Beneran. Ini pertanyaan yang muncul di benak saya belakangan ini setelah 10 tahun menekuni pekerjaan sebagai agen asuransi. Kuliah di jurusan komputer, ternyata justru profesi sebagai agen asuransi yang dapat diandalkan ketika tech winter, Covid19 hingga paska Covid19 di tahun 2026 dimana harga emiten BBCA anjlok ke harga 5 tahun silam.
Melalui tulisan ini saya mau sharing sebuah perjalanan hidup asal-muasal bagaimana saya menjadi agen asuransi seperti sekarang dan semoga bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang sedang menunggu panggilan interview dan tawaran pekerjaan.
Semoga menjadi berkat.
Gimana asal muasalnya?
Tepat 4 tahun setelah lulus kuliah, saya mendapat tawaran menjadi agen asuransi. Pada waktu itu, saya tidak paham dengan yang namanya produk perbankan / produk finansial, apalagi asuransi. Orang tua saya pernah bercerita kalau mereka ditawari produk asuransi oleh teman gereja dan mereka tolak mentah-mentah. Mereka juga anti dengan yang namanya Kartu Kredit. Boleh dikatakan saya generasi pertama dalam keluarga yang bekerja sebagai agen asuransi dan memiliki kartu kredit.
Gak. Saya gak mau jadi buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya
Pada waktu itu saya menjadi agen asuransi yang skeptis dengan asuransi. Kenapa ada orang / perusahaan yang mau bayarin sejumlah uang dengan nilai fantastis padahal orang tersebut hanya membayar dengan nominal yang sedikit. Chernenko yang pada waktu itu belum paham sepenuhnya soal asuransi dan bagaimana uang bekerja, terus mengikuti pelatihan yang diajarkan oleh perusahaan sekaligus membaca beberapa buku-buku Personal Finance dan Wealth Building.
Singkat cerita, kebingungan saya terjawab. Make sense. Orang mengeluarkan uang dalam jumlah kecil boleh mendapatkan santunan / manfaat dengan nilai berlipat kali ganda dari uang yang dikeluarkan. Saya sudah sedikit memahami bagaimana asuransi bekerja, bagaimana aset / capital itu dilipatgandakan, bagaimana risiko itu dihitung dan ditakar sehingga perusahaan asuransi menerbitkan Polis berisikan perjanjian/klausul yang mengatur tentang manfaat dan nominal serta prosedur / ketentuan klaim.
Tantangan sesungguhnya: berjualan!
Paham soal asuransi aja gak cukup. Agen asuransi mendapatkan remunerasi / pemasukan hanya ketika mereka melakukan penjualan / produksi. Pintar dan memahami produk saja tidak cukup untuk membuat saya mendapat pemasukan. Saya harus pergi ke lapangan, bertemu orang, Presentasi, mendapat penolakan, dan lain sebagainya. Sebuah proses yang belum pernah saya alami sepanjang hidup saya. Pada waktu itu saya memutuskan untuk lari dari masalah dan berpikir:
Yaudahlah. Masih ada pekerjaan tetap ini kok. Masih terima gaji tiap bulan kok
Akibatnya, selama 1 tahun pertama menjadi agen asuransi, saya tidak mendapatkan nasabah sama sekali. Saya mencoba memasarkan asuransi pada teman-teman, saudara, kolega, semuanya 0 besar. Tidak ada penjualan! Ada yang beralasan kalau mereka belum butuh asuransi, asuransi itu riba, haram, tipu-tipu, MLM, dan lain sebagainya.
Mendengar ucapan dan stigma seperti itu, hati saya hancur. Saya yang bekerja sebagai agen asuransi, ternyata masuk ke lapangan yang dicap negatif oleh sebagian orang. Belum lagi diremehkan dari sisi pemasukan yang tidak menerima gaji pokok setiap bulannya.
Ditengah kondisi yang putus asa dan patah semangat, saya memiliki ide gila bahkan lebih gila dari Nuh yang membuat bahtera diatas gunung. Daripada saya mengajak meeting prospek 1 per 1 dan menghabiskan banyak waktu, tenaga, resource, dan uang, mengapa saya tidak membuat sesuatu yang membuat orang-orang menemukan saya dengan mudah?
Awal mula Asuransimurni.com
Saya memutuskan untuk membuat blog sederhana dan menuliskan pelajaran finansial apa yang saya temukan setiap harinya disana. Saya juga tambahkan informasi terkait produk asuransi, bagaimana produk tersebut mengelola risiko yang mungkin dihadapi oleh klien serta bagaimana produk asuransi yang ditawarkan menguntungkan bagi Klien. 6 bulan pertama sejak blog tersebut rilis, masih juga tidak menghasilkan penjualan sama sekali.
Sampai akhirnya tahun 2019, saya mendapatkan nasabah pertama saya yang menemukan nomor Whatsapp saya dari sebuah blog. Akhirnya kami sepakat bertemu di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat dan melakukan penjualan asuransi perdana di sepanjang hidup saya.
Saya berhasil menjual produk yang tidak bisa dipamerkan ke media sosial dengan harga Rp. 6,532,900!
Lambat laun, bisnis agen asuransi saya mulai berkembang. Satu per satu klien berdatangan silih berganti dan mereka menemukan saya dari Internet. Saya juga memanfaatkan Digital Marketing seperti Google Ads / Facebook Ads untuk menjangkau lebih banyak prospek dan menghasilkan penjualan. Proses inilah yang masih saya lakukan hingga sekarang dan saya ajarkan kepada tim saya.
Mengapa harus (malu) jadi agen asuransi?
Akhirnya saya mendapat jawabannya sekarang. Saya tidak menipu orang. Saya tidak merugikan orang lain. Saya menjual produk apa adanya dan sampai saat ini belum ada nasabah yang kecewa dengan apa yang saya tawarkan. Saya tidak membawa kabur uang nasabah 28M. Saya tidak korupsi Bansos hingga pengadaan kitab suci. Lalu kenapa harus malu?
Hanya tukang yang pekerjaannya malu-maluin~
Hari ini saya sepakat untuk mengutamakan integritas, kejujuran, nama baik dan reputasi, sebab lambat laun uang akan mengikutinya. Seperti pohon Oak yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Ia diremehkan pada 2 – 3 tahun pertama. Setelah 20 tahun, ia menjadi pohon besar yang berdiri tegah dan sulit untuk ditumbangkan!