Bisnis di jaman teknologi seperti sekarang, sepertinya tidak banyak berubah dibanding tahun 90an silam dimana pasar tradisional dan bisnis retail sedang prima. Saya ingat ketika saya kecil, saya pergi menemani ibu pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur dan bumbu memasak. Kami pergi menggunakan taksi. Untuk dapat menggunakan taksi, saya perlu memesannya via telepon ke outlet Blue Bird setempat.

Cara lainnya ialah dengan pergi ke Rumah Sakit atau pusat perbelanjaan dimana taksi blue bird biasa mangkal, dan memangilnya ke rumah.

Di jaman sekarang, saya yakin dan percaya kalau orang – orang masih ada yang pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, namun semuanya dilakukan dengan cara yang berbeda.

Maha dashyat bisnis man in the middle

Kehadiran bisnis man in the middle seperti Gojek dan Tokopedia secara perlahan mengubah cara berbelanja kita yang konvensional menjadi modern. Dengan menggunakan smartphone dan uang elektronik seperti Gopay, kita dapat membeli apapun, kapanpun, dan dimanapun selama saldo uang elektronik masih tersedia.

Man in the middle berarti bisnis yang muncul diantara produsen dan konsumen, serta menjembatani mereka dalam melakukan transaksi / bisnis.

Ketika tahun 90an silam kita harus mengunjungi dan berpindah dari 1 toko ke toko lainnya untuk mendapatkan harga dan penawaran terbaik, kini kita dapat mengunjungi Tokopedia maupun Telunjuk untuk mendapatkan harga dan penawaran terbaik.

Di tahun 90an kita harus mencari taksi atau menghubungi outlet setempat untuk memesan taksi, kini kita dapat membuka aplikasi Gojek untuk memesan jenis kendaraan yang dibutuhkan.

Sepak terjang bisnis Man in the middle tidak berhenti sampai disini. Ia harus berkembang, berinovasi, agar konsumen bergantung kepada mereka. Hal ini bisa dibuktikan dengan kehadiran 900,000 mitra Gojek (and counting) serta 15,000,000 konsumen yang sangat bergantung dalam menggunakan aplikasi Gojek.

Hebatnya lagi, Gojek meluncurkan Go-Pay sebagai metode pembayaran yang digunakan oleh konsumen maupun mitra dalam bertransaksi dalam aplikasi Gojek.

Jumlah mitra dan konsumen yang begitu masif akan menjadi efek snowball yang melaju kencang tanpa bisa dihentikan. Bila mitra Gojek melakukan mogok kerja, 15,000,000 konsumen akan dirugikan. Bila 15,000,000 konsumen Gojek berpindah ke platform lain (seperti Grab), maka 900,000 mitra Gojek akan kehilangan pendapatan.

Dalam hal ini, tugas Gojek ialah menjaga keseimbangan antara supply dan demand dengan mengandalkan teknologi canggih yang menopang operasional mereka.

Inti dari bisnis Gojek ialah logisik dan transportasi manusia, namun ia tetap dapat meraup keuntungan meski tidak memfasilitasi mitranya dengan sepeda motor.

Sisi negatif dari efek Snowball tersebut ialah Gojek memiliki kuasa dan otoritas penuh dalam menentukan tarif serta revenue sharing atas mitra dan merchant.

Dugaan saya ialah ketika mitra Gojek sudah mencapai over supply, ia memiliki otoritas untuk menekan tarif dasar per Kilometer (KM). Mitra Gojek yang tidak setuju dengan kebijakan ini dapat memutuskan hubungan sebagai mitra Gojek. Artinya, ia tidak dapat meraup keuntungan dari pengguna dan pasar yang diciptakan oleh Gojek.

Now it’s time to be more independent!

Berdasarkan cerita ngarang di atas, kita dapat mengetahui betapa hebatnya bisnis Man in the middle. Ia mengumpulkan seluruh supply dan demand di satu wadah, kemudian menerapkan harga dan skema revenue sharing yang dianggap layak dan pantas. Deal with it!

Melalui artikel ini, saya ingin berbagi perspektif tentang kanal yang mungkin mendatangkan keuntungan tambahan bagi tukang ojek di masa kini:

Bermitra dengan Gojek

Bila anda sudah bermitra dengan Gojek, silakan lanjut membaca ke poin selanjutnya. Gojek merupakan salah satu kanal yang dapat diterapkan bagi pemilik kendaraan motor maupun mobil dalam mendapatkan keuntungan. Gojek memiliki 2 cara dalam melakukan revenue sharing bagi mitranya, yakni:

  • Mengantarkan manusia / produk / makanan.
  • Advertising atau iklan.

Berlangganan kartu keanggotaan

Saya yakin tim data Gojek Indonesia mengetahui kalau 2 produk yang sering saya gunakan dalam aplikasi Gojek ialah Go-Food dan Go-Ride. Berdasarkan transaksi secara historis, saya yakin mereka pun tahu makanan apa yang sering saya pesan melalui Go-Food, Chatime!

Mitra Gojek dapat menambah pemasukan dengan memiliki kartu keanggotaan Chatime. Mitra Gojek hanya perlu menunjukkan kartu keanggotaan Chatime saat membeli produk Chatime berdasarkan pemesanan Go-Food. Biasanya, vendor akan memberikan imbal balik kepada pembeli dalam bentuk:

  • Cashback
  • Loyalty Point

Imbal balik tersebut dapat digunakan oleh Mitra Gojek untuk berbelanja di masa depan.

Dengan kata lain, Mitra Gojek mendapat cashback atau Loyalty Point untuk setiap transaksi yang dilakukan oleh konsumen Go-Food.

Smart, isn’t it?

Menjadi tukang ojek independen

Cara lain yang dapat ditempuh untuk mendapatkan penghasilan sampingan ialah dengan menjadi tukang ojek independen. Tukang ojek independen ini berbeda dengan ojek pangkalan yang hanya duduk menganggur di suatu tempat menyaksikan orang (demand) berlalu – lalang menggunakan jasa transportasi perorangan.

Mayoritas dari penumpang tersebut lebih memilih menggunakan Gojek dibanding Ojek Pangkalan dikarenakan beberapa faktor seperti:

  • Identitas pengemudi yang tidak jelas
  • Tidak ada standar keamanan dalam berkendara
  • Harga ditagih sering diluar dari kesepakatan.

Berdasarkan cuitan di atas, seorang driver Gojek dapat mengangkut hingga 19 penumpang per harinya. Artinya ia telah bertemu dan berkomunikasi dengan 570 orang setiap harinya selama sebulan penuh. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan Ia dapat memasarkan produk lain kepada 570 orang selama sebulan.

Setelah berkenalan dengan penumpang, tawarkan produk asuransi dan segera bertukar nomor whatsapp untuk kesempatan bisnis yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Saya merekomendasikan untuk menjadi agen asuransi sekaligus driver Gojek karena keduanya merupakan pekerjaan dengan waktu yang tidak terikat serta komisi yang berlaku seumur hidup selama nasabah berlangganan produk asuransi.

Sambil nyetirin orang, sambil tawarin asuransi.

Mengapa poin di atas akan berhasil?

Bisnis tidak mungkin berjalan tanpa adanya kepercayaan. Bisnis ojek online dengan ojek pangkalan memang serupa, namun tidak sama. Semua orang bisa menjadi ojek pangkalan, namun tidak semua orang bisa menjadi ojek online. Privileges sebagai ojek online inilah yang membedakan ojek pangkalan dengan ojek online dari beragam sudut pandang:

  • Standar keamanan dalam berkendara
  • Kelayakan kendaraan bermotor
  • Identitas dan rekam jejak (rating) yang transparan.
  • Tarif yang transparan di awal pengantaran.

Artinya, mitra ojek online dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan lebih untuk menjadi mitra ojek online.



Ide yang saya ceritakan diatas masih Proof of Concept sehingga mungkin tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Namun bila cara di atas berhasil, anda mungkin menjadi orang pertama yang melakukan hal ini dan dapat membagikan pengalaman anda ke rekan – rekan mitra ojek online lainnya. Dengan demikian sekali dayung dua pulau terlampaui.

Baca juga:

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com

Pin It on Pinterest

Shares
Share This