menjual atau mengontrakan rumah yang telah kita miliki atau menjualnya kepada pembeli demi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Permasalahannya terletak pada apa yang diceritakan oleh artikel di atas yang secara eksplisit menakut-nakuti pembaca yang mungkin kurang melek atau aware soal keuangan.

Fear not! I am here to explain it to you.

Hari ini tanggal 16 September 2020. Saya melakukan sedikit research dan menemukan bahwa tidak ada wilayah atau daerah di Indonesia yang memiliki UMR (Upah Minimum Regional) sebesar Rp. 7,000,000. Apakah ini berarti sektor properti akan lesu dan harganya akan hancur?

Untuk memperjelas maksud saya, saya akan menceritakan bagaimana perjalanan dan petualangan finansial saya dalam mendapatkan rumah pertama dengan penghasilan dibawah Rp. 7,000,000 setelah pesan komersial berikut ini.



Membeli rumah di Citra Maja Raya in a glance

terus terang saya kurang memahami apa artinya in a glance. Kelihatannya sih keren jadi saya akan menggunakannya berulang-ulang. Hahahaha~

Saya membeli rumah pertama saya pada tahun 2017 dimana saya masih bekerja sebagai pegawai di perusahaan rintisan dengan penghasilan sekitar Rp. 6,500,000. Saya yang sekarang sangatlah berbeda dari saya yang dahulu, yang membeli rumah modal nekat tanpa tahu perhitungan, risiko, dan dampak finansial yang mungkin terjadi ketiak saya berani mengambil keputusan untuk mencicil/mengangsur rumah.

Saya yang pada waktu itu belum tahu apa-apa soal keuangan sudah diwajibkan memilih metode pembayaran yang digunakan. Bervariasi metode pembayaran ditawarkan oleh pihak pengembang kepada pembeli seperti saya. Karena minimnya pengetahuan saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil skema angsuran dengan DP 5% dan KPR 95%. Saya yang tidak tahu apa-apa sedikit merasa bangga karena saya akan segera memiliki rumah dan tempat tinggal tetap meskipun lokasinya di negeri antah berantah.

5 tahun setelah saya mendapatkan pekerjaan pertama saya, saya berhasil menyiapkan uang dapat digunakan untuk membayar DP rumah. Bila harga rumah impian saya adalah Rp. 200,000,000, maka saya perlu menyiapkan uang senilai Rp. 10,000,000 untuk pembayaran Down Payment yang selanjutnya akan dilunasi oleh bank pada saat KPR. Pada waktu itu saya tidak tahu bahwa pembayaran DP yang sangat kecil menyebabkan nilai angsuran saya yang membludak. Sungguh mahal harganya suatu kebodohan dan ketidaktahuan~

Singkat cerita, saya berhasil membayar DP dan melakukan proses akad KPR yang saya lakukan di hadapan pejabat bank dan notaris seorang diri. Tanpa ada referensi dan siapapun yang membimbing saya melalui proses tersebut, saya pergi ke KCP Bank BNI di serpong untuk menandatangani akad kredit dan memulai angsuran rumah impian dengan pihak Bank.

Angsuran yang dikenakan pada saya ialah Rp. 2,200,000,000. Itu berarti angsuran tersebut telah menghabiskan 33,84% dari penghasilan saya setiap bulan. Ini berarti setiap saya menerima upah, saya harus mengeluarkan 33,84% uang yang saya terima untuk membayar angsuran. Selain itu, masih ada banyak lagi biaya dan kebutuhan sehari-hari yang perlu saya lunasi. Paling tidak 50% dari upah saya habis untuk membayar angsuran rumah dan membayar angsuran. Saya tidak memiliki jalan lain selain:

  • Mengencangkan ikat pinggang dan berhemat
  • Menaikkan penghasilan
  • Menciptakan penghasilan tambahan


Membeli rumah versi asuransimurni.com VS strategimanajemen

Bila kita membandingkan antara harga rumah yang disajikan asuransimurni.com melalui artikel ini dengan harga rumah yang dibahas oleh strategimanajemen pada artikel di atas, tentu saja selisihnya berbeda jauh. Pada artikel ini saya yang berpenghasilan dibawah Rp. 7,000,000 sebulan harus menerima kenyataan bahwa lokasi rumah saya berada di tempat yang terpencil dan belum ramai. Sangat kontras bila dibandingkan dengan Cibubur yang telah tersedia dengan bervariasi fasilitas umum seperti:

  • Pusat perbelanjaan
  • Transportasi umum
  • Rumah Sakit
  • dan banyak lagi fasum/fasos lainnya

Kesalahan fatal dalam membeli rumah

Banyak orang tak menyadari bahwa ketika mereka membeli rumah, maka mereka telah memulai satu kesalahan fatal dalam hidup mereka. Untuk memperjelas kalimat ini, saya akan menjelaskannya rinci demi rinci setelah pesan komersial berikut ini.



Ada istilah yang selalu saya pegang teguh, yakni:

Jangan lebih besar pasak daripada tiang

Maksud dari pepatah tersebut ialah agar kita senantiasa menjaga pemasukan dan pengeluaran kita berada dalam arus kas yang positif atau menguntungkan sehingga kita dapat menabung atau berinvestasi.

Bila kemampuan finansial kita hanya mampu membeli rumah dengan harga Rp. 200,000,000 yang berada di lokasi terpencil, mengapa kita harus memaksakan diri membeli rumah dengan harga 2x lipat meski berada di tengah kota?

Mungkin manusia emang seneng disanjung dan dipuji sehingga mereka lupa diri, lupa siapa mereka dan lupa kualitas, dan kompetensi mereka, atau bahkan lupa kapasitas dan kemampuan finansial mereka. Bila saya memaksakan diri untuk membeli rumah sesuai yang diceritakan oleh bung Yodhia Antariksa, mungkin saya akan kewalahan membayar cicilan dan angsuran disaat kondisi menjelang resesi dan pandemik seperti sekarang.

Ketika kondisi menjelang resesi dan pandemik seperti sekarang, kita dapat melihat sekeliling dan menemukan orang-orang yang dirumahkan dan mendapat pemotongan penghasilan. Bisa dibayangkan bila penghasilan Rp. 6,500,000 tersebut harus dikenakan potongan pula. Bagaimana saya bertahan hidup dan membayar angsuran rumah yang saya beli dengan harga Rp. 200,000,000 tersebut?

beli rumah ga akan rugi kok karena harganya pasti naik

newbie, timeless forever

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa membeli rumah merupakan investasi. Kalimat ini ada benarnya dan ada salahnya. Saya percaya bahwa rumah adalah investasi. Hal tersebut hanya bisa terjadi bila kita membeli rumah dengan harga yang rendah agar sesuai dengan prinsip: Buy low sell high. Bila kita membeli rumah dengan harga yang relatif tinggi, lalu pada harga berapa saya harus menjual rumah tersebut untuk mendapatkan keuntungan?

Selain itu, rumah baru bisa dikatakan investasi ketika ia dapat melunasi dirinya sendiri. Artinya ketika kita memiliki rumah nganggur dan tak dihuni, kita wajib menyiapkan budget tambahan seperti:

  • Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL)
  • Pajak bumi dan bangunan
  • dan biaya-biaya lainnya yang timbul akibat memiliki rumah.


Tentukan pilihanmu dalam membeli rumah

Berdasarkan kisah di atas. Kita sudah mengerti titik permasalahannya, yakni:

  • Memilih rumah yang berada di pusat kota dengan harga yang relatif tinggi
  • Memilih rumah dengan harga yang relatif rendah dengan lokasi yang jauh dari kota

Keduanya memiliki plus dan minus masing-masing. Bila kita mengetahui kebutuhan dan urgensi dari memiliki rumah, niscaya membeli rumah merupakan keputusan terbaik yang pernah kita ambil.

Saya pernah menulis panduan yang dapat menjadi pertimbangan bagi pembaca sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli rumah. Salah satu poinnya ialah berhati-hati sebelum memutuskan membeli rumah bila kita belum siap untuk berkomitmen dalam membayar angsuran rumah dalam jangka waktu yang telah ditetapkan oleh Pengembang maupun Bank saat Kredit Pemilikan Rumah.

Panduan dan pertimbangan tersebut dapat dibaca melalui artikel berikut ini.

Kesimpulan

Hendaklah kita membeli rumah sesuai prioritas, kebutuhan, dan urgensi masing-masing. Kenali kapasitas diri sendiri dan ketangguhan finansial masing-masing sebelum memutuskan untuk mengambil keputusan keuangan yang sifatnya jangka panjang. Bandingkan setiap unit rumah yang ditwarkan dan pelajari segala hal yang berkaitan dengan rumah tersebut, seperti:

  • Aksesibilitas dan transportasi umum
  • Keamanan
  • Kenyamanan
  • Suasan lingkungan sekitar dan tetangga
  • Fasilitas umum
  • Fasilitas sosial
  • dan banyak faktor lainnya.

Semoga tulisannya bermanfaat dan kita belajar hal baru lagi hari ini. Bila ada pertanyaan, komentar, sanggahan, boleh banget dibagikan di kolom komentar bagian paling bawah dari halaman ini dan saya akan merespon sesegera mungkin. Pembaca bisa mendapatkan bantuan terkait produk asuransi dengan mengunjungi tautan berikut ini.

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This