Berbicara tentang hutang, mungkin hampir setiap orang diantara kita pasti pernah berhutang. Dimulai dari nominal paling kecil ketika kita sekolah dulu, hingga berhutang dalam nominal besar. Mungkin pembaca pernah meminjam uang teman untuk jajan maupun makan siang. Berhutang dengan orang lain tidak sama dengan berhutang dengan Bank apalagi “rentenir online” yang sering dikenal sebagai P2P Online. Ketika seseorang berhutang dengan orang lain, umumnya tidak dikenakan bunga dan tidak adanya proses BI Checking sehingga proses pengajuannya lebih cepat.

Akui saja kalau di jaman teknologi dan globalisasi seperti sekarang, konsumen semakin dipermudah untuk berhutang. Kalau orang tua jaman dulu lebih memilih untuk menabung sebelum membeli sesuatu secara tunai, justru generasi saat ini (Millenial dan adik – adiknya serta keturunannya) malah dipermudah untuk berhutang. Coba lihat hape / smartphone pembaca, apakah sudah lunas? Jika belum, maka bisa dipastikan pembaca sedang terjerat hutang.

Kalau orang tua jaman dulu harus mengunjungi rumah satu per satu atau menghubungi sanak saudara satu per satu untuk mendapatkan pinjaman, jaman sekarang “rentenir” justru bergerak cepat dan mendatangi konsumen secara online maupun offline untuk berbisnis dan menawarkan pinjaman.  Namun,  apakah pembaca sudah tahu bahwa tidak selamanya hutang bersifat negatif?

 

Mengenal hutang baik dan jahat.

Hutang sama seperti bakteri. Ada yang baik dan ada yang jahat. Kalau bakteri baik berfungsi untuk memperbaiki dan membantu tubuh, bakteri jahat justru malah memperbaiki dan merusak tubuh. Begitu pula dengan hutang.

Umumnya hutang baik merupakan hutang / tagihan yang peruntukannya untuk mengembangkan uang. Secara teori memang dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang. Namun bagaimana bila seseorang tidak memiliki uang untuk mengembangkan uang? Tentu saja orang tersebut dapat berhutang untuk mendapatkan uang tersebut. Beberapa hutang baik yang mungkin terjadi di sekitar kita ialah:

  • Berhutang untuk membayar biaya pendidikan
  • Berhutang untuk modal usaha
  • Berhutang untuk membeli properti
  • Berhutang untuk berinvestasi.

Hutang jahat merupakan hutang / tagihan yang peruntukannya untuk gaya hidup konsumerisme dan tidak mendatangkan uang di masa mendatang, seperti:

  • Membeli kendaraan bermotor
  • Membeli pakaian
  • dan banyak lagi gaya hidup konsumerisme yang mungkin dilakukan secara sadar maupun tidak oleh pembaca. Hehehe

Resiko akan tetap ada bagi mereka yang berhutang baik maupun jahat. Menempuh pendidikan hingga ke jenjang atas tidak menjamin seseorang akan sukses. Bisnis dan usaha tidak selamanya akan mulus dan tetap ada resiko bangkrut. Berinvestasi tidak menjamin akan senantiasa untung. Kalau pun untung, maka perlu diperhitungkan mana pengembalian uang yang lebih besar dibandingkan bunga dari hutang yang semakin menggulung. Ugh. . .

 

Menumpuk hutang baik tidak berarti baik untuk dilakukan

Bersahabat dengan hutang baik tak selamanya baik lho. Sebelum berhutang, pastikan pembaca telah menghitung rasio hutang yang dimiliki dengan rumus di bawah ini:

Jumlah hutang atau cicilan per bulan / Jumlah pemasukan setiap bulan

Bila kita memiliki hutang atau cicilan sebesar Rp. 2,000,000 per bulan dari penghasilan sebesar Rp. 4,000,000, itu artinya sebesar 50% dari penghasilan pembaca sudah habis untuk membayar hutang dan mengandalkan 50% sisanya untuk bertahan hidup. Hal ini sangatlah tidak sehat karena menurut buku yang saya baca, semakin kecil rasio hutang yang dimiliki, maka semakin positif cashflow kita. Namun, bila kita mampu membeli secara tunai, mengapa harus berhutang, ya kan?

 

Baca juga:

Pin It on Pinterest

Shares
Share This