Percayalah.

Topik yang satu ini dijamin ngebosenin buat dibahas. Salah satu penyebabnya karena kita (yang masih muda) belum ada gambaran akan menjalani pensiun di usia berapa dan apa yang akan dilakukan setelah pensiun.

Please bear with me, this topic is really really important.

By default, pegawai di Indonesia akan menjalani masa pensiun sejak usia 55 tahun hingga 65 tahun. Namun tak menutup kemungkinan kalau kita masih diperkenankan untuk bekerja ketika sudah berusia 55 tahun. Kebijakan ini mengacu pada syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan.



Bagi sebagian orang, pensiun bisa jadi masa yang menakutkan. Ayah saya contohnya. Beliau mengalami ketakutan dan kecemasan luar biasa ketika memasuki usia pensiun. Sebagai pria, ia merasa cemas takkan mampu menopang kebutuhan hidup keluarga.

Di lain sisi, ia mungkin merasa khawatir karena ia memiliki penghasilan lebih rendah dari ibu. Jiwa insecurity beliau bergejolak dan menjadi lebih sensitif dan mudah marah.

Saya sering bertanya kepada beliau tentang apa yang akan ia kerjakan ketika sudah pensiun nanti. Ia lebih suka menggeleng dan terdiam tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Ia beralasan:

“Bapakmu ini tidak memiliki bakat dalam berdagang”

Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi beliau yang setiap harinya menghabiskan waktu di pabrik selama 8 hingga 12 jam, berurusan dengan alat kerja yang besar, serta bersenda gurau bersama rekan sejawat. Secara tiba-tiba, semua rutinitas itu terhenti. He feels clueless.

Pernah kala itu kantor beliau mengadakan pelatihan atau persiapan masa pensiun, dimana setiap peserta dibekali pengetahuan dan wawasan untuk memanfaatkan dana pensiun secara efektif dan efisien, seperti:

  • Beternak
  • Bercocok tanam
  • Membangun kost-kostan atau kontrakan
  • Berladang
  • Membeli franchise atau waralaba

dan banyak lagi materi yang berkaitan dengan keuangan dibahas dalam pelatihan tersebut. Beberapa dari peserta sukses memanfaatkan dana pensiun mereka, sementara yang lain harus bermuram durja akibat investasi bodong dengan iming-imging kaya dan sejahtera dalam waktu singkat.

Now we all know that Financial Literacy is so much important. Go home and tell your mum and dad about it!

Melalui 2 faktor diatas, saya menganggap bahwa persiapan dana pensiun bukanlah perkara sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Bila salah langkah, dana yang menggunung itu bisa ludes dalam waktu singkat.

Efek lainnya ialah kita tidak memiliki dana pensiun yang cukup untuk membayar biaya hidup dan tagihan atau tunggakan yang belum selesai.

Tentu sangat tidak enak, bukan?

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi pensiun?

Untuk menghadapi masa pensiun, pastikan kita telah menyisihkan cukup uang dengan beberapa pertimbangan di bawah ini:

  • Future Value atau kenaikan harga (inflasi) yang mungkin terjadi di masa depan.
  • Biaya hidup atau gaya hidup sehari-hari.
  • Utang, tunggakan atau sisa angsuran yang masih harus dilunasi.
  • Tanggungan yang menggantungkan kondisi finansial mereka kepada kita.
  • Kondisi fisik yang tak lagi prima untuk menghasilkan uang.

Beruntung di jaman now kita dapat menemukan partner yang dapat membantu kita dalam menyiapkan dana pensiun seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) atau BPJS Ketenagakerjaan.



Bila kita bekerja di perusahaan yang memiliki tunjangan ketenagakerjaan, kita akan diikutsertakan dalam program pensiun. Cara kerja program pensiun ini sangatlah sederhana. Dana Pensiun akan “disiapkan” oleh 2 pihak, yakni:

  • Anda sebagai pemilik yang berwenang atas Dana Pensiun.
  • Perusahaan tempat anda bekerja.

Secara singkat, 2 pihak tersebut akan mengisi “celengan” Dana Pensiun milik anda. Disadari atau tidak, penghasilan kita akan dipotong sekian % untuk mengisi celengan tersebut.

Gak percaya? Coba deh periksa slip gaji masing- masing.

Ketika waktunya tiba, seluruh uang yang berada dalam “celengan” tersebut menjadi milik anda yang dapat diklaim sesuai syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh DPLK.

Khusus nasabah BPJS Ketenagakerjaan, kita dapat mengunduh aplikasi BPJSTKU yang menyimpan bermacam informasi seperti:

  • Saldo akhir dana pensiun
  • Rekapitulasi pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan dan tenaga kerja.

Melalui aplikasi tersebut kita dapat memeriksa apakah “celengan” dana pensiun kita diisi oleh perusahaan atau tidak.

Bila di kantor tempat kita bekerja tidak menyediakan atau memiliki tunjangan Dana Pensiun, kita dapat pergi ke perbankan untuk mendapatkan informasi terkait produk keuangan yang mampu membantu kita mencapai target dana pensiun.

Salah satu produk keuangan milik perbankan yang sedang saya pelajari ialah BNI Simponi.

To be honest, Saya memang belum pernah mengalami pensiun. Namun berikut beberapa tips yang saya himpun dari berbagai sumber untuk menghadapi masa pensiun:

Tentukan kota atau daerah dimana kita akan menghabiskan masa pensiun

Solo? Boleh juga!

Gimana kalau probolinggo?

Bandung aja deh, sejuk!

Kota atau daerah memiliki Upah Minimum Regionalnya masing-masing. Tentu saja UMR Cikarang akan berbeda dengan UMR Jakarta, dan UMR Jakarta akan berbeda dengan UMR Solo.

Dengan menentukan kota atau daerah dimana kita akan menghabiskan masa pensiun, kita dapat menghitung biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari kala kita pensiun nanti.

Tentukan gaya hidup yang akan dijalani di masa pensiun nanti

Bila kita (yang masih muda ini) kerap menghabiskan uang sebesar Rp. 30,000 hingga Rp. 50,000 per hari untuk membeli minuman boba dan kopi-kopi kekinian, paling tidak kita harus menyiapkan uang sebesar Rp. 900,000 hingga Rp. 1,500,000 per bulan untuk segelas boba maupun kopi. Nominal tersebut belum termasuk future value di beberapa tahun ke depan.

Bila kita gemar melakukan traveling ke berbagai penjuru dunia, bayangkan bila kita masih tetap melakukannya disaat Dana Pensiun menipis dan jiwa raga tak lagi kokoh seperti dulu. Apa yang akan kita lakukan dalam masa pensiun nanti?

Gaya hidup memiliki peranan yang tak kalah penting dalam mengelola dana pensiun. Saya gak yakin seseorang dapat pensiun sejahtera dalam gaya hidup yang konsumtif. Kecuali ia memiliki pemasukan rutin setiap bulannya.

Saves for the rainy day!

Tentukan bagaimana kita akan menghasilkan uang di kala pensiun nanti?

Sebagian orang tidak memiliki opsi yang menyenangkan dalam menghabiskan masa pensiun. Saya terkadang menemukan orang-orang yang terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun mereka. 1 pertanyaan inti pada poin ini adalah:

Bagaimana kita akan menghasilkan uang?



Apakah kita akan menggunakan Dana Pensiun untuk mendirikan kontrakan, bedeng, kost-kostan dan sejenisnya? Apakah kita sudah paham dan mengerti resikonya? Apakah kita sudah melakukan survei pasar dan competitor di sekitar? Atau malah kita akan menempatkan Dana Pensiun tersebut kedalam Deposito dan mengandalkan bunga dari Deposito untuk bertahan hidup?

Setiap orang (wajib) punya perencanaan keuangan yang mengacu pada Risk Tolerance masing-masing. Risk Tolerance berarti standar resiko maksimal yang dapat kita ampuni. Dengan mengetahui Risk Tolerance, kita mampu memilah instrumen investasi apa yang cocok sesuai dengan kemampuan diri sendiri.

Siapkan dana pensiun sedini mungkin!

Pepatah yang berbunyi:

Riak air di tengah samudera mungkin menjadi tsunami di pesisir pantai

ada benarnya. Semakin dini menyiapkan dana pensiun, semakin besar pula dana yang dapat kita panen di masa pensiun nanti. Hal ini sesuai dengan prinsip di bawah ini:

  • Dibutuhkan modal yang besar dalam waktu yang sedikit untuk mendapatkan uang besar.

atau

  • Dibutuhkan waktu yang lama agar uang yang sedikit itu dapat berkembang dalam jumlah besar.

Bila kita memiliki dana atau modal yang terbatas, ada baiknya kita menyiapkan dana pensiun sedini mungkin, sehingga kita memiliki lebih banyak waktu bagi dana pensiun untuk berkembang semakin banyak.

Apakah anda sudah mulai menyiapkan dana pensiun dari sekarang?

Baca juga:

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com

Pin It on Pinterest

Shares
Share This