Sedih rasanya bila mendengar kata orang kalau Millenial akan kesusahan untuk memiliki rumah atau tempat tinggal. Padahal rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok yang wajib dimiliki oleh manusia untuk dapat hidup nyaman dan bertahan hidup. Tapi, ancaman homeless generation ini kelak akan menjadi kenyataan bila tidak disikapi secara serius.

Meski tergolong kedalam kategori Millenial, saya berhasil mematahkan stereotype dan ghibahan tentang Millenial yang tidak memiliki rumah. Saya telah membeli rumah pertama saya ketika saya berusia 26 tahun di wilayah antah berantah yang saat ini hanya bisa ditempuh melalui jalur KRL dan membutuhkan waktu 90 menit untuk sampai ke Tanah Abang. Namun saya hanyalah seorang diri dari banyak generasi Millenial di luar sana yang kesulitan untuk memiliki Rumah.

Pada artikel ini saya telah membagikan beberapa pertimbangan sebelum seseorang memutuskan untuk membeli rumah. Saya sarankan pembaca agar membaca tautan tersebut sebelum membaca artikel ini lebih jauh, supaya kita satu frekuensi, hehehehehe.

Pada artikel tersebut kita banyak membahas soal uang, dan uang tidak jauh dari gaya hidup. Idealnya, seseorang harus bergaya hidup lebih rendah dari penghasilan. Faktanya, orang – orang justru bergaya hidup lebih tinggi dari penghasilan. Alhasil, ngutang dulu yaaachh cyiinnn di Kredivo

Saya harus mengakui kalau gaya hidup saya berbeda dari Millenial kebanyakan yang sering jalan – jalan ke luar negeri, atau sekedar ngopi – ngopi di warung kopi kekinian. Hidup saya jauh dari itu sehingga lebih banyak uang yang ditabung (?)

Berikut beberapa dana yang perlu dirampingkan bagi Millenial untuk dapat menghemat uang dan membeli rumah seperti saya:

Diem diem bae, ngopi napa ngopi!”

First, i am more into a Tea than Coffee. Sering buka PO Chatime, Gulu2, dan sejenis biar hemat ongkir dengan teman – teman, tapi bukan berarti harus membelinya setiap hari.

Well sebagian orang mungkin tidak bisa memulai hari mereka tanpa ngopi. Orang – orang seperti ini perlu memperhatikan pengeluaran untuk kopi tersebut. Bila setiap hari ngopi di Starbucks membutuhkan uang Rp. 45,000 untuk segelas kafein, maka kita perlu menyiapkan uang sebesar hampir Rp. 1,500,000 sebulan hanya untuk ngopi.

Tambahin Rp. 700,000 lagi udah dapet 1x angsuran rumah sebulan.~

Pengeluaran tersebut tentu dapat dihemat dengan tidak ngopi sama sekali dan fresh money Rp. 1,500,000 bisa ditabung. Mengurangi jumlah dana untuk ngopi dengan membeli kopi yang lebih murah bisa jadi salah satu alternatif.

Mobil (mevvah)

Duh.

Di jaman teknologi dan serba cepat sekarang, saya justru malas untuk memiliki Mobil dengan beberapa pertimbangan di bawah ini:

  • Belum memiliki tanggungan.
  • Transportasi umum sangat mudah diakses.
  • Malas terjebak macet di jalanan ibu kota.
  • Kesulitan mencari parkiran mobil di Mall Jakarta
  • Tidak ingin mengeluarkan uang lebih banyak untuk perawatan mesin, asuransi, parkir mobil, hingga pajak kendaraan bermotor.
  • Nggak gengsian.

Peer pressure memang benar adanya. Ketika teman – teman sering bertanya kepada saya:

Kapan beli mobil oe?

Saya hanya bisa menggeleng tidak tahu, karena memang bukan itu yang prioritas saya saat ini.



Clubbing

Work hard party harder”. Kira – kira demikian kata anak Millenial yang hobi kongkow dan nongkrong dengan teman hingga larut malam. Kegiatan ini biasanya dilakukan setiap weekend dan jumat malem after office dan acap kali jadi bagian dari social life dari masing – masing individu.

Bagian yang paling seru dari Clubbing ialah kita tidak ingin terlihat kere dan cupu di hadapan teman -teman sebaya. Alhasil, clubbing seringkali jadi kompetisi dalam membakar uang masing – masing. Peer pressure exist!

Hey, mind your budget biar gak keteteran di akhir bulan!

Quit smoking, puhleaaase~

Seriously. Bila anda merupakan perokok aktif, maka anda telah mengalami 2x kerugian untuk setiap batang rokok yang dihisap, seperti:

  • Kerugian finansial
  • Kerugian jasmani

Kita semua tahu bahaya yang mungkin timbul akibat rokok, bukan?

Saya sendiri tak habis pikir mengapa ada orang yang rela membayar dan mengeluarkan uang yang dikumpulkan secara bersusah – payah hanya untuk menyakiti diri mereka sendiri (beserta keturunannya)?

Jika seorang perokok aktif dapat menghabiskan 1 bungkus rokok setiap harinya (24 jam) dan 1 bungkus rokok tersebut berharga Rp. 22,000, maka ia perlu menyiapkan uang sebesar Rp. 660,000 setiap bulan untuk merusak organ tubuh mereka sendiri. Fiuh.

Demikian beberapa hal negatif yang sering membebani keuangan kita kaum Millenial secara terselubung. Pengeluaran diatas tidak perlu dihentikan secara permanen dan mungkin mengakibatkan shock karena perbedaan gaya hidup.

Mungkin ada baiknya bila pengeluaran diatas dikikis atau dikendalikan hingga jumlahnya masih dalam batas wajar dan menjaga cashflow agar tetap positif.

Baca juga:

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com

Pin It on Pinterest

Shares
Share This