Ngomongin gaji emang gak bakal pernah abis dan selesai. Seusai ngomongin gaji, biasanya akan dilanjut dengan julid dan ghibah kolektif secara offline maupun online.

Sebut saja salah satu pertanyaan pada situs Quora di bawah ini:

Pertanyaan tersebut telah diikuti oleh 208 akun dan memperoleh lebih dari 100 jawaban. Maha dashyat rasa ingin tahu netijen Indonesia!

Contoh lainnya saya ambil dari salah satu situs daring yang penggunanya cenderung memamerkan dan berkolaborasi dalam mewujudkan kemiskinan bersama, yakni Twitter.

Jawaban yang disajikan pun bervariatif. Mulai dari nominal yang fantastis hingga di bawah UMR, hampir dapat kita jumpai di situs manapun yang membahas tentang gaji.

Namun satu hal yang tidak boleh lepas dari benak kita ialah:

“Di Internet, kita bisa menjadi siapa saja”

Yes! Di Internet kita bisa mengaku sebagai Chief Executive Offficer (CEO),. Kita juga bisa mengaku sebagai Hacker, Cracker, Data Enthusiast, Tech Marketer, apapun itu dengan label yang dianggap keren. Padahal kehidupan sesungguhnya ada di dunia nyata, sebuah tempat dimana kita berinteraksi dan bertatap muka dengan orang lain.

Setelah membaca kolom komentar dan jawaban pada konten tersebut, mungkin kita akan merefleksikan dimana posisi kita. Apakah kita berada di kalangan teratas, atau malah berada di kalangan terbawah.

Bila kita merasa di posisi atas, kita mungkin merasa lega kalau masih ada orang yang di bawah kita, sementara orang yang berada di posisi bawah, merasa minder dan malu dengan penghasilan yang telah diperoleh dengan susah payah.

Well, it’s a matter of perspective, right?



Berikut beberapa cara agar tetap fokus dan tidak malu dengan penghasilan bila menjumpai konten2 serupa lainnya:

Syukuri berapapun hasil yang diperoleh (dengan cara yang benar dan halal)

Saya yakin tidak semua orang bekerja dan membangun kekayaan dengan cara yang benar dan halal. Biarlah itu menjadi rejeki dari cara masing-masing orang dalam mencari uang.

Sebagian orang mungkin lebih memilih mengorbankan nilai dan norma yang ditanamkan sejak kecil dengan susah payah oleh orang tua dan lingkungan demi sejumlah uang yang tak seberapa, sementara yang lain memutuskan untuk hidup memegang teguh prinsip atas nilai dan norma yang telah ditanamkan dalam keluarga serta meninggalkan uang “panas” yang konon membuat hidup tak nyaman.

Pertama kita harus mensyukuri semua berkat dan rejeki yang kita terima. Saya merupakan salah satu orang yang percaya kalau rejeki akan kabur bila kedatanganya tak diterima dengan kepala dingin, hati yang bersyukur dan tangan yang terbuka.

Bila kita seorang pedagang, kita tidak perlu minder dengan keuntungan Rp. 500 hingga Rp.1000 per unit yang kita jual. Seiring berjalannya waktu, harga akan meningkat dan kepercayaan orang terhadap bisnis kita akan meningkat. Dengan demikian, orang-orang akan lebih percaya dan “menitiipkan” lebih banyak uang pada kita. Bukan tidak mungkin mereka akan merekomendasikan bisnis kita kepada network mereka yang dipercaya untuk mengelola lebih banyak uang.



Bila kita seorang pegawai, kita tidak perlu minder dengan penghasilan yang pas-pasan maupun di bawah UMR. Dibalik penghasilan yang besar terdapat tanggung jawab besar. Mungkin kita belum mendapatkan penghasilan yang layak karena kualitas dan kualifikasi kita yang belum memadai untuk mendapatkan posisi tersebut.

Penghasilan kita, terserah kita!

Tentu saja kita gak bisa membandingkan diri kita yang memiliki tanggungan seperti:

  • Anak
  • Orang tua
  • Adik
  • Saudara
  • dan orang lain yang menggantungkan kondisi finansial mereka kepada kita

dengan orang lain. Mungkin saja orang lain memiliki penghasilan yang besar karena ia memiliki Tanggungan yang tidak sedikit, sementara kamu yang kerjanya rebahan dan hanya menanggung diri sendiri saja banyak mengeluh dan ghibah.

Ketika membaca konten seperti di atas, kita hanya tahu bagaimana cerita orang-orang yang menjawab / berpartisipasi pada konten tersebut saat ini. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kegigihan, keuletan, kerja keras dan kedisiplinan mereka dalam mengubah nasib.

Jadi kalo mau iri, lebih baik iri dengan semangat dan tekad mereka dibandingkan jumlah uang yang mereka hasilkan dan pamerkan dalam media sosial dan Internet.

Mengelola uang adalah kunci utama!

Saya sering menganalogikan kita semua sebagai pemanah. Orang-orang dengan penghasilan besar memiliki lebih banyak anak panah dibandingkan dengan orang-orang dengan penghasilan kecil. Namun, bukan berarti orang-orang dengan penghasilan besar mampu melesatkan anak panah tepat di titik tengah (bullseye) dari target.

Di lain sisi, bukan berarti orang-orang dengan penghasilan kecil tidak mampu melesatkan anak panah di titik tengah. Orang-orang dengan penghasilan minim memang tidak memiliki banyak opsi. Maka dari itu, make it count!



Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang Net Worth. Net Worth merupakan jumlah kekayaan yang kita miliki. Seseorang dengan penghasilan UMR bisa jadi memiliki Net Worth lebih besar dibandingkan dengan seseorang berpenghasilan UMR dengan utang, tagihan, dan angsuran yang tak kunjung selesai.

So it’s not always about how much money that you make. It’s more like how much money that you can manage.

Kalau kita bisa hidup dan survive dengan penghasilan UMR, sudah pasti kita bisa hidup dan survive dengan penghasilan 2x, 3x, hingga 5x dari UMR. Sebaliknya, orang yang bisa hidup dan survive dengan penghasilan 2x, 3x, hingga 5x dari UMR belum tentu bisa hidup dan survive dengan penghasilan 1x UMR atau bahkan 0.5x UMR.

Singkatnya ialah, bila kita bisa hidup dan survive dengan mengandalkan penghasilan sebesar 1x UMR, kita hanya membutuhkan uang sebesar 1x UMR untuk hidup. Sisanya dapat ditabung/diinvestasikan ketika kita berkesempatan memiliki kenaikan penghasilan nantinya.

Happy exploring the Internet dan jangan mudah termakan atau terprovokasi dengan apapun yang ada di Internet. Keindahan dalam hidup kita akan hancur bila kita membandingkannya dengan kehidupan orang lain.

Baca juga:

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com

Pin It on Pinterest

Shares
Share This