Cara mengelola dan menggunakan limit Kartu Kredit secara bijak

Cara mengelola dan menggunakan limit Kartu Kredit secara bijak





Ditulis oleh <a href="https://asuransimurni.com/author/nencor/" target="_self">Chernenko</a>

Ditulis oleh Chernenko

Position

Halo, selamat datang di website saya. Saya Chernenko dan saat ini bekerja sebagai agen asuransi dari AXA Financial Indonesia. Jangan sungkan untuk menghubungi saya bila pembaca membutuhkan sesuatu atau sekadar konsultasi terkait Polis yang dimiliki.

Dirilis tanggal: 27 Sep, 2020

Kategori: kartu kredit

Saya pribadi tidak mengerti mengapa masih ada orang yang anti dengan Kartu Kredit. Padahal Kartu Kredit terbukti memberikan manfaat yang luar biasa bagi saya dan mereka yang tahu bagaimana cara menggunakannya. Salah satu manfaatnya adalah ketika barang yang saya inginkan sedang diskon atau flash sale dan saya tidak memiliki uang tunai, saya selalu dapat mengandalkan Kartu Kredit untuk membantu checkout dan mendapatkan barang yang diinginkan secara mudah dan praktis.

Mungkin orang-orang tidak tahu bagaimana aturan dan cara memainkan Kartu Kredit dengan benar. Saya ingat salah seorang teman saya yang memiliki jumlah Kartu Kredit lebih dari 5. Usut punya usut, ternyata beliau mengalami kesulitan dalam melunasi tagihan Kartu Kredit, terjebak dalam lingkaran setan dan tagihan yang tak kunjung berakhir. Bila hal ini yang terjadi pada kita dan pembaca semua, saya bisa jamin kalau menambah Kartu Kredit tidak akan menjadi solusi atas permasalahan tersebut.

“menambah penghasilan atau jumlah Kartu Kredit bukanlah solusi dari kesalahan kita dalam mengatur dan mengelola keuangan”

lupa sumbernya darimana. yang pasti pernah baca kutipan tersebut.

Artikel ini akan lebih banyak membahas tentang Kartu Kredit dan menceritakan tentang ide gila saya terhadap Kartu Kredit. Bila pembaca memiliki masalah atau tagihan Kartu Kredit yang tak kunjung usai, semoga dengan membaca artikel ini dapat menjadi inspirasi dalam melunasi seluruh tagihan tersebut. Selengkapnya setelah pesan komersial berikut ini.



Pandangan saya tentang Kartu Kredit

Sebelum membaca lebih jauh, ada baiknya kita mengenal pandangan masing-masing tentang Kartu Kredit. Poin-poin di bawah ini merupakan pandangan saya tentang Kartu Kredit setelah 3 tahun dengan limit yang cenderung meningkat seiring berjalannya waktu. Pembaca tidak diwajibkan untuk setuju dengan beberapa pandangan saya tentang Kartu Kredit berikut ini:

Kartu Kredit adalah privilege

Menurut saya, Kartu Kredit adalah Privileges istimewa yang diberikan atau dipercayakan oleh Bank kepada setiap individu yang dianggap mampu untuk memilikinya. Saya kenal satu orang yang berusaha mati-matian demi memiliki Kartu Kredit, namun pengajuannya tak kunjung disetujui. Saya yang justru iseng-iseng dan berniat membantu sales Kartu Kredit mencapai target penjualan, malah beneran mendapat Kartu Kredit yang limitnya sesuai dengan penghasilan saya pada waktu itu.

terkadang hidup ini memang penuh dengan kejutan.

Apakah saya orang yang memiliki privilege tersebut?

Maybe yes, maybe no.

Sekadar informasi, diantara keluarga saya hanya saya yang memiliki Kartu Kredit. Orang tua saya pernah ditawari Kartu Kredit dan somehow mereka merasa parno memilikinya dan memutuskan untuk menutup Kartu Kredit. Semakin saya membaca dan belajar tentang literasi keuangan, Kartu Kredit merupakan senjata ampuh untuk menambah kekayaan di masa mendatang ketika kita tahu bagaimana cara mengelola dan menggunakannya. So keep on scrolling!

Kartu Kredit adalah legacy

ide-ide liar terus berkecamuk di pikiran saya. Salah satu ide yang terbesit di benak adalah:

bisa gak kita beli rumah pake Kartu Kredit?”

hayoo, menurut kalian bisa gak kita beli rumah pake Kartu Kredit?

Pada poin ini kita membahas tentang Kartu Kredit merupakan sebuah Legacy. Pada poin sebelumnya saya bercerita tentang limit Kartu Kredit saya yang berada di angka Rp. 5,000,000. Saya yakin salah satu pertimbangan bagi Bank untuk mengenakan limit tersebut ialah berapa banyak penghasilan saya per bulannya. Atau lebih tepatnya, berapa banyak uang yang bisa saya habiskansetiap bulannya.

Pada waktu itu saya berpikir mengapa saya mendapatkan Kartu Kredit dengan limit yang tak seberapa. Setelah melampaui serangkaian perjalanan menembus ruang, waktu, dan proses, akhirnya saya mengerti mengapa limit saya pada waktu itu begitu rendah. Di dalam kehidupan saya telah melihat banyak orang yang tejebak dan bekerja hanya untuk membayar tagihan Kartu Kredit yang tak kunjung usai.



Saya juga berpikir apakah mungkin seseorang dengan penghasilan Rp. 5,000,000 memiliki Kartu Kredit dengan limit Rp. 50,000,000?

Jawabannya maybe yes maybe no. Namun tentu saja Bank memiliki pertimbangannya sendiri dalam menetapkan berapa limit Kartu Kredit yang pas untuk diberikan kepada nasabahnya. Saya berbicara tentang risiko. Bila Bank memberikan limit Kartu Kredit dengan nominal yang fantastis pada nasabah berpenghasilan rendah, bukankah Bank tersebut sedang bermain dengan risiko? Ada risiko default atau gagal bayar disana?

Kadang manusia begitu tamak dan rakus. Ketika mereka mendapat Privilege memiliki Kartu Kredit dengan limit yang sepadan dengan penghasilan mereka, mereka menginginkan lebih. Lebih banyak dari nominal yang dapat mereka tanggung. Dibandingkan dengan meningkatkan literasi finansial dan keuangan serta menyelesaikan tagihan Kartu Kredit, mereka jsutru memutuskan untuk mengambil langkah berisiko, yakni menambah jumlah Kartu Kredit.

Padahal, Kartu Kredit memiliki annual fee yang tidak sedikit. . .

Bila nasabah mengalami default, bagaimana Bank mendapatkan keuntungan?

Pertanyaan selanjutnya, bila kita tidak mampu memberikan keuntungan pada Bank sebagaimana Bank mendapatkan keuntungan dari kita sebagai nasabah dalam membayar Bunga, mengapa Bank harus bekerja sama dengan kita?

Pertanyaan diatas akan dilanjutkan dengan poin terakhir setelah pesan komersial berikut ini.



Kartu Kredit adalah proof

Pandangan saya terhadap Kartu Kredit yang terakhir adalah Kartu Kredit merupakan proof.

Bukti.

Sebuah bukti dimana Bank percaya bahwa kita dapat melunasi seluruh tagihan Kartu Kredit tersebut. Teman saya berasal dari bermacam-macam latar belakang dimana salah seorang dari teman tersebut memiliki finansial yang cukup tangguh (menurut saya), namun ia sama sekali tak memiliki Kartu Kredit.

Saya pernah berbagi cerita dengan beliau terkait kendala dalam memiliki Kartu Kredit tersebut. Somehow ia kesulitan untuk mendapatkan Kartu Kredit walaupunia memiliki barang berharga yang tidak sedikit. Hal ini mengganggu pikiran saya.

Clearly he is such a rich people.

Tapi mengapa Bank tak kunjung menyetujui pengajuan Kartu Kredit yang beliau ajukan?

Cerita diatas menjadi penegasan bahwa Kartu Kredit merupakan proof bahwa Bank mengetahui asal usul uang yang kita terima dan kemana kita menghabiskan uang tersebut. Dengan adanya peningkatan penghasilan, Bank dapat menghitung berapa banyak saldo mengendap, dan saldo yang kita habiskan setiap bulannya. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan pertimbangan-pertimbangan lain yang tidak saya ketahui, akhirnya Bank dapat memutuskan apakah saya layak untuk menerima Kartu Kredit atau tidak.

Bank Indonesia (BI) checking & Credit Scoring in a glance

BI Checking:

Mungkin diantara kita ada yang tidak memahami bagaimana proses BI Checking dan Credit Scoring berlangsung. BI Checking merupakan proses yang dilakukan oleh Kreditur ketika kita hendak mengajukan pinjaman atau Kredit seperti:

  • Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
  • Kredit Pemilikan Apartemen (KPA)
  • Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)
  • Kredit Tanpa Agunan (KTA)

dalam jumlah besar maupun kecil. Pada proses tersebut Kreditur akan mengetahui apakah kita sedang memiliki tagihan, angsuran, tindakan, cicilan, dan pinjaman sejenis lainnya.

Selanjutnya Kreditur dapat menghitung berapa jumlah pemasukan yang kita terima setiap bulannya. Akhirnya, Kreditur dapat memutuskan dan memperkirakan apakah menyetujui Kredit yang diajukan.

Setelah membahas tentang BI Checking, selanjutnya kita akan membahas tentang Credit Scoring setelah pesan komersial berikut ini.



Credit Scoring:

Serupa namun tak sama. Peribahasa itulah yang menggambarkan perbedaan BI Checking dan Credit Scoring. Setelah melampaui serangkaian proses BI Checking, setiap individu maupun debitur yang mengajukan Kredit akan mendapatkan Credit Scoringnya masing-masing. Setiap individu memiliki Credit Scoring yang berbeda antara 1 individu dengan individu lainnya sesuai kriteria di bawah ini:

  • Kredit lancar: Debitur selalu membayar tagihan dan angsuran beserta bunganya secara tepat waktu.
  • Kredit Dalam Perhatian Khusus (DPK): Debitur tercatat pernah menunggak dalam membayar tagihan dan angsuran dalam waktu 1 hingga 90 hari.
  • Kredit tidak lancar: Debitur tercatat pernah menunggak dalam membayar tagihan dan angsuran dalam waktu 91 hingga 120 hari.
  • Kredit diragukan: Debitur tercatat pernah menunggak dalam membayar tagihan dan angsuran dalam waktu 121 hingga 180 hari.
  • Kredit macet: Debitur tercatat pernah menunggak dalam membayar tagihan dan angsuran lebih dari 10 hari.

Ini berarti kita wajib membeli, bertransaksi apapun secara tunai. Bila kita hendak membeli rumah, maka kita wajib menyiapkan uang tunai terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli rumah.

ucapkan selamat tinggal pada Kredit dan pinjaman apapun bila kita memiliki Credit Scoring yang terlampau tinggi.

jangan-jangan, kita wajib bekerja puluhan tahun hanya untuk membeli rumah sementara harga rumah cenderung meningkat setiap tahunnya.

Inti dari semuanya adalah Credit Scoring yang bagus. That’s why saya ingin membagikan golden rules dalam mengelola dan menggunakan Kartu Kredit setelah pesan komersial berikut ini.



Cara mengelola dan menggunakan Kartu Kredit

Sampai saat ini saya hanya memiliki 1 buah Kartu Kredit dengan limit yang jauh lebih besar dari penghasilan saya setiap bulannya. Namun apakah ini berarti limit saya akan dikurangi?

Semoga saja tidak dengan menerapkan protokol kesehatan versi Kartu Kredit seperti di bawah ini:

Hati-hati dengan Bunga

Saya rasa tidaklah sulit untuk menjelaskan seberapa kejamnya Bunga (interest). Bayangkan kita membayar sesuatu yang tidak kita terima. Bila kita sering menghamburkan uang untuk makan enak di restoran mahal, paling tidak kita telah mendapatkan rasa enak dan kenyang walau sesaat. Kini, kita wajib mengeluarkan uang untuk membayar sesuatu yang tidak kita terima dalam bentuk bunga.

Ikhlas ga bayarnya?

Beberapa kartu Kredit mengenakan bunga dengan persentase yang amat kecil. Nominalnya kira-kira di angka 1% hingga 3%. Sangat kecil sekali bukan?

Namun siapa sangka bahwa nominal tersebut justru menjadi bunga-berbunga (Compound Interest) bila kita tidak hati-hati dan segera menyelesaikan tagihan tersebut. Bila salah langkah, bisa jadi kita akan dipaksa membayar tagihan yang lebih besar dari seharusnya.

Lunasi secepatnya

Sebagai debitur yang baik kita ingin menjaga citra dan reputasi dalam bentuk Credit Scoring. Semakin baik nilai Credit Scoring yang kita miliki, semakin mudah pula Kredit yang kita ajukan akan disetujui. Untuk menjaga Credit Scoring dan kepercayaan bank pada kita sebagai Debitur, saangat disarankan untuk melunasi tagihan yang ada secepatnya. Semakin cepat semakin baik.

Ketika kita berbelanja menggunakan Kartu Kredit, kita dapat memilih tenor pembayaran yang diinginkan. Kita dapat memilih tenor dalam jangka waktu yang panjang sehingga nominal yang kita angsur semakin sedikit, atau malah memilih tenor dalam jangka waktu singkat meski nominal yang kita angsur semakin besar. Kedua opsi tersebut wajib dipertimbangkan secara matang sesuai kondisi finansial kita.

Kesalahan dari kebanyakan orang dalam membayar tagihan Kartu Kredit ialah mereka memilih tenor dalam jangka waktu yang panjang sehingga angsuran semakin sedikit. Padahal, semakin lama kita membayar atau melunasi tagihan, semakin besar pula bunga yang dibebankan kepada kita sebagai Debitur. Ini berarti kita akan membayar atau mengeluarkan uang lebih besar dari yang sewajarnya.

Dalam melunasi utang atau tagihan ada metrics yang wajib dipertimbangkan seperti Net Worth atau Debt to Income Ratio. Tentu saja penjelasan terkait 2 metrics ini sudah pernah saya bahas pada artikel-artikel sebelumnya. Pembaca yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut dapat mengunjungi/membaca artikel yang berada pada tautan berikut ini.

Semoga tulisannya bermanfaat dan kita belajar hal baru lagi hari ini. Bila ada pertanyaan, komentar, sanggahan, boleh banget dibagikan di kolom komentar bagian paling bawah dari halaman ini dan saya akan merespon sesegera mungkin. Pembaca bisa mendapatkan bantuan terkait produk asuransi dengan mengunjungi tautan berikut ini.

Artikel yang berkaitan











0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.











Pin It on Pinterest

Shares
Share This