Kalimat add to cart merupakan istilah yang tidak asing bagi mereka yang senang dan gembar berbelanja secara daring. Semenjak E-Commerce dan Marketplace menjamur di Indonesia, saya lebih sering menghabiskan waktu (dan uang) saya bertransaksi di Toko Daring ketimbang di Toko Offline.

Saya pribadi lebih menyukai berbelanja secara daring dibandingkan offline dengan beberapa pertimbangan berikut ini:

  • Tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi dan transportasi.
  • Tidak perlu membawa barang belanjaan secara repot ke rumah.
  • Tidak perlu bayar parkiran.
  • Lebih mudah untuk mendapatkan harga yang termurah sesuai budget yang telah disiapkan.
  • Bervariasi diskon, cashback, hingga promo gratis ongkos kirim ditawarkan oleh Toko Daring terutama saat Harbolnas.
  • Fasilitas pembayaran yang flexibel.

Kehadiran E-Commerce dan Marketplace inilah sering dituduh sebagai penyebab lesunya bisnis retail secara offline.

Namun, saya pribadi tetap membutuhkan toko offline sebelum akhirnya saya memutuskan untuk membeli barang yang dibutuhkan.

Begini ceritanya:

Temukan barang yang diinginkan

Beberapa bulan lalu saya sedang mencari speaker Bluetooth. Setelah menyaksikan beberapa review di Youtube, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada speaker Bluetooth Sony SRS dan JBL Flip 4. Salah satu alasan mengapa saya mempertimbangkan 2 produk tersebut ialah kualitas suara yang jernih dengan dimensi yang portabel sehingga bisa dibawa kemana pun tanpa membutuhkan banyak ruang.

Setelah mencatat merk dan jenis speaker, saya pun pergi ke toko offline untuk menguji

Temukan pengalaman berbeda di toko offline!

Sesampainya di toko offline, saya langsung pergi ke gerai yang menjual 2 produk tersebut. Alih – alih sedang mencari 2 speaker di atas, saya langsung dilayani dengan ramah oleh pelayan di masing – masing gerai. Saya pun dapat langsung memperkirakan dimensi seperti:

  • Panjang speaker
  • Kualitas suara
  • Kelengkapan speaker
  • dan pertimbangan lain yang dibutuhkan.

Setelah melakukan benchmarking dan mendapatkan informasi lebih lengkap terkait 2 produk tersebut dari pelayan toko, saya pun pulang ke rumah dengan tenang sambil berdoa bahwa saya tidak memilih produk yang salah.

Waktunya berbelanja!

Setelah menentukan produk yang ingin dibeli dan sesuai dengan kebutuhan, kini waktunya berbelanja di toko daring.

MUEHEHEHEHEHEHEHEH~

Banyak orang beranggapan bahwa harga suatu produk di toko daring jauh lebih murah dibandingkan harga produk di toko offline, yang mana hal ini masuk akal buat saya.

Toko daring tidak perlu menyewa tenant di Mall, ia tidak perlu mempekerjakan pelayan dan kasir agar gerai dapat beroperasi. Ia juga tidak perlu membayar beban listrik, air, internet, dan bervariasi beban lain yang mungkin dikenakan agar gerai dapat beroperasi secara normal di Mall.

Biaya yang terpangkas ini (mungkin) menjadi salah satu penyebab mengapa harga produk di toko daring lebih murah dibanding toko offline.

Sebagai contoh, pada gerai Sony di Mall Kota Kasablanka menawarkan harga Rp. 1,000,000 untuk speaker Sony SRS XB yang saya cari. Namun, saya bisa hemat hingga Rp. 400,000 bila membelinya di toko daring yang menjual dengan harga Rp. 600,000.

Sesampainya di rumah, saya hanya perlu membuka Telunjuk untuk membantu saya menemukan produk yang diinginkan sesuai preferensi saya. Telunjuk merupakan sebuah mesin pencari yang dapat membantu penggunanya dalam memilih produk sesuai preferensi pengguna.

Sebagai sobat misqueen, saya senantiasa mengurutkan produk berdasarkan harga terendah. Telunjuk akan memberikan informasi di toko daring mana saya dapat menemukan produk yang dicari dengan harga terbaik. Selanjutnya saya akan bertransaksi dan melakukan pembayaran di toko tersebut.

Mudah dan hemat, bukan?

Demikian cara (cerdik bagai ular) saya dalam bertransaksi di toko daring. Semoga bermanfaat buat pembaca.

DON’T TRY THIS AT HOME!!!!!

Baca juga:

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com

Pin It on Pinterest

Shares
Share This