Sebagian orang enggan membahas apa yang akan dijelaskan dalam artikel berikut ini, namun nilai ekonomi seseorang merupakan komponen penting dalam merencanakan keuangan.  Singkatnya, artikel ini akan membahas salah satu hal yang tabu bagi kita semua, yakni tentang berapa banyak uang yang dihasilkan oleh seseorang.

Saya pernah menulis artikel tentang Uang Pertanggungan dalam asuransi jiwa pada blog ini. Pembaca dapat membacanya kembali melalui tautan berikut ini. Artikel ini akan berkaitan erat dengan apa yang dibahas dalam artikel Uang Pertanggungan tersebut sehingga saya merekomendasikan pembaca untuk membacanya terlebih dahulu sebelum membaca artikel ini.

Kita mungkin pernah melihat orang – orang di sekeliling kita, entah mereka adalah sanak saudara, teman kampus, kolega, teman kantor, mantan bos, mantan gebetan, mantan pacar dan lain sebagainya yang berpenampilan mewah dan berkelas. Kemudian kita bertanya – tanya berapa banyak uang yang mereka dapatkan setiap bulannya. Filosofi gunung es memang paling pas untuk menggambarkan situasi dimana seseorang yang berpenampilan mewah, dan elegan dengan jumlah hutang yang fantastis dan tak terbayar. Ketahuilah kisanak, bahwa menghitung nilai ekonomi seseorang tidak sama dengan menilai berapa banyak uang yang dihasilkan orang tersebut.

Nilai ekonomi tidak sama dengan berapa banyak uang / penghasilan yang diterima setiap bulan.

Jika seseorang memiliki penghasilan Rp. 5,000,000 per bulan, maka tidak serta merta bahwa ia memiliki nilai ekonomi sebesar Rp. 60,000,000 per tahun. Kita harus menghitung berapa banyak hutang yang ia miliki sebelum dapat mengambil kesimpulan berapa nilai ekonomi sesungguhnya yang ia miliki.

Jika seseorang berpenghasilan Rp. 5,000,000 dan memiliki hutang atau cicilan sebesar Rp. 3,000,000 selama 12 bulan, maka nilai ekonomi yang ia miliki selama 12 bulan tersebut hanya sebesar Rp. 24,000,000 per tahun atau setara dengan Rp. 2,000,000 per bulan. Hal ini disebabkan oleh adanya hutang / angsuran yang sedang diangsur oleh orang tersebut. Lain ceritanya bila seseorang tidak memiliki hutang / angsuran, maka nilai ekonominya meningkat drastis hingga Rp. 60,000,000 per tahun.

Mengapa hutang harus menjadi prioritas utama untuk dilunasi?

Saya cukup sering membaca buku dan menonton video yang berkaitan tentang personal finance. Baik buku dan video tersebut menyarankan agar seseorang lebih dahulu melunasi hutang yang ada sebelum mengalokasikan uang yang dimiliki kedalam pos yang lain. Sebab hutang yang dibiarkan terlalu lama tidak dilunasi akan membentuk bola salju yang semakin besar dari waktu ke waktu. Apalagi hutang yang diperoleh dengan mengajukan pinjaman secara online. Bunganya beranak pinak dan berkembang biak cepat sekali bro!

Dalam menentukan nilai ekonomi, kita juga dapat mencari tahu rasio besar hutang yang dimiliki dengan membagi jumlah hutang dengan penghasilan setiap bulan. Pada contoh kasus diatas, maka orang tersebut memiliki rasio hutang sebesar 60%. Artinya 60% dari uang yang dihasilkan setiap bulan akan dialokasikan untuk membayar hutang dan hanya mengandalkan sisanya (40%) untuk bertahan hidup. Rasio hutang yang baik berada di angka maksimal 20%. Semakin rendah rasio hutang yang dimiliki, semakin positif pula arus kas (cashflow) yang dimiliki. Sangat disarankan bagi kita semua untuk memiliki hutang baik dengan rasio hutang serendah mungkin dengan jangka pembayaran yang singkat.

Setelah menemukan nilai ekonomi, maka kita dapat merencanakan berapa banyak uang yang dapat diperoleh dalam jangka waktu tertentu. Pada contoh kasus diatas, seseorang yang berpenghasilan Rp. 5,000,000 akan memiliki uang sebesar Rp. 60,000,000 pada bulan ke 12 bila ia tidak memiliki hutang dan ia akan memiliki uang sebesar Rp. 24,000,000 pada bulan ke 12 dengan hutang yang ada.

Nah setelah mengetahui ini, mungkin pembaca wanita ingin mengubah pertanyaan mereka kepada calon suami dari semula:

“Berapa gaji abang saat ini?”

menjadi:

Berapa nilai ekonomi yang abang miliki saat ini?”

Hehehehehe

Baca juga:

Pin It on Pinterest

Shares
Share This