Tidak sedikit orang yang bertanya kepada saya tentang keputusan nekat yang saya ambil ini, yakni menjadi agen asuransi secara penuh waktu (full time). Beberapa pertanyaan tersebut berbunyi demikian:

  • bang, lu kan udah ada cicilan. Kok berani menjadi fulltime asuransi?
  • kantor lu sekarang udah punya benefit segambreng. Kok masih aja lu tinggalin?
  • udah bagus bisa kerja di perusahaan dengan penghasilan tetap setiap bulan. Kok lu malah memilih pekerjaan yang penghasilannya tidak pasti?
  • pasar Indonesia masih belum mature untuk menerima keberadaan asuransi. Gimana kalo gue rekomendasiin elu ke salah satu perusahaan yang lagi nyari orang dengan skillset kayak lu?
  • dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Bagi pembaca yang belum tahu dan belum mengenal saya secara pribadi, saya merupakan seseorang yang memiliki latar belakang di bidang Teknologi Informasi. Karir pertama saya bekerja sebagai IT Consultant di salah satu perusahaan ERP (Enterprise Resource Planning) di Jakarta. Selang 2 tahun, saya pindah ke salah satu anak perusahaan yang bergerak di bidang importir Smartphone di Jakarta.

Tak lama setelahnya, saya bergabung di salah satu startup di bidang Advertising Technology yang pernah mendapat pendanaan dari East Venture. Setelah meluangkan cukup waktu untuk belajar tentang Internet Marketing dan Digital Marketing, akhirnya saya bergabung ke salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang Online Travel Agency (OTA) di Jakarta.

Dalam kurun waktu 7 tahun bekerja, pekerjaan yang saya geluti tidak lepas dari Teknologi Informasi. Namun, inilah pertama kalinya dalam sejarah kehidupan saya untuk menggeluti pekerjaan agen asuransi secara penuh waktu.


Sorry iklan bentar ya guys, demi kelangsungan hidup website sayah 🙁


Semua berawal dari mimpi. . .

Berkarir di bidang teknologi informasi membuat saya berpikir bahwa teknologi informasi merupakan produk yang sangat canggih dan mahal. Ia mampu mendukung segala keperluan bisnis mulai dari operasional hingga pengambilan keputusan berdasarkan data. Kemajuan teknologi dan big data membuat industri teknologi informasi akan semakin berkembang pesat dan membutuhkan sumber daya manusia yang capable di bidangnya.

Lalu, mengapa saya malah “mundur” dari persaingan dan memutuskan untuk bekerja penuh waktu sebagai agen asuransi?

Sebenarnya, bukan agen asuransi yang ingin saya kejar. Saya punya mimpi yang lebih besar, dimana setiap individu mampu mengatur pengeluaran, pemasukan, dan mencukupi kebutuhan hidup mereka masing-masing. Siapapun, seperti:

  • Petani
  • Nelayan
  • Ojek Online
  • Tukang becak
  • dan kaum marjinal lainnya.

Sederhana saja. Saya akan merasa bangga bila salah seorang teman atau kenalan atau malah klien saya mampu mengukur dan mempertimbangkan seberapa kokoh finansial mereka, berapa besar jumlah angsuran maksimal yang dapat mereka ambil, berapa tahun maksimal tenor angsuran yang dapat mereka kendalikan. Berapa banyak jumlah utang yang sanggup mereka pikul, dan banyak lagi takaran keuangan lainnya.

Sungguh. Tidak sulit koq untuk mengatur dan merencanakan keuangan bila kita memiliki uang yang tidak terbatas atau memiliki privileges tertentu. Namun teori ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki kepastian dalam mendapatkan penghasilan. Saya percaya bahwa literasi keuangan merupakan senjata ampuh untuk mengatur dan mengelola keuangan disaat penghasilan tak menentu dan terbatas.

In short, bila kita memiliki penghasilan yang terbatas, sudah seharusnya kita mengatur dan mengelola setiap uang receh yang kita dapatkan dengan bijaksana dan hati-hati.

Ya kan?


Sedang mencari sesuatu? mungkin sponsor di bawah ini dapat membantu.



yuk lanjutin lagi bacanya 🙂


Di lain sisi, agen asuransi merupakan profesi yang menurut saya cukup unik. Disaat orang lain kesulitan mencari pekerjaan, profesi yang satu ini justru lebih terbuka dan selalu terbuka kepada job seeker karena beberapa hal berikut ini:

  • Tidak ada syarat minimal pendidikan
  • Tidak ada syarat minimal atau maksimal usia
  • Tidak ada syarat berpenampilan menarik
  • Tidak ada syarat memiliki nilai IPK tertentu
  • Tidak ada syarat berasal dari background atau memiliki gelar tertentu
  • Tidak ada syarat memiliki pengalaman kerja apapun
  • Tdak ada syarat memiliki suku, agama, ras, adat istiadat dan gender tertentu
  • Tidak ada batasan penghasilan yang didapatkan

Namun, tak banyak orang yang mau menggeluti profesi di bidang yang satu ini.

aneh, bukan?

Hari pertama menjadi agen asuransi penuh waktu

Okay, here i am. Kini saya berada di posisi dan kondisi yang saya idam-idamkan sebelumnya ketika saya bekerja secara penuh waktu di perusahaan. Tidak ada absen, tidak ada bos yang mengawasi, tidak ada daily standup every morning, tidak ada lunchbox, tidak terikat waktu, tidak ada THR, tunjangan, bonus, insentif, gaji tetap, asuransi kantor, dan benefit lain layaknya tunjangan dan remunerasi yang ditawarkan oleh Perusahaan.

All by myself!

Mengutip kalimat yang saya baca dalam buku Rich Dad Poor Dad oleh Robert Kiyosaki, tugas kita adalah memperkaya diri sendiri.

Ditengah kebebasan tersebut, saya pun sadar bahwa i am my own boss. I am still an employee anyway.Hanya saja, penghasilan yang saya dapat ditentukan oleh seberapa banyak nominal Rupiah yang saya hasilkan. Artinya saya tidak perlu bekerja seharian penuh selama sebulan untuk mendapatkan penghasilan ratusan juta per bulan. Saya hanya perlu melakukan penjualan asuransi dengan premi hingga Milyaran Rupiah untuk mendapatkan penghasilan tersebut.

Apa yang saya makan esok hari ditentukan oleh hari ini. Apa yang saya makan di bulan depan ditentukan oleh bulan ini. Saya dipaksa untuk perform. Otherwise, something bad is going to happen dan saya tak ingin hal itu terjadi.

Saya sadar bahwa sejak hari ini, saya takkan mendapat penghasilan apapun selain dari berjualan asuransi. Dengan adanya angsuran dan cicilan tetap, maka saya memiliki target yang harus dicapai.

Bila target tersebut tidak terpenuhi, maka angsuran dan keterlambatan bayar menjadi taruhannya. Even bigger. Saya terancam memiliki credit scoring yang jelek dan berdampak sangat signifikan bagi kondisi keuangan saya di masa mendatang. Semua aset yang saya miliki berpotensi untuk ditarik kembali oleh bank. Semua kekayaan yang saya bangun dengan susah payah bisa ambruk dengan mudah. Saya bermain dalam permainan yang penuh resiko.

Yes. It’s risky, yet it’s challenging.

Namun, saya percaya inilah yang saya butuhkan. Sebuah portofolio. Sebuah legacy. Saya ingin menjadi seseorang yang expert di bidang keuangan. Jika saya ingin memberikan pendapat keuangan kepada orang lain, bukankah saya harus mengalokasikan lebih banyak waktu untuk mendapatkan uang dan mengelolanya sedemikian rupa hingga saya bisa bertahan hidup sekaligus membangun kekayaan?


sssttt, ga usah buru-buru bacanya. Gih minum dulu sebelum membaca lanjutannya 🙂



Saya sadar saya tidak bisa melakukan hal ini bila saya masih menjadi pegawai dan terikat ruang dan waktu. Saya tidak memiliki fleksibiltas dalam mengatur jadwal untuk bertemu prospek, dan yang paling penting ialah saya bukan tipe orang yang mampu bekerja secara multitasking. Saya juga sadar saya tidak bisa melakukan hal ini seorang diri. Saya membutuhkan partner. Partner dalam berbisnis dan menguatamakan keuntungan saya dan partner saya. Intinya adalah kolaborasi.

Beberapa orang malah berpendapat bahwa lebih enak menjadi pegawai, sebab bila mereka bekerja tidak maksimal, mereka tetap menerima upah atau gaji yang tertera sesuai kontrak. Namun, saya lebih memilih untuk bekerja secara rajin dan giat demi penghasilan yang lebih besar dari kontrak atau surat perjanjian. Itulah salah satu pertimbangan sehingga saya memutuskan untuk menjadi agen asuransi secara penuh waktu.

Saya ingat waktu itu saya bertemu dengan salah satu prospek saya di daerah Cilandak. Saya pergi, berangkat, meninggalkan rumah dan berdoa bahwa Tuhan akan memberikan saya sesuatu yang positif dan baru. Saya tinggalkan rumah dan beranjak pergi dalam nama Tuhan Yesus.


Artikelnya sudah hampir habis nih. Semangat! Tinggal sedikit lagi!



Di dalam perjalanan menuju lokasi, saya merasakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Di sepanjang perjalanan saya seakan menghirup udara baru dan memulai kehidupan yang baru dimana saya pergi meninggalkan Maja menuju Jakarta dengan penuh semangat. Saya memiliki otoritas penuh atas apa yang saya lakukan. Saya memiliki cukup waktu dan tidak terburu-buru untuk berbincang dengan nasabah. Saya juga memiiki otoritas untuk mengatur jumlah pendapatan saya sendiri.

Salah satu ayat alkitab yang terus terngiang di telinga dan pikiran saya adalah:

“Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”

2 Tesalonika 3:10

Hingga di titik saat ini, saya selalu berusaha mencari cara untuk mendapatkan leads berkualitas, memperbaiki tampilan dan membuat konten di website dan media sosial seperti Twitter, Linkedin, dan Instagram. Saya pun akan melakukan apapun demi menjaga kekayaan dan angsuran yang sedang saya ambil. Terlebih lagi, saya akan melakukan apapun demi mendapatkan kepercayaan dari siapapun.

Untuk menopang pemasukan tersebut, saya saat ini sedang mempelajari bisnis properti dan sedang berhubungan dengan salah satu leader di broker properti, dimana saya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Sama seperti tokoh Musa dan Harun dalam alkitab yang belum pernah melakukan penyelamatan sebelumnya, mereka percaya pada tuntunan Tuhan yang maha memberi dan menyediakan segala hal yang mereka perlu untuk memenuhi utusan tersebut.

I will go Lord, if you lead me.

Wish me luck, folks!

Baca juga:

Pin It on Pinterest

Shares
Share This