Tips mengelola uang saat isu Corona berlangsung di Indonesia

Tips mengelola uang saat isu Corona berlangsung di Indonesia





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 1 Apr, 2020

Kategori: utang

Indonesia saat ini sedang terjangkit virus Corona. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja virus Corona tersebut mampu menghasilkan sedikit “kejutan” bagi warga negara Indonesia. Kalau tidak salah, pasien 01 Corona di Indonesia secara resmi diumumkan oleh presiden Joko Widodo pada tanggal 2 maret 2020.

Setelah 1 bulan lamanya, Corona menelan cukup banyak korban, seperti:

  • Korban jiwa dari sisi tenaga medis, relawan, maupun pasien. Some people made it and survive, while the others is not.
  • Pegawai yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), layoff, dirumahkan, working from home, pemotongan upah dan penghasilan, hingga pegawai yang kontraknya tidak diperpanjang.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang semakin anjlok dan investor saham merugi.
  • Panic buying terjadi di kalangan masyarakat yang menyebabkan harga hand sanitizer dan masker membumbung tinggi.
  • Supply alat kesehatan yang terbatas.
  • Pemberhentian operasional transportasi publik seperti Transjakarta hingga Kereta Api sehingga cukup mempersulit mobilitas konsumen dan pegawai yang masih harus pergi ke suatu tempat untuk mencari nafkah.
  • Permintaan masyarakat agar pemerintah menerapkan lockdown seperti yang dilakukan oleh negara-negara lainnya.
  • Pemberhentian sekolah dan kegiatan belajar-mengajar.
  • Paranoid berlebihan yang terjadi di kalangan masyarakat ketika mereka melihat orang lain sedang batuk atau bersin.
  • Pemeriksaan suhu tubuh melalui alat pengukur suhu di setiap gedung perkantoran.
  • Media yang terus menerus memberitakan tentang Corona tanpa henti.
  • Anjuran untuk tidak melakukan tradisi mudik menjelang lebaran.

Hanya dalam waktu 1 bulan, Corona berhasil memberikan dampak seperti di atas.

Terkait adanya kehadiran dan eksistensi isu corona di Indonesia, Saya yakin kita semua memiliki pertanyaan yang sama, yakni:

Kapan isu Corona ini akan berakhir?

Well, nobody knows for sure. Satu-satunya hal yang pasti dalam dunia ini ialah ketidakpastian. Oleh karena itu saya senantiasa beradaptasi pada setiap perubahan dan guncangan dalam kehidupan seperti isu Corona yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini.

Untuk itu, saya mencoba membagikan pengetahuan dan pengalaman saya dalam mengelola uang karena saya percaya pengetahuan akan semakin bertambah bila kita membagikannya pada orang lain.

Berikut beberapa tips mengelola uang saat isu Corona berlangsung di Indonesia:

Inilah saat yang tepat untuk mencairkan Emergency fund

Sesuai namanya, Emergency Fund berarti Dana Darurat. Umumnya Dana Darurat disimpan dalam instrumen atau rekening dengan likuiditas yang sangat tinggi. Likuiditas tinggi berarti mudah dicairkan. Bila pembaca telah menabung dan menimbun uang dana darurat dalam instrumen atau rekening dengan likuiditas rendah, saya sarankan untuk memindahkannya ke instrumen atau rekening dengan likuiditas yang lebih tinggi. Mengapa? Karena kita tidak tahu kapan kita membutuhkan dana tersebut.

Saya mau memberikan ucapan selamat kepada mereka yang telah memiliki cukup waktu dan dana untuk menyiapkan dana darurat. Dengan kondisi tabungan seperti sekarang, saya yakin kalian mampu bertahan hidup paling tidak untuk beberapa minggu atau bulan ke depan. Namun saya yakin memiliki dana darurat saja tidaklah cukup, sebab kita tidak tahu kapan isu corona di Indonesia ini akan berakhir.

Lalu, bagaimana nasib mereka yang mengandalkan nafkah besok berdasarkan hari ini? Apa kabarnya mereka yang memiliki penghasilan minim sehingga tidak memiliki kesempatan untuk menyiapkan dana darurat? Apa masih mau dipaksa ikutan Lockdown juga?

Salah satu cara yang mungkin dilakukan untuk mendapatkan uang tunai dalam jumlah besar dan waktu yang singkat ialah melalui utang. Kita bisa mengajukan pinjaman atau utang melalui berbagai pihak, seperti:

  • Perbankan melalui Kredit Tanpa Agunan (KTA)
  • Koperasi
  • Relasi pribadi (keluarga, tetangga, sanak saudara, teman, adik, kakak, dll)
  • Perusahaan (melalui fasilitas soft loan)
  • Pinjaman online (Pinjol) dan layanan fintech lainnya.

Namun, pelajari tips dalam mengajukan pinjaman berikut ini agar kita tidak tetangkap dalam jerat utang yang berkepanjangan:



Kita perlu ingat bahwa tujuan kita ialah mendapatkan dana darurat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bila kita tidak memiliki dana darurat, maka opsi lain yang dapat ditempuh ialah dengan melakukan pinjaman atau utang. Kita perlu berhati-hati dalam memutuskan untuk berutang, sebab bila salah langkah, bisa jadi pembayaran utang tersebut tak kunjung usai dan kita membayar tagihan yang lebih besar dari seharusnya.

Mau?

Tentu tidak, bukan?

Jika saya harus berutang, saya akan mengandalkan relasi pribadi saya terlebih dahulu untuk mendapatkan pinjaman tersebut dengan pertimbangan berikut ini:

Tidak dikenakan BI Checking

Semakin bagus relasi kita dengan seseorang, semakin besar pula peluang kita untuk mendapatkan uang. Hal ini sangat menguntungkan mereka yang pernah mengalami masalah kredit dan tak lolos BI Checking.

Tidak dikenakan bunga

Salah satu kelebihan ketika kita mengajukan pinjaman dengan mengandalkan relasi pribadi ialah pinjaman yang kita lakukan tidak dikenakan bunga. Keuntungan ini sangat jarang sekali kita temukan bila kita mengajukan pinjaman melalui pihak perbankan, koperasi, maupun layanan Pinjaman Online (Pinjol)



Nilai angsuran atau cicilan yang fleksibel

Bila kita mengajukan pinjaman dengan mengandalkan relasi pribadi, besar kemungkinan kita akan mendapatkan nilai angsuran atau cicilan yang fleksibel. Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang terlebih lagi saat isu corona berlangsung di Indonesia. Tentu saja relasi pribadi sekaligus Kreditur akan merasa sungkan atau tidak enak bila mereka memaksakan angsuran atau cicilan di nominal tertentu saat kondisi kita sedang lemah.

Tenor pembayaran yang fleksibel

Kemudahan tenor pembayaran yang fleksibel ini mungkin tidak kita dapatkan ketika kita mengajukan pinjaman ke pihak selain dari relasi pribadi. Bila kita melakukan pinjaman dengan pihak bank misalnya, umumnya nilai angsuran setiap bulannya telah ditentukan. Apapun kondisi finansial kita di masa mendatang, kita wajib membayar sesuai nilai angsuran yang telah ditetapkan (fixed). Lagi-lagi kita mengandalkan nilai kemanusiaan dari Kreditur untuk memberi kita keringanan dalam menyesuaikan tenor pembayaran di masa mendatang.

Gimana, gimana? lebih enak minjem duit ke famili, kolega, teman, dan sanak saudara, bukan?

Bila dana yang telah dipinjam masih belum cukup untuk bertahan hidup, kita dapat menambah dana tersebut dengan mengajukan pinjaman dari pihak lain seperti perbankan, koperasi, hingga layanan pinjaman online. Tentu saja saya akan menjadikan pinjaman online opsi terakhir karena bunga yang dikenakan lebih besar dari bunga pinjaman pada umumnya sekalipun prosesnya begitu mudah dan praktis.

Tips diatas tidak akan mampu menjawab pertanyaan berapa jumlah uang yang kita butuhkan untuk bertahan hidup hingga isu Corona berakhir di Indonesia. Sangat mungkin bagi kita untuk melakukan pinjaman berkali-kali di masa mendatang karena kita tidak tahu pasti kapan isu Corona akan berakhir dan berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Bagaimana bila terjadi hyperinflasi di masa mendatang?

Wew. jangan sampai deh.



Mulailah mengandalkan diri sendiri dan berhenti menunggu bantuan dari pemerintah

Setelah mengikuti langkah di atas, paling tidak kita telah memiliki fresh money terlepas cukup atau tidak. Kini permasalahan lainnya pun timbul. Apa yang harus kita lakukan dengan uang hasil pinjaman tersebut? Tentu saja uang tersebut tidak bisa kita gunakan dengan sembarangan, karena uang tersebut didapat untuk memenuhi kebutuhan Dana Darurat.

Perlu diingat pula bahwa uang yang kita dapatkan hasil meminjam tersebut merupakan nominal uang yang wajib kita kembalikan di masa mendatang. Singkatnya, kita menggunakan uang di masa depan untuk bertahan hidup di masa kini.

Saya memiliki prinsip dimana kebahagiaan bersumber dari diri saya sendiri. Saya takkan berbahagia bila saya menggantungkan kebahagiaan saya pada hal eksternal seperti:

  • Orang tua
  • Kakak
  • Adek
  • Pacar
  • Suami/Istri
  • Pemerintah(?)

So far saya melihat pemerintah Indonesia seakan kebingungan dan don’t know what to do untuk menghadapi pandemi di tahun 2020 ini. Banyak wacana yang simpang siur dan ingin diterapkan, namun berujung pada pembatalan dan tak kunjung dieksekusi. Inilah momen dimana saya tersadar bahwa saya harus mengandalkan sumber daya dan kemampuan saya untuk bertahan hidup.

Sebelum memutuskan untuk membelanjakan uang hasil pinjaman tersebut, saya ingin kita berkaca pada diri sendiri dan memilah mana yang menjadi prioritas utama. Mana yang menjadi keinginan, dan mana yang menjadi kebutuhan. Mana yang wajib dimiliki hari ini dan mana yang bisa ditunda hingga beberapa waktu ke depan.

Setelah menentukan prioritas, waktunya membelanjakan uang tersebut sesuai kebutuhan hidup. Meski mengajukan pinjaman melalui Relasi Pribadi tidak dikenakan bunga, sangat dianjurkan untuk menggunakan uang hasil pinjaman tersebut demi memenuhi kebutuhan hidup, bukan untuk berinvestasi apalagi berjudi karena Kreditur memiliki pertimbangannya sendiri sehingga mereka memutuskan untuk memberi pinjaman pada kita.

Mereka memberikan pinjaman kepada kita karena ingin membantu kita melewati kesusahan.

Setelah melalui tahap ini, saya membayangkan seluruh kebutuhan pokok as known as sembilan bahan pokok (sembako) telah tersedia untuk kita konsumsi. Selanjutnya kita pergi ke luar untuk mengurus beberapa hal yang perlu disesuaikan.



Lakukan restrukturisasi bila ada angsuran atau cicilan yang sedang berlangsung

Salah satu hal yang perlu kita sesuaikan ialah cicilan atau angsuran seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), Kredit Pemilikan Apartemen, dan kredit-kredit lainnya. Saya yakin dan percaya diantara kita tidak ada yang menginginkan Corona masuk ke Indonesia dan membawa dampak negatif yang begitu signifikan dalam waktu singkat. Corona is a pandemic. Tak ada yang menginginkannya, namun semua sektor kena dampaknya.

Untuk itu saya sarankan pembaca yang memiliki KPR/KPA untuk melakukan restrukturisasi pada angsuran atau cicilan yang ada. Kalau saya tidak salah, beberapa waktu lalu presiden Joko Widodo pernah memiliki wacana untuk menunda/menghentikan sementara atas cicilan atau angsuran yang sedang berlangsung bagi Debitur yang berprofesi sebagai ojek online (Ojol).

Bagi rekan-rekan pembaca yang berprofesi sebagai Ojek Online, saya sarankan untuk melakukan followup atas berita tersebut dan mengatur kembali cicilan atau angsuran yang sedang berjalan.

Berhemat dan menurunkan gaya hidup

Langkah terakhir yang dapat ditempuh ialah dengan berhemat dan menurunkan gaya hidup. Saya yakin dan percaya (lagi) bahwa proses yang satu ini tidak mudah dan cukup sulit bagi mereka yang belum terbiasa. However, kita sependapat bahwa sustainability dan long term surival adalah hal yang prioritas disaat kita dan orang lain tidak bisa menentukan atau memprediksi kapan isu corona yang berlangsung di Indonesia ini akan berakhir.

Dengan berhemat dan menurunkan gaya hidup, diharapkan uang yang kita peroleh dari hasil ngutang tadi menjadi awet sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup kita di masa mendatang. Pada waktu yang sama ada baiknya kita memutus atau menunda pengeluaran yang tidak perlu. Bayangkan uang yang kita miliki bak 1 ember bensin yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dengan jarak tempuh yang belum diketahui sebelumnya dan berapa lama kita akan tiba ke tempat tujuan.

Dengan berhemat dan menurunkan gaya hidup, kita meminimalisir resiko di bawah ini:

  • Kendaraan kehabisan bensin sebelum tiba di tempat tujuan
  • Kita mati kelaparan meski telah tiba di tempat tujuan


Nah demikian beberapa tips mengelola uang saat isu corona berlangsung di Indonesia. Tips keuangan ini dapat diterapkan pula pada kondisi darurat lainnya. Bagi rekan pembaca yang elum memiliki dana darurat, sangat disarankan untuk memulainya sesegera mungkin. Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang dan kapan hal itu terjadi. Selagi ada waktu dan tenaga juga uang yang cukup, sangat disarankan untuk memulainya as soon as possible.

Peranan asuransi pun tak kalah penting dalam membantu kita melalui masa-masa sulit seperti sekarang. Dengan adanya asuransi kesehatan sesuai tagihan seperti Maestro Optima Care, paling tidak kita memiliki rekanan yang dapat membantu kita dalam menyelesaikan pembiayaan terkait tagihan rumah sakit yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Sampai jumpa di artikel hebat lainnya.

Have a great day and please stay safe!!!!!!

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This